Kampung Bagan: Tempat Berkemah saat Membuka Hutan

Ilustrasi: google image

Pada masa Kerajaan Riau Lingga, beberapa keturunan dan kerabat sultan banyak yang menyebar ke Pulau Batam yang waktu itu berpusat di Nongsa. Masyarakat yang terus berkembang lalu membuka wilayah pemukiman baru atas titah pihak kerajaan.
Salah satu lahan yang dibuka oleh Tengku Nong Isa adalah Kampung Bagan. Kampung ini mula dihuni oleh warga Nongsa bernama Wak Tanjung. Beliau membuka daerah ini pada tahun 1879 dengan cara bebagan alias berkemah di dalam hutan setelah menebangi lahan untuk ditanami kebun buah-buahan.
Daerah tersebut awalnya diberi nama Tanjung Bagan yang artinya adalah tanjung tempat berkemah. Sebutan Tanjung Bagan dapat dijumpai pada peta pertama yang dibuat oleh Belanda pada tahun 1938.
Lahan atau tanah raja yang dijadikan tempat bebagan ini sekarang tepatnya berada di daerah sekitar masjid tua At–Taubah, Kampung Bagan. Setelah lahan tersebut selesai dikerjakan maka yang menempati pertama adalah putera dari Raja Mahmud yaitu Raja Muhammad Arif bersama dengan sebagian penduduk lainnya.
Setelah itu beberapa orang dari suku Tionghoa juga membuka lahan tersebut untuk berkebun. Sedangkan Tanjung Bagan sebagai bagian dari Kampung Bagan yang asli dibuka oleh Wak Gandut.
Diyakini keturunannya masih menetap di wilayah ini, demikian juga keturunan dari Wak Tanjung sebagai orang pertama yang mendirikan kemah di perkampungan tersebut. Kampung Bagan ini terbilang sebagai kampung tertua setelah Nongsa.
Pada tahun 1965 kampung ini juga pernah dijadikan salah satu dari markas TNI (KKO) sebagai tempat penyimpanan amunisi dan stok bahan makanan serta obat-obatan, sedangkan markas besarnya berpusat di Duriangkang.
Kehadiran anggota KKO tersebut banyak memberi arti kepada penduduk sekitar Kampung Bagan dan salah satu jasa yang ditinggalkan oleh mereka adalah memberikan pengetahuan tentang tulis baca dan pelatihan sepak bola. ~
Ditulis ulang oleh: MN Tahar
Sumber teks asli: Tatang Surya Priatna 
Print Friendly, PDF & Email