OPINI | Kehilangan Pembelajaran

Profesor LN Firdaus. (F: Dok. pribadi)

 

Oleh Prof. L.N. Firdaus*

Kalau dipikir dalam-dalam, tidak karena pandemi COVID-19 pun, kehilangan pembelajaran marak terjadi. Hanya saja memang, istilah Kehilangan Pembelajaran (Learning Loss) kian menggaung ketika pandemi mendisprusi dunia sejak awal Maret 2020 hingga sekarang.

 

Kehilangan Pembelajaran (Learning Loss) merupakan kerugian jangka panjang terhadap pembelajaran anak-anak akibat penutupan sekolah sementara (Kaffengerger, 2020).

Dampak kehilangan pembelajaran ini tidak akan berhenti meskipun sekolah telah dibuka kembali secara tatap muka. Apa lagi tidak ada kebijakan yang strategis-antisipatif-implementatif dalam hal pemulihan (Learning Loss recovery Strategic Action Plans).

Kita semua (Orang tua, pendidik, dan pembuat kebijakan) pasti lah risau dan cemas soal kehilangan pembelajaran. Bukan hanya kita, serata dunia pun sangat mengkhawatirkan itu.

Namun sampai saat ini, kita belum memperoleh data konkrit seberapa besar kerugian yang sesungguhnya akibat pandemik COVID-19 yang kian mengganas ini.

Hanushek dan Woessman dalam Laporan OECD (2020) tentang The Impact of COVID-19 On Education-Insights From Education At A Glance 2020 memperkirakan bahwa kehilangan pembelajaran akan menyebabkan kehilangan keterampilan. Sementara keterampilan bertaut rapat dengan produktivitas kerja.

Potensi kerugian ekonomi ditaksir bisa mencapai rata-rata 1,5% mencapai dari PDB yang tersisa setiap negara. Bahkan Nilai total anggaran saat ini bisa mencapai 69% dari PDB untuk negara di kawasan tropis, termasuk Indonesia.

Sementara dampak jangka panjang dari krisis sukar dipastikan mengingat pandemi dapat mempengaruhi pengeluaran masyarakat yang tadinya dialokasikan untuk pendidikan tiba-tiba dialihkan untuk sektor kesehatan dan perekonomian.

Hasil simulasi World Bank (Agustus 2020) tentang Dampak COVID-19 terhadap kehilangan pembelajaran dan Penghasilan di Indonesia selama periode penutupan empat bulan dari 24
Maret hingga akhir Juli 2020 menunjukkan bahwa Indonesia mengalami kehilangan US$249 penghasilan individu tahunan. Anak-anak Indonesia telah kehilangan 11 poin di PISA.

Hasil kajian Lembaga RISE for Indonesia (2020) menegaskan bahwa Pandemi COVID-19 akan meningkatkan kemiskinan di Indonesia secara signifikan. Kondisi ini akan menyebabkan tekanan fisik maupun psikologis pada siswa, serta ketidaksanggupan untuk belajar selama sekolah ditutup.

Siswa dari keluarga miskin atau dengan kondisi rumah tangga yang tidak mendukung mempunyai risiko lebih tinggi untuk terkena dampak psikologis akibat terhentinya proses pendidikan. Oleh karena itu, memulihkan penurunan kemampuan siswa saat sekolah dibuka kembali merupakan pekerjaan besar yang menanti.

Pandemik COVID-19 yang berkepanjangan memiliki potensi dampak sangat besar secara psikologis pada peserta didik. Memulihkan pembelajaran yang diprediksi akan hilang pasca pandemik COVID-19 adalah juga perkara yang tidak mudah, namun dapat diupayakan melalui komitmen, integritas, dan kesiplinan yang tinggi.

Kolaborasi antara peserta didik, guru-sekolah, orang tua, dan pengambil kebijakan merupakan suatu keniscayaan bagi keberhasilan Program Recovery Learning Loss Pasca Pandemic COVID-19.

Perkara esensial yang mesti segera diupayakan adalah penyediaan data akurat bagi rencana aksi pemulihan. Tanpa data aktual, maka Rencana aksi pemulihan akan menjadi rencana khayalan yang tak dapat memulihkan pembelajaran yang hilang.

Data itu dapat ditambang melalui sejumlah pertanyaan mendasar. Pembelajaran pada mata pelajaran apa saja yang harus dipulihkan?

Dalam setiap mata pelajaran, pada ranah taksonomi pembelajaran yang mana harus menjadi perioritas pemulihan? Ranah Sikap (Afektif), Pengetahuan (Kognitif), atau keterampilan (Psikomotorik)? Pada jenjang Pendidikan yang mana menjadi skala prioritas? PAUD, SD, SMPT/MTS, SMA/MA/SMK?

Pemetaan Potensi Learning Loss di Perguruan Tinggi lebih kompleks lagi. Mulai dari Fakultas, Jurusan, Program Studi, Mata Kuliah.

Banyak yang masih belum diketahui tentang cara mengukur tingkat kehilangan pembelajaran dan bagaimana data itu dapat bervariasi dalam komunitas yang berbeda (Laura Hoxworth, 2021).

Kesulitan ini tentu saja membuka peluang tak terbatas bagi riset strategis dan kolaboratif antara sekolah, perguruan tinggi, dan pengambil kebijakan Pendidikan dalam semua skala.

Kita bisa kalau kita mau. Semua bermula dari gagasan, Temukanlah!

* Penulis adalah Pendidik di FKIP Universitas Riau

 

Print Friendly, PDF & Email