Batu Merah: Pak Merah Sang Pengumpul Batu

Ilustrasi: yopiefranz.com

Daerah ini terletak tidak jauh dari Tanjung Sengkuang yang baru ditempati penduduk pada tahun 1960-an. Di muara sungai tersebut terdapat sebuah rumah, sedangkan di hulunya mulai dihuni oleh orang Jawa dan berkembang menjadi perkampungan sepanjang tahun 1979 hingga 1983. Kawasan ini diberi nama Melcem hingga sekarang.

 

Pada tahun 1949 daerah ini hanyalah merupakan sebuah perkampungan nelayan yang kecil. Di pinggir pantai terdapat kelong-kelong Betawi yang diusahakan oleh orang Tionghoa melewati sebuah tanjung bernama Tanjung Datok. Di kampung ini terdapat lagi sebuah perkampungan baru yang dinamai Batu Merah yang sebelumnya disebut dengan nama Perkampungan Rumah Sembilan.

Adalah seorang pendatang berasal dari Sulawesi Selatan bernama Daeng Tambak yang pertama membuka tempat tersebut. Pembukaan kampung diteruskan oleh Pak Merah yang saban hari mengumpulkan batu-batu karang untuk dijual sebagai bahan pondasi bangunan. Pada tahun 1976, kampung ini mulai ramai ditinggali.

Warga pendatang yang melihat pak Merah sebagai seorang pengumpul batu kemudian memberi nama kampung ini sebagai Batu Merah.

Berhampiran dengan Batu Merah terdapat sebuah kampung yang bernama Batu Ampar dari asal nama batu yang di dalam legenda terkenal dengan kisah Si Badang melempar batu tersebut dari Singapura hingga sampai ke tepian Batam tepatnya di Batu Ampar. Sempena dengan legenda tersebut tempat terdamparnya batu Si Badang ini dinamakan Batu Ampar.

Daerah ini dahulunya ditempati oleh kerabat diraja dari Pulau Penyengat yang dibuka oleh marhum ayahnda Raja Putera. Lahan perkebunan beliau telah ditebas sebagai areal PT Ingram (sekarang Mc Dermott) pada tahun 1958. PT Ingram merupakan perusahaan pertama dan tertua di pulau Batam. ~

Ditulis ulang oleh: MN Tahar
Sumber teks asli: Tatang Surya Priatna 

Print Friendly, PDF & Email