Bukit Kemuning: Dari Lagenda Makhluk Kayangan Bertikar Terbang

Ilustrasi: forestdigest.com

Salah satu kawasan perbukitan yang agak tinggi di pulau Batam terletak di wilayah kecamatan Sei Beduk antara Muka Kuning dan Tanjung Piayu. Kawasan ini dikenal dengan nama Bukit Layang Angin. Nama Bukit Layang Angin diambil dari sebuah legenda.

Konon pada masa dulu daerah perbukitan ini sering didatangi oleh makhluk dari kayangan yang turun dengan tikar terbang atau tikar pelayang. Oleh sebab itu penduduk sekitarnya menamakan tempat ini sebagai Bukit Layang Angin (sekarang Bukit Kemuning).

Namun demikian halnya setelah abad ke-17 manakala Batam mulai ditempati oleh penduduk pada tepian pesisirnya, daerah ini menjadi tempat tinggal bagi orang suku asli pedalaman, ada yang menyebutkan Suku Sakai, seperti di daratan Riau.

Mereka menghidupi keluarga dengan mencari damar, rotan dan minyak kayu yang kemudian ditukar dengan bahan makanan dari kampung lain.

Seorang keturunan suku pedalaman bernama Tumat disebut-sebut sebagai keturunan suku Sakai yang keturunannya juga sudah berbaur dengan masyarakat tempatan dan memeluk agama Islam.

Pada tahun 1943, perbukitan ini sempat dijadikan tempat pemantauan pesawat terbang musuh oleh tentara Jepang karena ketinggiannya yang cukup memadai.

Setalah masa penjajahan Jepang berakhir, bukit ini ditempati oleh beberapa bulan oleh para lanun Bintang Tiga pada tahun 1949. Di kawasan bukit ini terdapat sebuah goa dan di sampingnya ada air terjun yang mengalir hingga ke Kampung Setenga sehingga bukit ini banyak dikunjungi orang. Bukit Layang Angin berada di sebelah kanan menuju Tanjung Piayu dari arah Muka Kuning. ~

Ditulis ulang oleh: MN Tahar
Sumber cerita: Tatang Surya Priatna

Print Friendly, PDF & Email