Batam dari Tinjauan Historis Kerajaan Riau Lingga

Puing peninggalan Istana Laut Tanjung Pinang, merupakan batu produksi Batam Brickwork. (F: jantungmelayu.com)

Sejarah juga mencatat, bahwa Pulau Batam pernah menjadi bagian dari Kerajaan Riau Lingga yang berpusat di Penyengat. Dalam literatur yang ditulis JG Schot dalam Indisce Glids, 1882, koleksi Aswandi Syahri, Pulau Batam dan pulau – pulau sekitarnya pada abad 19 dibagi dalam tiga wilayah yang mempunyai pemerintahan sendiri – sendiri.

Masing – masing disebut Wakilschap atau wakil Yang Dipertuan Muda Riau (YDMR) X Raja Muhammad Yusuf al Ahmadi, yang beribukota di Penyengat.

Wilayah paling utara adalah daerah Wakilschap Nongsa. Wilayah ini merupakan wilayah paling kecil yang dipisahkan oleh muara Sungai Ladi di pantai utara Pulau Batam. Di sebelah timur terdapat Kampung Bagan dekat muara Sungai Duriangkang, Kangboi dan Sungai Assiamkang.

Daerah lainnya adalah dua daerah serupa namun lebih besar sehingga dibagi menjadi dua Wakilschap, dengan Pulau Buluh sebagai daerah utama.Wakilschap Pulau Buluh mencakup Pulau Galang, Rempang, Tanjung Sauh, Setoko, Bulang, hingga ke Sambu dan Belakang Padang.

Di zaman itu, wilayah Pulau Batam juga telah diprediksi sebagai wilayah masa depan. Paling tidak kecenderungan ke arah itu sudah terlihat pada akhir abad ke 19.

Dalam bidang penanaman gambir umpamanya, sejak diperkenalkannya komoditas ini di Kerajaan Riau oleh Daeng Celak, pada tahun 1729 hingga pertengahan abad ke 19, kebun gambir yang kebanyakan pekerjanya orang-orang Tionghoa, sebelumnya hanya berkosentrasi di sekitar Pulau Bintan.

Namun sejak menipisnya cadangan kayu sebagai bahan bakar pengolahan gambir, diupayakan membuka ladang baru sehingga Pulau Batam menjadi alternatif utama.

Memasuki akhir abad ke 19 hingga awal abad ke 20, arti Pulau Batam sebagai wilayah ekonomi strategis semakin nyata. Hal ini utamanya dipicu oleh perkembangan Singapura yang digarap Inggris pada 1819. Sejumlah pengusaha dari bandar itu mulai membuka usaha di Batam.

Pada tahun 1909 dilaporkan bahwa seorang pengusaha bernama RAM Larkis membuka usaha dan sekaligus mendapat izin mengumpulkan batu di daerah pesisir utara dan timur Pulau Batam, serta Teluk Tering.

Setahun sebelumnya Raja Ja’afar, Amir Batam di Pulau Buluh yang menggantikan Tengku Umar, juga melaporkan adanya sebuah usaha kayu balak di Pulau Bulang untuk di eskpor ke Singapura yang dikelola oleh orang Prancis.

Pada awal 20 Pulau Batam juga dilirik sebagai daerah usaha perkebunan. Pada bulan Juni 1907 misalnya, Sultan Abdulrahman dan Residen Riau WJ Rahder, mengeluarkan empat buah konsesi tanah perkebunan di Pulau Batam.
Dalam sejarah Kerajaan Riau Lingga, tanah Batam pernah diserahkan pengelolaannya kepada Raja Ali Kelana.

Dalam surat yang ditulis YDMR X Raja Muhammad Yusuf bahwa pada tahun 1898 disebutkan tentang penganugerahan tanah Batam kepada Raja Ali Kelana. Pada tahun yang sama, Raja Ali Kelana disebutkan telah melakukan persiapan membuka usaha di Batam.

Tapak Istana Damnah di Daik, Kabupaten Lingga. (F: Ist)

Pada tahun 1901, menurut catatan Aswandi Syahri, The Singapore and Straits Directory for 1901, untuk pertama kalinya nama perusahaan Batam Brick Works dengan nama Raja Alie (Ali Kelana) sebagai pemilik.

Perusahaan ini berkantor di 135 Prinsep Street Singapore, sementara pabrik Batam Brick Works, penghasil batu bata yang dianggap sebagai cikal bakal industri di Batam, terletak di wilayah Batu Aji.

Secara historis, usaha Raja Ali Kelana dalam membuka dan mengelola pabrik batu bata di Batu Aji, sebagai sebuah pondasi awal pengembangan industri Pulau Batam yang diwujudkan dengan berdirinya pabrik bernama Batam Brick Works (Pabrik Batu Batam Batam). Produk batu bata tersebut menggunakan label “BATAM” .

Batu bata ini terkenal karena mutunya yang keras dan padat. Karena kualitasnya yang terjamin batu bata keluaran Batam Brick Works kerap memenangkan sejumlah pertandingan di Singapura, Semenanjung Malaysia dan Kawasan Timur Jauh.

Bahkan perusahaan ini pernah mendapat Award pada Hanoi Exposition tahun 1902 dan 1903 di Hanoi, Vietnam dan Penang Agriculture Show di Pulau Pinang tahun 1901.

Batu bata yang diproduksi di daerah Enjin Batu (sekarang di sekitar industri Shipyard di Sagulung) oleh penduduk setempat juga dikenal sangat kuat, kalau dibanting tidak akan pecah.

Pabrik batu bata milik Raja Ali Kelana sudah ini sangat terkenal waktu zaman penjajahan Belanda. Kantor pemasaran pabrik batu bata ini berada di Singapura. Selain Singapura jangkauan pemasarannya juga sampai ke beberapa negara lain.

Dalam menjalankan usaha pabrik batu bata tersebut, Raja Ali Kelana memiliki banyak buruh dan pegawai. Batu bata tersebut dibawa dari Batam ke Singapura dengan kapal.

Bukti-bukti peninggalan pabrik batu bata ini pernah ditemukan penduduk Batam saat kegiatan pembangunan di Batam mulai ramai. Secara tak sengaja ada warga yang menemukan areal pabrik batu bata dan reruntuhan yang sudah tertimbun.

Setelah dibersihkan, ternyata banyak ditemukan batu bata dengan merek Batam. Warga sekitar berebutan untuk mengambil batu bata tersebut untuk membangun rumah mereka.

Dulunya di Enjin Batu, Batuaji tersebut, terowongan tempat pembakaran batu bata milik Raja Ali Kelana sangat tinggi. Saking tingginya, bagi kapal yang berlayar di perairan Batam waktu itu, terowongan tersebut menjadi pemandu.

Pabrik batu bata tersebut juga pernah dibeli oleh Tan Yu She, salah seorang tauke China yang sangat kaya raya di daerah Pulau Buluh. Untuk menjalankan pabrik itu kemudian, Tan Yu She yang juga menjabat sebagai kongsi (atasan tau lo atau kepala kampung), mendatangkan para pekerja dari Singapura.

Selain orang China, banyak juga orang Melayu yang bekerja di pabrik batu bata tersebut. Selain batu bata, Tan Yu She juga mempunyai kebun karet, kelapa, dan durian di Pulau Buluh. Hasilnya dijual ke Singapura. Sekitar tahun 1941, usaha pabrik batu bata ini mengalami kemunduran karena gejolak perang waktu itu.

Tahun 1942, saat Jepang masuk ke Pulau Buluh, pabrik batu bata ini akhirnya tutup. Sementara pekerja-pekerja tetap tinggal di Pulau Buluh. ~ MN Tahar

Print Friendly, PDF & Email