Sedih, Pandemi COVID-19 Bikin 22 Juta Pekerjaan Hilang

Ilustrasi pencari kerja. (F:net)

JAKARTA (marwahkepri.com) – Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan (OECD) menyebut sebanyak 22 juta pekerjaan di negara maju hilang akibat pandemi COVID-19.

Dalam rilis yang tertulis di laporan prospek ketenagakerjaan tahunan Mei 2021, pengangguran di antara negara-negara OECD turun menjadi 6,6 persen namun angka ini masih 1 persen di atas tingkat pra-pandemi.

Sementara itu, dari 22 juta pekerja yang menganggur di seluruh negara OECD, 8 juta dianggap ‘benar-benar kehilangan pekerjaan’. Sementara 14 juta lainnya dianggap sedang ‘tidak aktif’.

OECD menuliskan bahwa ancaman meningkatnya tingkat pengangguran jangka panjang ini diakibatkan banyaknya pekerjaan berketerampilan rendah yang terlantar dalam pandemi.

“Banyak pekerjaan yang telah hilang selama krisis pandemi ini tidak akan pulih,” ujar Kepala Divisi Pekerjaan dan Pendapatan OECD, Stephane Carcillo, dalam konferensi pers seperti dilaporkan¬†CNBC International,¬†Kamis (8/7/2021).

Lebih lanjut, OECD juga menyebut bahwa kelompok usia muda cenderung terkena dampak yang lebih buruk daripada populasi pekerja dewasa.

“Bekas luka bisa dirasakan untuk waktu yang lama bagi kaum muda dalam hal pekerjaan dan upah,” kata Direktur Urusan Ketenagakerjaan, perburuhan dan sosial OECD Stefano Scarpetta.

Untuk mengatasi hal ini, Scarpetta menyarankan agar langkah-langkah yang lebih besar diambil untuk berinvestasi pada kaum muda dengan beberapa program keterampilan misalnya melalui magang dan pelatihan

“Pesan utamanya adalah kita harus melakukan yang lebih baik kali ini. Kita tidak bisa membiarkan orang muda terkena dampak yang begitu parah,” katanya.

Selain itu, ia menyebut munculnya pekerjaan jarak jauh juga dapat menjadi titik terang dari permasalahan pengangguran ini. Tetapi masih banyak PR yang harus diselesaikan pemerintah negara-negara dunia.

“Potensi kerja jarak jauh lebih luas, namun, tantangan aksesibilitas tetap harus diatasi, baik dalam hal siapa yang dapat bekerja dari jarak jauh maupun sumber daya yang diperlukan untuk melakukannya,” ujarnya.

“Jika tidak, itu mungkin menjadi perpecahan di pasar tenaga kerja.” tutupnya. (mk/cnbc).

Print Friendly, PDF & Email