KOLOM | Ranjang Kematian Filsafat

Cosmic Ritual: parablevisions.com

Oleh Muhammad Natsir Tahar

Saat ditanya oleh Napoleon Bonaparte, Pierre Simon Laplace dapat menjelaskan teorema dan postulat alam semesta tanpa tempat bagi Tuhan. Tapi lewat Principia, Isaac Newton justru menegaskan gerak semesta dipicu sang Maha Cerdas, ada Tuhan dalam teori gravitasi, dan dalam fisika manapun.   

Ketika sains dirajang, saintis gagal menemukan Tuhan di dalam hukum Fisika. Tidak dalam matematika pun kimia atau biologi. Padahal sains kata Galileo, adalah cara Tuhan berbicara kepada manusia, dalam bahasa matematika. Galileo teguh meski dia diburu oleh “kaki tangan” Tuhan karena mengatakan bumi ini bulat.

Menyusul revolusi industri, ilmuan Barat membaringkan tuhan di ranjang kematiannya. Tuhan mereka yang dulu tegap dan bergegar di atas ketinggian, makin dilihat lemah dan terlalu tua. Asbab, kisi-kisi teologi yang mereka dapatkan dipenuhi hutan larangan bagi pijakan logis sains.

Sehingga Newton bagi mereka, dapat menjelaskan mekanika dan kalkulus, atau optika dan hukum gerak dengan sempurna tanpa perlu menambah catatan kaki tentang Tuhan. Tuhan adalah bonus yang dibawa Newton yang bisa didapatkan secara terpisah.

Baik teis dan ateis di sana masih mengelukan Albert Einstein, kemana sang genius ini berpihak. Frasa Tuhan tidak sedang bermain dadu, menurut kaum teologis adalah konfirmasi bahwa Einstein lebih dari seorang agnostik.

Namun Richard Dawkins melalui The God Delusion, mencoba membocorkan bukti-bukti bahwa Einstein keluar dari belief system. Bahkan di sampul bab pertama buku tersebut, ia mengutip Einstein: I don’t try to imagine a personal God; it suffices to stand in awe at the structure of the world, insofar as it allows our inadequate senses to appreciate it. __ Albert Einstein.

Lalu apa yang terjadi dengan eksistensi sains dalam lini masa Islam? Saya ingin mengutip Bertrand Russell, seorang Filsuf, ahli matematika dan Peraih Nobel sastra (1950) dari Inggris. Dia menyebut, antara teologi dan ilmu pengetahuan terletak suatu daerah tak bertuan. Daerah ini diserang baik oleh teologi maupun sains. Daerah tak bertuan ini adalah filsafat.

Dunia Islam terutama Jazirah Arabia memiliki 500 tahun tak terpatahkan, himpunan decak kagum para pemikir Barat yang mekar sesudahnya. Di jazirah ini, Alexander the Great, murid Aristoteles mencecerkan buku – buku filsafat Athena, yang justru dibakar dan disembunyikan di negeri asalnya.

Filsafat adalah ibu kandung ilmu pengetahuan. Ia yang melahirkan sains dan menegurnya bila sains berpuas diri. Menyusul munculnya kaum Aristotelian dan Neo-Platonik di Jazirah Arabia, wilayah ini menjadi ibukota sains dunia.

Sebelum Florence terkesima oleh kuntum renaisans, dimulai seribu tahun sebelum itu, para pemikir Islam sudah menjadi ahli pada bidang astronomi, astrofisika, arkeologi antropologi, kedokteran, farmasi, biologi, neurosains, kimia, ekonomi, sosiolog, geografi, ilmu bumi, matematika, fisika, psikologi, psikiatri, neuropsikologi, sains politik, sejarawan, dan desain.

Ketika Barat masih merasa berhutang banyak kepada saintis klasik Muslim dan tak henti membicarakannya hingga di forum milenial, tak lagi terdengar kabar siapa pemegang estafet Ibnu Sina, Al Farabi, Al Kindi dan ratusan lainnya hingga kepada Musa al-Khawarizmi, Bapak Algoritma dunia dari Baghdad, yang darinya sistem komputer dan artificial intelligence (AI) bisa dikembangkan.

Punahnya kaum pemikir di era Islam kontemporer tak semata dipicu oleh aneksasi Hulagu Khan yang membakar Baghdad dan menghanguskan semua buku, tapi juga anggukan terlalu keras kepada fatwa Al Ghazali yang memecat filsafat dari khazanah Islam. Kendati kemudian ia menjadi Bapak Sufisme yang merupakan elemen dari filsafat, yang dalam level tertentu serupa dengan stoikisme dan fatalisme.

Ada semacam fobia bahwa filsafat akan terus bising untuk menagih landasan logis tentang ajaran Tuhan sehingga mendorong umat tersesat. Padahal teologi Islam telah dapat bercakap-cakap dengan filsafat dan hampir tidak dalam posisi saling meniadakan. Hanya sedikit ruang hampa tersisa, ruang transendental yang memang tak bisa dijejak oleh filsafat.

Filsafat tidak semata mengurus langit, ia juga dapat bercakap-cakap tentang bumi. Ia mampu mematah mitos, membantah etika palsu, membungkam feodalisme, memacu penyelidikan ilmu, serta mampu mengembalikan kejayaan Islam bagai lampau. Dengan mengingat Indonesia sebagai pemeluk Islam terbesar di dunia.

Antara teologi dan ilmu pengetahuan terletak suatu daerah tak bertuan. Daerah ini diserang baik oleh teologi maupun sains. Daerah tak bertuan ini adalah filsafat. Sayangnya, filsafat sedang tidak ada di sana, ia telah dihalau oleh politik kekuasaan.

Para oligarki sedang memanipulasi mitos-mitos tentang negara. Ada kawin silang antara politik dan filsafat, yang kita sebut filsafat politik, tapi itu tidak digunakan, karena ia mampu membongkar etika palsu yang sudah dibangun, tentang demokrasi bernafas feodalisme misalnya, dan banyak lagi hingga tak cukup semalam suntuk menulisnya.

Alexander the Great sebagai tiran paling epik penakluk dunia, telah mencecerkan buku-buku filsafatnya di jazirah Arab. Apa yang ia dapatkan hanyalah kekuasaan, bukan pikiran. Walaupun ia murid Aristoteles. ~

 

Print Friendly, PDF & Email