Kampung Patam: Didirikan oleh Ulama dari Pahang

Ilustrasi: google.image

Tersebutlah Said Ahmad Abu Bakar al Jufri yang berasal dari negeri Pahang dengan menyebarkan agama Islam ke daerah pulau Batam pada tahun 1813. Beliau telah banyak berkorban tenaga dan pikiran untuk membuka perkampungan ini, yang awalnya dinamakan Bukit Pertapaan.

Titik asal kampung Patam berada di sekitar Puri Indah Golf. Patam yang ada sekarang telah bergeser ke hulu sungai Mentarau yang dinamai Patam Lestari.

Adapun Bukit Pertapaan ini sekarang dikenal dengan nama Bukit Harimau. Pada masa kepemimpinan beliau sebagai penghulu dan ulama, kampung ini sangat tertib dengan hukum agama. Pantang larang tidak boleh dilanggar seperti memakai kopiah bagi kaum lelaki yang menganut Islam.

Setelah penduduk semakin bertambah dengan kedatangan orang dari negeri Siak dan Sulawesi maka diangkatlah seorang lagi kepala kampung dari suku Bugis Bone bernama Pa’ Ali. Pa’ Ali beristerikan keturunan bangsawan dari Siak.

Pada masa antara Pa’ Ali dan Said Ahmad Abubakar al Jupri, perkampungan ini tertib dan rukun. Di kampung ini juga pernah tinggal seorang panglima Melayu bernama Umar yang dianggap pemberani menumpas lanun. Panglima Umar mangkat tanpa meninggalkan keturunan dan dimakamkan di Pulau Penjahit Layar dekat Setoko pada tahun 1930.

Sedangkan Said Ahmad al Jupri wafat pada tahun 1927 dengan meninggalkan sebuah kitab Bayanul Arqan Sunnah wal Jama’ah yang diwariskan pada tahun 1933 kepada keponakannya bernama Kecik bin Ahmadi.

Kecik al Ahmadi menjadi ulama menggantikan pamannya selama 19 tahun yang kemudian digantikan oleh kerabatnya bernama Samsudin bin Lebat. Selanjutnya pada 1963 – 1965, Patam dipimpin oleh Hamzah Usman yang berkedudukan di Tanjung Uma.

Salah satu upaya pelebaran kampung Patam pada waktu kepemimpinan Said Ahmad al Jupri adalah dibukanya kampung baru bernama Tanjung Pinggir. Sewaktu akan membuka perkampungan ini beliau bersemedi semalam di tepi pantai dengan tujuan meminta izin kepada Allah atas pekerjaannya.

Keesokan harinya setelah selesai dari semedinya beliau memandang ke arah laut yang didapatinya telah menjadi sebuah galian yang digenangi air (lopak). Lalu ia berkata pada para pengikutnya: “inilah petunjuk dari Allah untuk kita membuka kampung Tanjung Pinggir”.

Tanjung Pinggir waktu itu ditampati oleh salah seorang muridnya yang bernama Wahid bin Subuh yang keturunannya diyakini masih berada di sekitar Batam. Di Tanjung Pinggir terdapat pemakaman tua yang di atasnya berdiri penginapan. Namun pada tahun 1983, ketika ahli warisnya mengetahui hal itu, mereka meminta kepada pemerintah agar makam tersebut dipindahkan ke Sei Temiang.

Daerah ini kini berhampiran dengan stasiun Radio Batam FM dan di sekitarnya kini menjadi lokasi wisata dan resort kawasan Tanjung Pinggir, Sekupang. ~

Ditulis ulang oleh: MN Tahar
Sumber teks asli: Tatang Surya Priatna

Print Friendly, PDF & Email