Batam, Basis Logistik Era Konfrontasi

Seorang prajurit KKO. (F: mediasulut.com)

Sejarah Kota Batam berkaitan pula dengan sistem pemerintahan di Kabupaten Kepulauan Riau, yang semenjak tahun 1945 sampai dengan 1957 di masa Keresidenan Kepulauan Riau Provinsi Sumatera Timur beribukota di Tanjung Pinang (UU No10 Tahun 1948).

Kemudian dengan terbentuknya Propinsi Riau mencakup 3,214 pulau (UU darurat No 19 tahun 1957), kemudian dengan Keputusan Menteri Dalam Negeri No Des.52/1/44-25/20/01/1959 ibukota dipindahkan ke Pekanbaru.

Sedangkan Tanjungpinang tetap menjadi ibukota Kabupaten Kepulauan Riau dengan 17 Kecamatan termasuk di dalamnya Kecamatan Batam beribukota di Belakang Padang semenjak tahun 1965 dan sebelumnya mulai 1957 berbasis di Pulau Buluh.

Ganyang Malaysia yang diserukan Presiden RI Soekarno kepada kalangan TNI dan masyarakat Indonesia pada tahun 1963-1965 juga membakar semangat penduduk dan pejuang yang berada di Pulau Batam. Apalagi Pulau Batam sangat dekat dan berbatasan langsung dengan Singapura, yang saat konfrontasi masih bagian dari Malaysia.

Kondisi kedekatan dengan Singapura dan Malaysia membuat Pulau Batam memiliki peranan yang penting waktu zaman konfrontasi. Batam dipilih sebagai salah satu basis pasukan dan pusat logistis bagi tentara dan penjuang yang ingin menyusup dan menyerang ke Singapura dan Malaysia.

Pasukan khusus yang diterjunkan ke Batam adalah KKO (Korps Komando Operasi). Selama zaman konfrontasi, ada beberapa kali pengiriman pasukan KKO ke Batam. Pasukan yang pertama datang adalah Kompi Brawijaya di bawah pimpinan Letnan Yusuf.

Pasukan ini pertama kali datang ke Pulau Buluh. Setelah sampai di Pulau Buluh, sebagian pasukan ada yang dikirim ke Pulau Dendang di Belakangpadang. Di Pulau Langkana, juga ditempatkan pos sukarelawan.

Pasukan KKO gelombang kedua yang datang ke Batam berasal dari Kompi Siliwangi di bawah komandan Letnan Edy. Di Pulau Buluh kehadiran pasukan ini mengantikan Kompi Brawijaya yang hendak dipindahkan ke Tanjungriau.
Pasukan gelombang ketiga yang didatangkan ke Batam adalah Yon 2 yang terjunkan dari helikopter di Duriangkang. Menyusul kedatangan pasukan Yon 8 yang bermarkas di Batuaji dan Enjin Batu, Sagulung.

Selama pasukan KKO ini bertugas di Batam, beberapa kali pimpinan TNI AD datang ke Batam melihat kesiapan pasukan yang disiagakan menyerang Singapura dan Malaysia. Di antara beberapa perwira TNI yang pernah datang antara lain Kolonel Anwar, Kolonel Ali Sadikin, Jenderal AH Nasution, dan Soeharto. Untuk mengetahui kondisi medan Batam, KKO berkeliling pesisir Batam dengan menggunakan amphibi.

Pernah ketika Jendral AH Nasution datang melihat kesiapan pasukan KKO, ia diajak keliling Batam dengan amphibi dari Duriangkang. Soeharto juga pernah datang melihat kesiapan pasukan KKO yang ditugaskan menyerang Singapura dan Malaysia.

Selain di Duriangkang, Soeharto pernah berkunjung ke Tanjungsengkuang menemui masyarakat dengan menggunakan heli. Saat mendarat di lapangan Ibrahim Hasan, heli yang ditumpangi Soeharto membuat atap rumah penduduk dan atap bangunan Sekolah Rakyat (SR) yang berada di dekat pantai tersebut berterbangan ke udara.

Pada kunjungan tersebut, Soeharto memberikan imbauan dan pemberitahuan kepada masyarakat soal konfrontasi Indonesia dengan Malaysia. Masyarakat diajak dan diminta ikut membantu perjuangan, mulai dari bantuan memberikan kebutuhan pokok atau pangan kepada KKO sampai bantuan relawan. Masyarakat terutama kaum muda, baik laki-laki maupun perempuan diminta menjadi relawan-relawati untuk pejuangan konfrontasi.

Sumbangan makanan yang diminta antara lain lima biji singkong goreng dari masing-masing KK dan bahan makanan lain yang diperlukan. Kadang kala antara penduduk dengan KKO juga saling barter bahan makanan. Kelebihan makanan beberapa anggota KKO berupa ransom yang tahan lama, kadang-kadang ditukar dengan sayur milik warga setempat.

Selama berada di Batam, KKO tersebut selain fokus pada perjuangan konfrontasi juga mengisi waktu luang mereka dengan kegiatan membantu masyarakat. Salah satu yang sangat besar manfaatnya dirasakan masyarakat, seperti di Tanjungsengkuang dan Pulau Buluh adalah bantuan mengajar.

Di antara personil KKO ada yang mengajar untuk mendidik anak-anak penduduk di Sekolah Rakyat yang ada. Selama ada KKO di Batam, kekurangan guru untuk mengajar di SR tidak dirasakan lagi.
Untuk membantu perjuangan, pihak Tentara Nasional Indonesia (TNI) juga melibatkan para pejuang sipil. Mereka direkrut menjadi relawan dan relawati.

Ada yang direkrut menjadi inteligen atau mata-mata, ada yang ditugaskan mengirimkan bantuan logistik perang dengan melakukan penyamaran. Ada yang terjun ke medan perang, menyusup ke Singapura dan Malaysia seperti tentara.

Mengantisipasi penyusupan yang dilakukan pihak Malaysia, pasukan KKO di Batam merekrut relawan-relawati tersebut untuk dijadikan pertahanan sipil (Hansip). Hansip tersebut ditugaskan secara bergantian siang dan malam melakukan penjagaan. Namun sebelum ditugaskan, mereka dilatih singkat terlebih dahulu oleh KKO dan bekas tentara Heiho Jepang.

Bekas tentara Heiho yang ikut melatih sukarelawan tersebut adalah Abdul Hamid Yusuf. Perekrutan dan latihan dilakukan hampir di semua pelosok seperti di Pulau Buluh, Enjin Batu, Pulau Bulang dan lainnya. Buruh-buruh perkebunan yang bekerja di Pulau Bulang juga mendaftar menjadi sukarelawan.

Latihan dilakukan enam hari selama seminggu. Setiap hari latihan dilakukan dari pagi sampai pukul 11.00 WIB dan dilanjutkan pukul 13.00 sampai 17.00 WIB. Sebagai pelatih, Abdul Hamid mendatangi tempat-tempat tersebut melatih sukarelawan. Lokasi latihan lainnya adalah di daerah Sekupang. Selain Abdul Hamid, ada empat bekas tentara Heiho lainnya yang turut melatih sukarelawan.

Setelah dilatih semi militer, hansip ini diberikan pakaian dinas layaknya tentara. Bahkan beberapa relawan di antaranya juga dipersenjatai. Ada juga yang dididik jadi inteligen. Selain penduduk pribumi, orang Tionghoa juga banyak direkrut menjadi relawan membantu KKO.

Karena lebih paham soal Singapura dan mengerti bahasanya, orang Tionghoa yang direkrut tersebut kebanyakan menjadi inteligen.

Di antara beberapa pejuang konfrontasi di Batam dari kalangan Tionghoa adalah Tony A Samyong (Siam Hiong), Herman Tio, Ati dan lainnya. Sedangkan dari masyarakat pribumi seperti Achmad Daeng Paraga.

Achmad Daeng Paraga merupakan salah satu pejuang zaman konfrontasi yang direkrut menjadi hansip. Secara tidak disadari, Daeng Paraga juga pernah dijadikan pengirim logistis perang seperti bom ke Singapura dengan perahu.

Pengiriman dilakukan dengan misi rahasia. Agar tidak tercium pihak musuh di Singapura, KKO menyusupkan bom dan bahan peledak di dalam perahu Daeng Paraga yang membawa karet. Bom diletakkan di bagian bawah perahu. Di bagian atas, hanya terlihat karet yang akan dijual di Singapura.

Dengan tipuan seperti ini, sering kali penyusupan yang dilakukan inteligen dan pejuang Indonesia berhasil. Meski zaman hubungan militer Indonesia dan Malaysia mencekam, namun hubungan dagang tidak sampai terputus total. Kedua belah pihak saling membutuhkan dan saling tergantung dari perekonomian.

Warga Singapura mengantungkan hidupnya dari berbagai kebutuhan yang dipasok pedagang Indonesia.. Begitu juga sebaliknya, pedagang Batam dan Tanjungpinang juga sangat tergantung dari barang-barang dari Singapura.

Kedua belah pihak berdagang secara sembunyi-sembunyi atau lewat penyelundupan. Di antaranya pedagang Indonesia ada yang harus melalui pemeriksaan petugas.

Walaupun tidak sadar membawa barang berbahaya, Daeng Paraga sempat juga was-was waktu memasuki perairan Singapura. Situasi perdagangan Batam-Singapura waktu itu, tidak seperti sebelumnya yang bersifat terbuka dan tanpa pemeriksaan.

Perahu Daeng Paraga merapat di salah satu pelabuhan tikus Singapura. Di sana sudah menunggu banyak anggota KKO yang juga hendak menyerang Singapura. Daeng baru terkejut ketika saat dibongkar muatan perahunya, ternyata di bagian bawah ada bom.

Barulah ia sadar bahwa bom tersebut diselundupkan dengan perahunya untuk menyerang Singapura. Setelah mengantarkan logistik bom tersebut, Daeng kembali ke Batam dengan perahu yang sama dengan mengayuhnya dengan tangan.

Sasaran KKO dan pejuang Indonesia waktu itu adalah mengebom instalasi pipa air minum yang berada di sepanjang jalur perbatasan Singapura-Malaysia. Air minum tersebut diambil dari Malaysia untuk memenuhi kebutuhan air penduduk di Singapura. Beberapa hari kemudian, misi KKO untuk menghancurkan instalasi pipa air minum tersebut gagal karena diketahui pihak lawan.

Dua orang inteligen Indonesia yang bernama Usman dan Harun ditangkap dan dijatuhi hukuman mati. Beberapa pejuang konfrontasi lainnya juga ditangkap dan menjadi tawanan perang. Saat hukuman mati dilaksanakan di Singapura, kabar eksekusi hukum mati tersebut terdengar sampai ke Batam.

Menghormati jasa-jasa kedua inteligen tersebut, di Batam diturunkan bendera setengah tiang. Para tawanan perang baru dilepaskan setelah konfrontasi berakhir dan ada pertukaran tawanan perang antara Indonesia dan Malaysia.

Penyusupan ke wilayah musuh tidak hanya dilakukan pejuang dan inteligen Malaysia. Selama konfrontasi, tercatat dua kali inteligen Malaysia tertangkap oleh pihak KKO dan relawan. Pertama inteligen laki-laki yang ditangkap di daerah Nongsa.

Saat ditemukan, inteligen tersebut seperti orang susah dengan baju dan celana yang ditempel-tempel. Setelah diperiksa pakaiannya ditemukan dokumen penting yang menandakan ia seorang mata-mata. Inteligen asing tersebut kemudian diserahkan ke markas KKO di Duriangkang dan akhirnya dieksekusi mati.

Pernah juga inteligen Malaysia yang merupakan seorang wanita ditangkap di Belakangpadang. Sama seperti penangkapan sebelumnya, juga ditemukan dokumen di pakaiannya. Namun tidak diketahui, apakah wanita ini dibunuh atau tidak. Penyusupan yang dilakukan inteligen Malaysia tersebut ke Batam dengan menggunakan speedboat.

Setelah inteligen diantar sampai perairan Batam, speedboat tersebut kembali ke Singapura. Pasukan KKO sendiri terbagi dua pasukan yaitu infantri dan Armed yang memiliki senjata berat (kavaleri) seperti meriam. Di Tanjung Sengkuang, ditempatkan satu pasukan meriam selama masa konfrontasi. Sekarang lokasi tersebut menjadi Markas Angkatan Laut (Lanal) Tanjungsengkuang.

Selama zaman konfrontasi, kejadian yang paling menegangkan bagi pejuang konfrontasi adalah saat datangnya kapal induk milik Inggris di perairan Selat Philips. Waktu itu tahun 1965, namun bulan dan harinya tidak bisa dipastikan lagi.

Sore sekitar pukul 15.00 WIB, KKO dan pejuang konfrontasi Indonesia di daratan Batam menyaksikan parade pasukan laut Inggris di Selat Philips. Selain kapal induk yang mengangkut beberapa pesawat tempur di atasnya, juga terlihat beberapa kapal perang di sekelilingnya.

Kapal perang tersebut dan senjatanya sudah menghadap ke wilayah Batam. Sepertinya siap siaga untuk menyerang Batam dari arah laut. Selain bisa disaksikan dengan kasat mata, gerak-gerik kapal perang tersebut bisa disaksikan dengan jelas dari teropong milik KKO. Jangankan di Selat Philips, jangkauan teropong milik KKO juga bisa melihat aktivitas warga dan gerak-gerik musuh di daratan Singapura.

Melihat kejadian itu, pasukan KKO dan para relawan yang berada di Batam sudah siap siaga kalau diserang. Pasukan infantri dan Armed KKO sudah bersenjata lengkap dan berada di sepanjang pesisir Batam, terutama yang menghadap langsung ke perairan selat Philips.

Dalam mengantur serangan, pasukan KKO dan pejuang dibagi dalam kelompok yang berada di sepanjang pantai. Masing-masing kelompok terdiri dari empat orang. Satu orang merupakan penempak senjata berat berupa senjata brand, sedangkan tiga lagi memegang senjata AK 47.

Untuk melumpuhkan pasukan katak Inggris yang masuk Batam dengan menyusup lewat air, KKO juga menyiapkan serangkaian dengan senjata penabur. Kalau pasukan Inggris muncul dari laut, langsung ditembak dari pinggir pantai.
Suasana tegang tersebut berlangsung beberapa jam.

Pasukan KKO yang sudah siap siaga tersebut masih menunggu perintah dari Markas Besar (Mabes) TNI. Mabes TNI memerintahkan Arsu atau alat penembak pesawat yang disiagakan di Pocakit ditembakkan ke udara dan diarahkan ke wilayah perairan Singapura. Selain Arsu, di Pulau Pocakit juga disiagakan tank-tank perang.

Beberapa saat kemudian KKO yang memegang kendali Arsu langsung melakukan penembakan peringatan supaya mereka kabur dari Selat Philips. Mendapat tembakan peringatan tersebut dan menyadari pihak tentara Indonesia tidak kalah siap dan lebih banyak, perlahan-lahan kapal induk dan beberapa kapal perang Inggris menyingkir ke arah Batu Putih Malaysia dan Laut China Selatan. ~ MN Tahar/Ery Syahrial

Print Friendly, PDF & Email