Perang Dunia II di Langit Batam

Ilustrasi: cdn.britannica.com

Saat masa peralihan dari penjajahan kolonial Belanda ke kolonial Jepang, hampir tiap hari pesawat tempur Jepang membombardir setiap kapal yang berlayar di perairan Kepri, termasuk Batam.

 

Kapal-kapal yang ditembaki tersebut adalah kapal milik Belanda dan Inggris. Belanda yang menguasai perdagangan di Indonesia dan Inggris yang menguasai perdagangan di Selat Malaka.

Sasaran Jepang tidak saja kapal perang milik Belanda di Indonesia dan kapal perang Inggris yang berada di Singapura dan Malaysia, tapi juga kapal dagang VOC Belanda dan kapal dagang Inggris. Jepang melancarkan taktik perang penghancuran total semua aset penjajah Eropa tersebut agar bertekuk lutut.

Untuk melancarkan perang ke seluruh wilayah Indonesia untuk mengalahkan Belanda, Inggris dan sekutunya, tentara Jepang membuat beberapa pangkalan pasukan dan benteng pertahanan di beberapa pulau dan pesisir di Batam.

Sisa-sisa benteng dan situs tentara Jepang tersebut masih bisa ditemukan sampai saat ini seperti di Pulau Pengalap, di pantai Seranggong Galang. Sementara di daerah lain di Batam tidak ditemukan lagi tanda-tandanya.

Tentara Jepang ketika menduduki wilayah Batam berpencar ke berbagai wilayah, Batam seperti di Nongsa, Kabil, Tanjungpiayu Laut, Pulau Moi-moi, Pulau Senjantung, Pulau Buluh, Enjen Batu, Pulau Sambu dan Nagoya. Nama Nagoya yang sekarang menjadi pusat perdagangan bisnis di Batam merupakan pemberian tentara Jepang yang pernah menduduki daerah itu.

Dilihat dari daerah yang diduduki tersebut terlihat strategi yang dilakukan tentara Jepang cenderung memilih daerah berbukit, pulau-pulau dan persisir pantai. Ini bertujuan untuk pertahanan yang lebih kuat.
Pangkalan dan benteng pertahanan serupa juga didirikan Jepang di beberapa pulau di Kepri seperti di Natuna sebagai pusat penyerangan untuk wilayah Asia Pasifik.

Akibat bombardir yang dilancarkan tentara Jepang, beberapa kapal Inggris dan Belanda tenggelam di perairan Kepri. Salah satunya adalah kapal dagang Inggris SS Loch Ranza yang tenggelam di Pulau Karas yang tenggelam 3 Februari 1942.

Hal ini dibuktikan keterangan surat bernomor Def 1008/00 tertanggal 19 Juli 2000 yang menjelaskan peristiwa tenggelamnya kapal dagang SS Loch Ranza itu. Salah seorang saksi sejarah tenggelamnya kapal SS Loch Ranza di perairan Karas adalah Maemmunah.

Wanita tertua di Kepri dengan umur lebih dari 110 tahun ini mengungkapkan, saat bombardir Jepang tersebut ia bersama suaminya, Tengku Nordin bin Tengku Limat, dan lima orang anaknya tinggal di Pulau Karas.

Saat terjadi penembakan kapal, suaminya minta izin pergi untuk membantu menyelamatkan 36 awak kapal SS Loch Ranza yang dibom di perairan Karas. Tengku Nordin membawa semua awak kapal tersebut ke Pulau Karas dan memberikan makanan. Awak kapal dagang tersebut terlihat kelaparan sehingga Maemmunah ikut memberikan makan di rumahnya.

Meski terbakar hebat karena dibom, kapal tersebut masih bisa berlayar. Saat meninggalkan Pulau Karas, ABK kapal SS Loch Ranza memberikan lonceng kapal kepada Tengku Nordin yang kemudian disimpan Maemmunah.

Dalam surat Atase Pertahanan Kedutaan Besar Inggris di Jakarta yang ditujukan kepada Kantor Deppen Kabupaten Kepri di Tanjungpinang tahun pada tahun 2000, Maemmunah diizinkan untuk menyimpan lonceng tersebut di museum setempat sebagai bukti sejarah Perang Dunia Kedua di Kepri.

Jepang juga menghancurkan kapal tanker milik Inggris yang sedang berlayar di dekat Pulau Putri, Nongsa. Kapal tersebut dibombardir dari pesawat tempur Jepang hingga kapal yang bermuatan minyak tersebut terbakar.

Kobaran api dari kapal tanker tersebut membuat penduduk yang tinggal di pantai Nongsa ketakutan sehingga berlarian menyelamatkan diri ke arah darat. Kapal tersebut akhirnya tenggelam. ABK kapal diperkirakan ikut tewas terbakar api karena mayatnya tidak pernah ditemukan penduduk sekitar.

Ajang perang yang paling mencekam selama Perang Dunia II berada di perairan Selat Philips yang berada antara Batam dengan Singapura. Inggris yang menguasai dan bermarkas di Singapura. Inggris ini dibantu Belanda dan sekutunya seperti tentara Australia.

Sementara Jepang sudah menempatkan ribuan tentaranya di Batam dan wilayah Kepulauan Riau lainnya. Kedua kekuatan besar ini saling berhadapan dan berperang. Sementara masyarakat Indonesia, termasuk penduduk Batam hanya dihantui rasa ketakutan selama Perang Dunia II tersebut berlangsung.

Untuk melindungi Inggris dari serangan kapal Jepang, tentara Inggris menebar ranjau di sapanjang perairan Selat Philips. Serangan yang lebih memungkinkan dilakukan Jepang adalah dengan pesawat tempur.

Hampir setiap hari pesawat tempur Jepang meraung-raung di udara Batam untuk mengebom kapal-kapal perang dan niaga milik Inggris, Belanda dan sekutunya yang melintasi Selat Philip dan perairan Kepri.

Bahkan penduduk Batam sering menyaksikan pesawat tempur Jepang dan Inggris kejar-kejaran di udara saling menyerang. Di antara pesawat tempur tersebut ada yang tertembak dan jatuh ke laut dan perairan seperti yang terjadi di Duriangkang.

Di Duriangkang, hampir setiap hari penduduk Tionghoa yang umumnya bermukim di situ menyaksikan pesawat-pesawat tempur berseliweran di atas kebun karet mereka. Pada suatu ketika, mereka melihat satu pesawat tempur tentara Jepang terjatuh di Sungai Duriangkang.

Tak pernah disebut secara pasti bagaimana pesawat tempur itu bisa jatuh dan bagaimana nasib pilotnya. Peristiwa tersebut sudah menjadi cerita turun-temurun di Batam.

Hampir setiap pulau di Batam yang ramai penduduknya waktu itu pernah didarati atau didatangi tentara Jepang. Di pulau atau pesisir tempat komunitas etnis Melayu, tentara Jepang mengambil bahan-bahan makanan milik penduduk, termasuk ayam ternak penduduk. Misalnya saat masuk ke Pulau Karas, Kecamatan Galang, tentara Jepang mengobok-obok seisi pulau.

Ayam-ayam ternak milik penduduk ditangkap dan dibawa sehingga habis. Di Pulau Buluh juga demikian. Tentara Jepang mengejar ayam-ayam hingga ke bawah kolong rumah penduduk. Saat tentara Jepang datang, dipastikan ayam-ayam penduduk akan habis.

Antara tahun 1942-1944, Jepang selalu mendapatkan kemenangan di setiap pertempuran melawan Belanda, Inggris dan sekutu lainnya. Salah satu kemenangan terbesar Jepang terjadi di perairan Batam dan Selat Philips.

Tentara Jepang berhasil menduduki Singapura dan menaklukkan Inggris. Pasukan Inggris berniat mundur ke Malaysia. Namun sampai di perbatasan antara Singapura dan Malaysia, tentara Jepang juga sudah menunggu di sana. Pertempuran sengit terjadi sehingga Jepang menang.

Pasukan Australia berniat membantu tentara Inggris untuk melawan Jepang di Singapura. Namun saat sedang berlayar dengan kapal perang di perairan Batam, tentara Australia tersebut mendapatkan kabar kalau Inggris sudah bertekuk lutut pada Jepang.

Mereka mengurungkan niat pergi ke Singapura. Kapal perang mereka terpaksa dihancurkan sendiri di perairan dekat Tanjung Datuk, Tenjung Sengkuang. Tujuannya agar jangan sampai terlihat dan dibombardir Jepang.

Sementara tentaranya menyelamatkan diri ke pantai Tanjung Datuk dan bersembunyi di lubang-lubang batu yang berada di sana. Senjata mereka tanam di atas bukit di Tanjung Datuk juga.

Menurut cerita penduduk Batam yang turun temurun, setelah itu, tidak diketahui lagi kemana tentara Australia tersebut pergi. Apakah diselamatkan oleh bantuan pasukan yang datang kemudian, atau ditangkap Jepang. ~ MN Tahar/Ery Syahrial

Print Friendly, PDF & Email