KOLOM | Humanisme

Ilustrasi: scientificamerican.com

Oleh MN Tahar

Apakah kita seperti semut di bawah kaca pembesar? Berlalu lalang dalam keteracakan (keteraturan), dengan gerak gerik yang dituntun oleh algoritma genetik. Tetaplah ragu bahwa kita punya kehendak bebas. Kita sedang dalam kendali terus menerus. Kita tidak sendiri, ada entitas superior di atas kita. Menatap dari ketinggian dan menuntun penuh.

Pabila demikian adanya, para pendekar kehendak bebas, para pemikir keras eksistensialisme di penghujung abad 19 dan awal 20, hanyalah kilatan sekejap dari sebentang panjang sejarah umat manusia. Kierkegaard, Sartre, Heidegger, Kafka, Camus, Nietzsche misalkan, telah berjuang keras untuk memanusiakan para Sapiens yang terlalu lama (ikhlas) dalam kurungan pikiran.

Eksistensi mendahului esensi yang dibahanakan oleh Sartre berkisar soal keterpencilan eksistensi manusia dari apapun label ditanamkan pada dirinya, termasuk profesi, stereotipe, definisi, atau kategori dan ragam esensi lainnya yang diatribusikan oleh orang lain atau sistem.

Bila mulai bosan, buanglah teori-teori itu ke keranjang sampah, tempat kita menumpuk semua kisi filsafat, untuk berlenggang di jalan pop. Kultur pop adalah suatu belokan di atas permukaan, untuk keluar dari tarikan dua kutub: determinisme dan eksistensialisme.

Sampai kepada Hegel, Spinoza dan Kant, pemikir klasik menganggap bijak bestari kaum shopis adalah mereka yang berpaham Stoa. Adalah mereka – mereka yang dituntun oleh kode etik, keteraturan, esensi individual, serta menjadi elemen terpenting bagi Ilahi untuk menjaga keteraturan di bumi.

Yang menjadi sama untuk kaum Stoik klasik dan pejuang eksistensialis adalah mereka sama-sama menolak tirani dan perbudakan. Mereka sama-sama ingin mengangkat kerah para kaisar dan oligarkis yang semena-mena.

Stoa mementingkan ajaran moral dan nilai universal, sedangkan kaum humanis lebih menjurus kepada memutuskan semua teraju yang mengekang kemanusiaan, atas dasar kesamaan derajat dan potensi manusia. Semua manusia mestinya adalah super human, kira-kira begitu  maunya Nietzsche.

Kita bisa uji apakah determinisme atau kehendak bebas yang menang. Kita tidak bisa memilih untuk lahir dari rahim siapa dan di atas kerak bumi yang mana. Kita diberi nama, diberi agama, ditumbuhkan, diasuh oleh semua ikatan, norma, nilai, moral, istiadat, sekolah, negara, dan aturan tak tertulis apapun.

Semua itu adalah temali yang sedang mengikat kemanusiaan kita, dengan cara yang paling sopan sekalipun. Kepada kita kemudian diberikan label, jenama, streotipe, definisi, kategori, apapun dan kita diikat olehnya. Setelah dewasa kita semakin mengikat diri ke dalam profesi, nasionalisme (semua isme), pilihan politik, sekte, mode, protokol, kerapatan adat, pertemanan, pernikahan dan papan bertuliskan “Jangan buang sampah di sini”.

Di dalam diri kita. Kita diatur oleh algoritma biologis. Cara kita berjalan, warna suara, jenis tertawa, dan cara kita bereaksi terhadap lingkungan telah ditentukan oleh sifat bawaan. Legenda Siti Nurbaya dibuat untuk mengutuk kawin paksa. Padahal semua perkawinan adalah paksaan.

Kita tak punya kehendak bebas untuk mencintai siapapun. Semua itu adalah impuls dari reaksi kimia di dalam otak kita. Siti Nurbaya dipaksa oleh Datuk Maringgih, tapi Romeo dan Juliet (jika menikah) dipaksa oleh cinta, sesuatu yang berada di luar kendali mereka. Sesuatu yang bukan kehendak bebas. Qais bahkan menjadi majnun, karena tak kuasa melawan cinta pada Laila. Apakah kita membuat jadwal untuk membenci seseorang pada Kamis pagi pukul delapan?

Apalagi? Bahkan pengemudi serampangan sekalipun yang merasa paling punya kehendak bebas, sedang dalam kendali penuh entitas di atasnya. Kita menyebutnya Tuhan. Tuhan yang mengikatnya untuk menabrak seseorang sebagai cara mati, atau cara mati untuk dirinya sendiri, atau dia selalu diselamatkan karena jalan ajalnya berbeda.

Babak humanisme hampir benar-benar tamat. Ketika bermunculan para ahli yang menyebut kehendak bebas hanyalah ilusi setelah terhasut oleh Darwin, Huxley, dan Einstein. Pikiran kita tidak nyata, kata Profesor Donald Hoffman.

Kita benar-benar dalam manipulasi semesta. Artinya Sartre dkk sedang dirumahkan oleh pemikir modern dan klasik sekaligus. Terimpit di tengah-tengah dan meninggalkan pemujanya dalam kebingungan. Apakah kemanusiaan kita akan tamat. Ilmu budaya dan penyelidikan akal budi harus permisi?

Menurut William Klemm, Ph, D, para ilmuan telah membuat serangkaian eksprimen untuk membuktikan bahwa otak membuat keputusan bawah sadar sebelum ia menyadarinya. Dalam eksperimen tipikal yang mendukung kehendak bebas ilusif, seorang subjek diminta menekan tombol secara bebas kapan saja dan memperhatikan posisi penanda jam bila dia merasa menghendaki terlebih dahulu gerakan untuk menekan tombol tersebut.

Pada waktu yang sama, aktivitas otak dimonitor tepat pada bagian pengendali mekanika gerakan. Hasil observasi ini mengejutkan, ternyata subjek memperlihatkan perubahan aktivitas otak sebelum dia berniat membuat gerakan. Dengan kata lain, alam bawah sadar diduga terlebih dahulu menerbitkan perintah sebelum pikiran sadar sempat memutuskan untuk bergerak.

Mari kita lakukan penyelidikan mandiri, di mana kita benar-benar menggunakan kehendak bebas. Para determinis menyebut kita telah dan sedang dalam pengendalian penuh Tuhan, dan para sekuleris ultra modern, sebutlah Bostrom dari Oxford, Terrile dari Nasa, dan Elon Musk si Raja Tesla, menemukan landasan logika bahwa kita sedang berada dalam dunia simulasi di bawah pengawasan entitas superior di luar sana. Lalu oleh para saintis, kehendak bebas dianggap sebagai ilusi.

Siapa pemenangnya? Kita bisa menguji metode Quantum Ikhlas yang dikembangkan Erbe Sentanu. Dinyatakan, seluruh masalah di dunia ini lebih mudah diselesaikan dengan metode pasrah kepada Sang Pengatur. Gelombang otak kita harus satu frekwensi dengan Tuhan dan semesta.

Di sini kehendak bebas harus dibebaskan, karena mungkin benar-benar tidak ada, hanya ilusi. Pula dalam metode tindakan tepat, naluri selalu lebih unggul dari kehendak bebas. Bila demikian, haruskah semua buku tentang kemanusiaan ditulis ulang? Lalu semua penyair dan budayawan dipecat dari peradaban?. ~MNT

 

Print Friendly, PDF & Email