KOLOM | Etika Palsu

Ilustrasi: liisbeth.com

Oleh Muhammad Natsir Tahar

Pertama sekali setiap bangsa wajib bangga karena tercatat dalam statistik negara. Negara adalah kata benda abstrak. Ia tinggal di dalam imajinasi kita. Ia dibentuk dari fantasi dan angan-angan, sebuah rumah raksasa yang dihuni bersama. 

Negara dibangun dari tonggak-tonggak kecemasan dan pidato-pidato. Banyak negara dikandung di dalam rahim perang dan penjajahan, lalu lahir saat perang usai. Setiap negara lahir, ibunya mati. Negara diasuh oleh bapaknya, negara dibesarkan dengan maskulinitas, dengan kejantanan spartan untuk mengokang senjata sewaktu-waktu.

Setelah negara terbentuk, kecemasan terus berlanjut. Terlalu besar yang harus dibayar untuk sebuah kecurigaan. Maka setiap negara memperkuat tentara dan alat perangnya, tak terhitung berapa yang sudah dihabiskan. Homo homini lupus est,_ manusia adalah serigala bagi sesamanya_ sebuah sabda Plautus yang abadi. Jika direnung-renung, kita mestinya malu jadi manusia.

Antara kita dengan bangsa lain, ada sekat imajiner yang kita susun dari benang-benang mitos, geneologi atau tragedi yang sama dan serentak. Kita melafal diksi-diksi seperti nasionalisme, patriotisme, jiwa korsa (esprit de corps) dan seterusnya. Sebagai rangkaian dari kecemasan. Karena kita tidak percaya dengan sebuah pembalik: Homo Homini Socius, yang berarti manusia adalah teman bagi sesamanya.

Plautus hidup tahun 195 SM, pada zaman itu serigala dalam ujud manusia menemukan ladang pembantaiannya. Tapi Homo Homini Socius dibahanakan oleh Thomas Hobbes, seorang filosof Inggris abad Victoria.

Dengan akal budi yang makin tercerahkan, mestinya kita lebih memihak Hobbes. Atau kita terlalu mengenang  Napoleon Bonaparte, seorang ambisius pemimpin militer dan politik Prancis, yang memperkenalkan  esprit de corps, sebagai strategi perang. Strategi membantai manusia.

Maka dapat saja dipastikan, negara yang paling lengkap dan paling mahal senjata militernya adalah negara yang paling cemas, sekaligus paling punya ambisi. Bahkan saking takutnya, negara-negara maju membangun mitos licik terhadap penempatan senjata nuklir, mereka merasa lebih dewasa, sehingga lebih berhak menyimpan senjata itu. Lebih dewasa sekaligus lebih takut. Sedangkan membuat Kim Jong-un tidak lebih gila dari sekarang, menjadi tugas tambahan yang perlu dijalankan.

Untuk domain antara bangsa, kita sebenarnya sedang dan telah sangat lama membangun etika palsu, untuk menghadapi para neo-serigala. Nasionalisme, patriotisme, esprit de corps, mau tidak mau menjadi sebuah landasan moral dan kode etik. Ketika ancaman (secara militer) bukan fakta, maka kecurigaan adalah landasannya.

Banyak negara yang melakukan gertak sambal (bluff) dengan demonstransi senjata perangnya, padahal sebenarnya mereka sangat takut berperang. Perang Dunia I dan II yang super traumatik sudah mengajarkan, tidak ada yang selamat ketika perang usai. Jika tidak hancur, maka bangkrut. Kita tidak cukup bodoh untuk mengulang tragedi seneraka ini.

Ketakutan dengan kecemasan tiap-tiap negara akan eksistensi teritorialnya, lebih selalu menguntungkan kapitalisme senjata ketimbang alat-alat itu digunakan sebagai tujuan awalnya. Peperangan bahkan hanya dipicu oleh nafsu haloba penguasa negara, bukan kehendak nurani rakyat. Tapi rakyatlah yang jadi umpan peluru. Penguasa lebih pandai bersembunyi, ketimbang turun di medan laga.

Politik perang sebagai sifat dasarnya tidak akan mengenal kode etik. Winston Churchill dan Franklin Roosevelt tidak menyukai Stalin dan komunisme. Tetapi saat berjuang melawan Hitler mereka mengakali untuk harus bekerja dengan Uni Soviet, tak lain adalah guru besar komunisme global.

Itu di luar negara. Bagaimana di dalam negara sendiri, sebagai sesama anak bangsa. Homo Homini Socius, manusia adalah teman sesamanya dicoret bila masuk ke dalam domain politik kekuasaan. Dalam perebutan kekuasaan yang bebas kode etik, demokrasi dipalsukan. Berada di luar lingkaran kekuasaan tidak pernah enak, maka mereka terus mencari cara agar kekuasaan bisa abadi, dan yang lain merasa perlu merampasnya.

Demokrasi mengajarkan bahwa pemimpin itu adalah petugas rakyat, tapi penguasa membungkus dirinya ke dalam mitos-mitos negara, agar ia sekuat raja monarki. Rakyat feodal akan sulit membedakan mana negara yang harus dipatuhi dan mana politisi yang sedang berada di dalam negara. Sehingga membela politisi yang berada di elite kekuasaan disamakan dengan membela negara. Demikian sebaliknya. ~

Print Friendly, PDF & Email