Pesawat Tempur Inggris dan Jepang Berkejaran di Langit Batam

Foto Ilustrasi: i.pinimg.com

 

Untuk menginjakkan kaki menanamkan kekuasaannya di Batam, Tanjungpinang dan wilayah Riau Kepulauan umumnya, Jepang memilih masuk dari Semenjung Malaysia dan Singapura. Tentara Inggris yang menjajah Malaysia dan Singapura dihancurkan terlebih dahulu.

Ribuan pasukan bergerak dari Kelantan, ujung daratan Malaysia dan terus bergerak ke arah Singapura. Semua tentara Inggris yang dilalui selama perjalanan darat tersebut disapu bersih hingga bertekuk lutut. Hanya dalam waktu 14 hari, tentara Jepang berhasil mengalahkan Inggris di Malaysia dan Singapura.

Sebagian tentara Inggris berhasil dibunuh dalam perang, sebagian menyerah dan menjadi tawanan. Sisanya kabur ke arah Batam dan Riau Kepulauan menyelamatkan diri. Tentara Inggris yang menyerah ada yang direkrut jadi tentara Jepang untuk menambah kekuatan pasukan Jepang.

Sebagian tentara Inggris adalah tentara bayaran yang dikenal dengan tentara Gurka. Jepang terus mengejar tentara Inggris yang kabur ke Batam dan wilayah Kepulauan Riau. Salah satu pertempuran hebat antara Jepang dan Inggris terjadi di perbatasan atau perairan antara Malaysia-Singapura.

Di perbatasan ini, tentara Inggris berusaha menahan laju tentara Jepang. Namun lagi-lagi Inggris kalah. Meski dalam hal kecanggihan senjata Jepang masih berada di bawah Inggris, namun taktik perang yang dilancarkan Jepang lebih maju.

Misalnya di pertempuran Jepang dengan Inggris di daerah perbatasan tersebut. Jepang berhasil mengelabui pasukan Inggris sehingga tentara Jepang bisa melewati benteng pertahanan Inggris. Tanpa disadari tentara Inggris, tentara Jepang sudah berada di belakang mereka dan langsung melakukan penyergapan hingga Inggris kalah.

Tentara Inggris yang selamat lari kocar kacir ke perairan Batam dan pulau-pulau di sekitarnya. Sekalian mengejar tentara Inggris, tentara Jepang juga melebarkan sayap kekuasaannya di Batam dan Riau Kepulauan dengan berperang melawan Belanda yang menjajah Nusantara waktu itu. Namun sewaktu pasukan Jepang sampai di Batam dan Riau Kepulauan, tentara Belanda disinyalir sudah terlebih dahulu mundur ke daerah lain.

Pengejaran dilakukan di laut dan udara. Kapal perang Jepang menyisiri Batam, Tanjungpinang dan pulau-pulau yang diduga tempat persembunyian tentara Inggris. Di pulau-pulau dan daerah yang disinggahi, tentara Jepang mendirikan pos dan menempatkan pasukannya.

Di daerah yang sangat strategis, dijadikan benteng pertahanan. Pengejaran terhadap tentara Inggris tidak saja dilakukan melalui laut dengan kapal perang, tapi juga dengan pesawat tempur. Beberapa kali, penduduk Batam menyaksikan kejar-kejaran antara pesawat Inggris dan Jepang di wilayah udara Batam dan Kepulauan Riau. Di udara, angkatan udara Jepang juga berkuasa.

Sering kali pesawat tempur Inggris dikejar dan menjadi bulan-bulanan Jepang. Selama pertempuran udara, beberapa kali pesawat tempur dari kedua pihak yang berperang tertembak dan jatuh di darat dan laut. Tercatat tiga pesawat tempur Inggris dan dua pesawat tempur Jepang jatuh setelah kena tembak.

Tiga pesawat tempur naas milik Inggris tersebut masing-masing satu jatuh di Sungai Penaran, Gundap, satu jatuh di Bukit Cina, Bulang dan satu pesawat lagi terjun bebas di Sei Harapan Sekupang. Sebelum bernama Sei Harapan, dulunya bernama Sei Pembunuh karena tempat orang melakukan pembunuhan dan sering ditemukan mayat di sana.

Pilot pesawat Inggris yang jatuh di Sungai Penaran dan Bukit Cina ditemukan penduduk dan tentara Jepang dalam keadaan tak bernyawa.

Sementara pilot Inggris yang jatuh di Sei Harapan saat ditemukan tentara Jepang masih hidup. Pilot tersebut ditangkap dan dibawa ke Singapura yang sudah menjadi pangkalan pesawat terbang Jepang. Karena kalah di Singapura, pangkalan pesawat Inggris sudah pindah ke negara lain yaitu di Australia.

Sedangkan dua pesawat tempur Jepang yang berhasil ditembak Inggris jatuh di Selat Nenek dekat Pulau Pual dan Sei Lekok, Batuaji. Kedua pilot Jepang ini masih hidup waktu ditemukan.

Kekalahan demi kekalahan yang dialami Inggris dan sekutunya membuat Amerika Serikat juga ikut dalam kancah Perang Dunia II. Tentara Sekutu ini membalas dendam dengan melakukan serangan balik, termasuk di Batam. Pada tahun 1944 tentara AS bergerak dari pangkalan pasukannya yang berada di Australia. Tentara ini masuk perairan Batam dengan menggunakan kapal tongkang.

Pasukan yang masuk diam-diam di Pulau Kasu. Namun kedatangan pasukan Sekutu itu terpantau polisi Jepang (orang pribumi yang direkrut membantu pasukan Jepang) yang bertugas di pos yang dibuat Jepang di pulau tersebut.

Namun sebelum memberitahukan kedatangan pasukan tersebut ke tentara Jepang, polisi tersebut ditembak mati tentara sekutu yang merapat ke pulau dengan perahu karet. Untuk mengelabui Jepang, tongkangnya diledakkan setelah pasukan turun.

Pasukan tersebut berpencar ke berbagai pulau dengan perahu karet. Masing-masing perahu karet berisi dua tentara. Selain bekal peluru dan persenjataan, tentara ini juga dibekali dengan makanan seperti biskuit, keju, obat-obatan hingga rokok. Pulau-pulau dan daerah yang didatangi tentara ini antara lain Pulau Dangas, Patam Lestari, Pulau Dangsi yang berada dekat Pulau Buluh, Tanjung Gundap dan lainnya.

Di Tanjung Gundap, penduduk yang bertemu dengan tentara Sekutu tersebut ditahan dan diberi makan sampai misi mereka terlaksana menghancurkan Jepang di pulau itu. Demikian juga di Pulau Buluh dan di Pulau Lance. Dua penduduk yang mengetahui kedatangan tentara Sekutu yang bernama Ismail dan Johan ditahan.

Setelah pergi dan tidak menemukan tentara Jepang, tahanan tersebut baru dilepas. Dari Tanjung Gundap, sebagian pasukan Sekutu menuju Pulau Sore yang berada dekat Tanjungpinang. Di pulau ini terjadi pertempuran antara Sekutu dengan Jepang sehingga seorang tentara Jepang berpangkat letnan dan satu Heiho (tentara Jepang yang direkrut dari orang Indonesia) mati ditembak. Dua tentara sekutu juga mati ditembak Jepang.

Sebagian pasukan Sekutu menuju ke Pulau Marapas yang letaknya arah Laut China Selatan.Di pulau ini terjadi pertempuran sengit antara Sekutu dengan Jepang sehingga dari kalangan tentara Jepang, Letnan Fujimura Sui mati ditembak.

Mayatnya dikubur di Kebun Nenas, Kijang yang merupakan salah satu tempat latihan tentara Heiho Jepang. Namun dari beberapa kali pertempuran, dari pihak Sekutu ada juga yang mati, namun tidak diketahui berapa jumlahnya.

Setelah itu tidak diketahui lagi nasib tentara Sekutu di Batam dan perairan Kepulauan Riau. Bulan-bulan berikutnya merupakan masa yang sulit bagi tentara Jepang. Pasukannya semakin terdesak di berbagai daerah jajahannya di Indonesia dan beberapa negara Asia Tenggara lainnya. Apalagi pasukan Sekutu tambah kuat dan didukung oleh kecangihan teknologi nuklir.

Tahun 1944, pasukan AS menjatuhkan bom atom di dua kota di Jepang yaitu Kota Hirosiha dan Nagasaki. Kedua kota tersebut hancur lebur sehingga menghancurkan kekuatan Jepang. Ribuan tentara dan masyarakat sipil Jepang mati secara mengenaskan. Inilah kehancuran perang yang paling mengerikan dalam sejarah dunia sehingga bom atom tidak boleh lagi digunakan untuk perang. ~MN Tahar/Ery Syahrial

Print Friendly, PDF & Email