Lanskap Kampung Tua di Pulau Batam

Ilustrasi: mapio.net

Di masa lalu, antara Jodoh, Batu Ampar dan Nagoya masih dipisahkan oleh laut. Jadi wilayah-wilayah ini hanya dapat dihubungkan dengan sampan. Agak ke dalam sedikit seperti wilayah Pelita dapat dilalui dengan menelusuri Sungai Jodoh.

Kendaraan roda empat pada tahun 1960 –an jumlahnya masih sangat minim, hanya beberapa mobil jenis pick up dan sedan-sedan Eropa yang berdatangan di penghujung tahun 1960 – an. Ketika Pertamina membuka Depot di Bukit Senyum, beberapa kendaraan seperti mobil-mobil tanki pengangkut minyak dan mobil-mobil proyek mulai banyak. Alat – alat berat juga didatangkan untuk membuka isolasi, atau jalan – jalan perintis.

Pada masa itu, Batam belum memiliki fasilitas dan infrastruktur yang memadai. Tidak ada listirik, jalan aspal, rumah sakit, gedung sekolah dan berbagai fasilitas umum lainnya. Untuk berobat, warga Batam yang masih bertebaran di sejumlah kampung tua, banyak yang mengandalkan dukun kampung. Sehingga ketika ingin memperoleh perawatan medis, pasien harus dibawa ke Tanjungpinang.

Untuk mencapai Tanjungpinang, dari pelantar Jodoh, dapat memakan waktu sekitar delapan jam, menggunakan kapal kayu. Tanjungpinang sendiri waktu itu sudah lebih dahulu maju, bahkan dipilih sebagai ibukota Provinsi Riau sebelum Pekanbaru.

Sementara Batam, masih bagian dari kecamatan Pulau Buluh. Pekerjaan penduduk Batam yang mendiami beberapa kampung tua seperti Tanjung Uma, Sei Jodoh, Sei Panas, Tanjung Riau, Kampung Bagan, Tanjungpiayu Laut, Nongsa dan sebagainya sebagian besar adalah nelayan tangkap tradisional.

Sebelum adanya perkembangan pembangunan yang pesat di Batam, masyarakat hidup berdampingan secara damai. Nyaris tidak terjadi tindak kejahatan, semacam perampokan, penipuan dan sebagainya.

Pemandangan yang asri dan kultur tradisional yang melekat serta rasa persaudaraan yang erat antarwarga, adalah bagian yang tak terpisahkan bagi masyarakat Batam asli, tempo dulu. Desakan berbagai kebutuhan dan himpitan ekonomi dari warga Batam masa kini merupakan ekses negatif dari cepatnya proses pembangunan.

Mengenai bahasa yang digunakan warga Batam yang notabene adalah penghuni kampung-kampung tua adalah bahasa Melayu. Sebagai negeri Melayu, meski sejak dulu telah banyak pendatang dari Bugis hingga Tionghoa, namun penduduk sepakat menamakan dirinya sebagai keluarga besar Melayu.

Pengecualian dari ini adalah defenisi Melayu diartikan sebagai warga yang bertutur bahasa Melayu dan beragama Islam, tak peduli dari mana asal keturunan nenek moyangnya.

Penduduk tradisional Batam sebelum terjadinya migrasi besar – besaran adalah orang-orang Melayu, orang Bugis, sebagian warga dari Pulau Jawa, Sumatera dan beberapa suku asli. Suku – suku asli dari literatur yang disusun oleh Tatang Surya Priatna secara garis besar terdiri dari Suku Laut dan Suku Pedalaman Hutan.

Untuk menghubungkan kampung – kampung tua ini hanya digunakan transportasi laut yang sederhana dengan model mengitari pesisir perairan Batam. Pada era 1960-an itu, di Batam belum terdapat sistem ekonomi yang sistematis. Bahkan beberapa nelayan masih menggunakan cara pertukaran atau barter, tanpa transaksi mata uang.

Pada masa awal di mana penduduk Batam masih sepi, hanya Sei Jodoh yang memiliki pasar tradisional. Di sinilah, warga di sekitar Batam membeli belah. Pasar tradisional yang dimaksud adalah seperti jejeran meja – meja berukuran kecil, kemudian kedai – kedai kelontong berukuran kecil yang berkembang menjadi toko – toko. Selain dari Singapura, barang – barang dagangan juga banyak yang didatangkan dari Tanjungpinang.

Warga Jodoh waktu itu belum banyak yang menggunakan rumah permanen atau beton, sebagian besar rumah panggung masih berdinding papan dan beratap rumbia. Model rumah – rumah panggung di bibir – bibir pantai terlihat lebih dominan.

Dari buku Sejarah Batam yang dirangkum Tatang Surya Priatna disebutkan bahwa pada periode abad 17 sampai abad 20, beberapa titik di pulau Batam pernah muncul beberapa perkampungan.

Sebagian di antaranya saat ini masih eksis. Kampung – kampung tersebut adalah Tanjungpiayu Laut (dibuka tahun 1849), Kampung Setenga (1790), Kampung Bagan (1879), Duriangkang (abad 18), Mukakuning (abad 18), Ngedan (abad 18), Telok Lengong (1820), Sungai Deras (abad 17), Telaga Punggur (abad 18), Kabil (1909), Kampung Panau (abad 19), Kampung Seribu (1848), Tanjung Bemban ( abad 18), Nongsa (1830), Kampung Belian (abad 18), Sei Panas (1817), Sungai Tenang (1960), Jodoh (abad 18), Tanjung Uma (1832), Tiban (abad 18), Patam (1813), Tanjung Riau (1918), Tanjung Gundap (1880), Sagulung (1949), Nongsa (1942), Batu Aji (1949), Dapur 12 (1930), Tiangwangkang (1949), Tanjung Uncang (abad 18), Batu Besar (1870), Bukit Layang (abad 17) dan Bukit Abdullah (1963). Hikayat asal-usul nama kampung-kampung tersebut akan diuraikan dalam bahasan tersendiri dalam buku ini.

Pulau Batam yang strategis dan berada dalam hamparan Kepulauan Riau berjuluk “Bumi Segantang Lada”, sejak dulu kala sudah menjadi lintasan dan tempat persinggahan para raja, pedagang, nelayan hingga orang kulit putih yang menjalankan misi imperialisme.

Di masa pra dan pasca kemerdekaan gugus kepulauan menyerupai kalajengking ini telah dijadikan basis pertahanan militer untuk menggempur penjajah serta menjadi basis logistik militer di era konfrontasi.

Belum adanya optimalisasi fungsi strategis pulau Batam hingga akhir tahun 1960 – an, menyebabkan pulau ini tetap tertinggal dibanding saudara kembarnya yakni Singapura. Kondisi masyarakat tetap terbelakang karena tidak adanya mesin ekonomi yang menjadi katalisator pertumbuhan pembangunan di wilayah ini. ~ MN Tahar

Print Friendly, PDF & Email