Batam dalam Literatur Sejarah

Ilustrasi: swarthmore.edu

Sebelum masuk ke fase industrialisasi dan globalisasi, pulau Batam dapat dikatakan hanya berbentuk subordinat dari komunitas tradisional yang mendiami gugus pesisir di Riau Kepulauan. Nyaris tidak terlihat denyut kehidupan ekonomi yang sistematis.

Batam di era pra kemerdekaan sampai akhir tahun 1960 – an berbentuk perkampungan nelayan pesisir yang mengikat pemenuhan kebutuhannya pada pulau – pulau yang maju terlebih dahulu seperti Sambu, Belakang Padang, Pulau Buluh dan Temasek (Singapura).

Perkembangan Batam, jika ditelisik sampai jauh ke belakang, terdiri dari beberapa fase atau periodesasi tapak sejarah. Penelusuran sejarah (historical trace) perkembangan pembangunan di Kota Batam dapat dikelompokkan dalam empat periodesasi.Fase – fase tersebut adalah periode prasejarah, sebelum era penjajahan, di kala pendudukan, pasca penjajahan (post colonial period) dan periode terakhir adalah globalisasi ekonomi.

Dalam kontek regional, perkembangan Pulau Batam sebagai bagian dari gugus Kepulauan Riau berkaitan erat dengan era Kesultanan di Riau Lingga, Kerajaan Malaysia dan modernisasi Singapura.

Sumber-sumber sejarah Melayu klasik misalnya Malay Annals yang ditulis tahun 1535 Masehi menunjukkan, kerajaan kuno Melayu pertama terbentuk sekitar tahun 1.000 Masehi yakni dengan bermigrasinya suku Mongoloid dan Indo-Aryans. Akhir kekaisaran klasik muncullah kesultanan Islam di Malaka dan Bintan sejalan dengan imperialisme dan kolonialisme Eropa (Portugis, Belanda dan Inggris).

Tahun 1500, Riau Kepulauan berada dalam sistem pemerintahan Kesultanan Islam Malaka, dan ketika Malaka ditakluk oleh Portugis, tahun 1513 Sultan Mahmud pindah ke Bintan. Di tahun yang sama gugusan kepulauan Riau (termasuk Batam dan Singapura) masuk dalam Kesultanan Johor.

Di kala itu Singapura dikenal sebagai sebuah pulau nelayan yang disebut juga Temasek di bawah kekuasaan Temanggung (territorial chief). Pada periode ini, kekuasaan kesultanan Johor melingkupi Semenanjung Malaysia, Daik Lingga, Penyengat, dan Sumatera Timur.

Sejarah juga mencatat perlawanan pahlawan nasional Raja Haji Fisabilillah terhadap penjajahan Belanda di Riau Kepulauan.Batam pra kemerdekaan oleh beberapa ahli sejarah dan teruji dalam forum ilmiah dibagi menjadi beberapa tahapan besar yakni masa kedudukan Temenggung di Bulang (1722-1819), wilayah Nongsa di bawah Yang Dipertuan Muda Riau (1829-1896), embrio kawasan industri dan penanaman modal asing (1890-1913) dan periodesasi Pulau Buluh.

Kemudian Batam pada periode pasca kemerdekaan dapat ditelusuri dari peran Pulau Buluh, yang kemudian beralih ke Belakang Padang dalam daerah administrasi Kabupaten Kepulauan Riau (kini Kabupaten Bintan) mulai tahun 1957.

Dalam masa ini tidak ada yang istimewa sampai Jakarta mencurahkan perhatiannya kepada Batam karena letaknya yang demikian strategis. Posisi Batam yang strategis mencuat ketika Indonesia memasuki era konfrontasi.

Presiden Soekarno dalam pidatonya yang disiarkan RRI secara tegas menyatakan sudah mempersiapkan suatu kawasan terdekat untuk menandingi Singapura. Kawasan yang dimaksud diyakini adalah Pulau Batam.

Cukup memungkinkan gambaran tentang potensi Batam untuk dikembangkan sebagai tanah harapan diperoleh dari laporan Soeharto, kala itu menjabat Panglima Komando Strategi Angkatan Darat (Pangkostrad) berpangkat Mayor Jenderal. Soeharto pernah mendarat di Batam lewat Duriangkang.

Geliat sejarah modernitas Batam memang bermula dari Soeharto, ditandai dengan terbitnya Kepres Nomor 65 Tahun 1970. Ini dapat dianggap sebagai satu periode yang berlanjut sampai munculnya Otorita Batam (OB) dengan Kepres Nomor 41 Tahun 1973.Kemudian Batam juga ditetapkan sebagai Kotamadya Administratif dalam Provinsi Riau (1983) dengan wali kota pertama Ir H Raja Usman Draman yang dilanjutkan dengan RA Azis dan Nazief Soesila Darma sebagai caretaker wali kota.

Kemudian melalui Undang-undang Nomor 53 Tahun 1999, Batam ditetapkan sebagai Kota Otonomi, yang kemudian ditandai dengan pengalihan sejumlah kewenangan dari OB (sekarang BP Batam) ke Pemerintah Kota Batam setelah untuk pertama kali, Walikota Batam Drs H Nyat Kadir yang berpasangan dengan Asman Abnur, SE, MM terpilih sebagai kepala daerah otonom. ~MN Tahar

 

Print Friendly, PDF & Email