RESENSI | Membaca NKRI Bubar: Dari Pesimisme ke Optimisme

 

Oleh Muhammad Ivan*

 

Judul: Menakar NKRI Bubar

Penulis: Ahmad Khoiri, dkk

Penerbit: Harakatuna, Jakarta

Cetakan: Pertama, 2021

Tebal: xxii + 292 halaman

ISBN: 978-623-93356-5-6

 

Membaca buku berjudul Menakar NKRI Bubar karya Ahmad Khairi dkk layaknya menu lengkap yang merepresentasikan Indonesia yang problematik. Menakar atau measure (mengukur) NKRI akan bubar dalam buku ini bukan suatu pesimisme, melainkan suatu cara penulis untuk menyadari tanda-tanda yang membahayakan NKRI suatu saat nanti.  

Sebagai pengantar buku, Azyumardi Azra menyayangkan sebagian umat Islam yang masih memainkan politik identitas, dalam konteks ini, populisme Islam dianggap akan berdampak makro yang dapat menumbuhkan konflik horizontal. Selain radikalisme, separatisme menurut Azyumardi Azra perlu mendapat perhatian ekstra bukan hanya oleh negara, melainkan kita sebagai warga negara. Buku ini terbagi dalam empat bab, mulai dari Bab I Fenomena Kerawanan NKRI, Bab II Belajar dari Negara Gagal, Bab III Potensi Indonesia Bubar, dan Bab IV Optimisme Indonesia Maju.

Pada Bab I pembaca diajak untuk mengingat lagi secara historis beberapa persoalan kebangsaan yang berkaitan dengan radikalisme dan separatisme, seperti GAM, perang yang menyebabkan lepasnya Timor Timur dari NKRI, lahirnya negara Negara Islam Indonesia (NII) seperti patahan-patahan sejarah yang cukup menjadi bukti betapa kerawanan NKRI bubar itu begitu dekat. Persoalannya, kerawanan tersebut hanya membagi kubu Islam yang radikal dan yang moderat, namun keduanya saling melahirkan kelompok-kelompok Islam yang saling berhadapan. Inilah yang ditakutkan menghasilkan friksi-friksi antar umat Islam pada pemilihan umum tahun 2024 dan 2029 nanti.

Untuk memahami Bab I dan seterusnya, pembaca diajak untuk memahami populisme Islam secara detail. Munculnya studi populisme yang berkembang pesat antara tahun 1950-1960. Celakanya dengan menerapkan konsep “rakyat”, para populis secara ideal dapat menyatukan pemahaman tentang ‘rakyat’ (rakyat yang berdaulat), dan ditekankan bahwa dalam negara demokrasi, penguasa berada di bawah UU.

Diterangkan pula bahwa konsep populisme itu negatif, berbahaya dan rentan memecah  NKRI. Sebelum terjadinya “Ahok Effect,  sudah muncul pemicu yang disebut penulis sebagai nafas atau denyut nadi yang dihidupkan mealui Aksi Bela Islam I tahun 2016 sampai Aksi Bela Islam VII tahun 2017. Saat Ahok divonis dua tahun penjara, muslim sayap kanan merasa sudah menang.

NKRI bubar dalam buku ini ditandai secara filosofi melalui serbuan ideologi transnasional dengan tujuan merobohkan NKRI. Jika dilakukan terus menerus bukan mustahil, Pancasila akan tumbang juga. Pembacaan penulis memperkirakan pemilihan presiden tahun 2029 akan sangat ditentukan bagaimana sikap dan pemikiran apa yang penting untuk menyelamatkan generasi ke depan dari konflik-konflik yang sebenarnya tidak perlu, terkhusus ide besar apa yang membuat NKRI tidak bubar.

Dimensi tentang muslim diulas karena pergesekan dan irisannya berserakan dimana-mana, dari interaksi informal sampai ke institusi pendidikan. Ketidakharmonisan antar sesama dan rasa saling curiga di media sosial menjadi sebuah bukti nyata bahwa pendidikan karakter belum menjadi instrumen pelerai perbedaan. Ibarat ada orang yang ditabrak mobil, korban bukan lagi ditolong, namun sebagian malah memvideokan bahkan sampai hati mempublikasikan konten kecelakaan tersebut tanpa sensor. Kurangnya kontrol orang tua juga memiliki andil terhadap pilihan ideologi anak yang berada di dunia pendidikan dan lingkungan pergaulan yang menyebabkan banyak pemudi/a memiliki ghirah keagamaan yang kuat namun minus sikap kritis/skeptis. Bagaimana mau kritis toh minim pengetahuan, sudah terlanjur sayang hingga akal sehat pun tersingkir.

Kerawanan lainnya yang tumbuh berkembang sejak tahun 1950 hingga tahun 2000-an ke atas seperti Konflik Papua, Gerakan Aceh, Republik Maluku, dan Gerakan Minahasa menjadi catatan hitam yang merusak poros NKRI yang menyebabkan persoalan agak sulit terselesaikan. Dengan kata lain, NKRI belum move on menuju tahap yang lebih serius lagi. Terlalu banyak drama sehingga masyarakat bawah semakin sulit “naik kelas”, dan wajar jika kita temui kemiskinan di daerah dari mulai buyut, kakek, bapak, dan anak muda belia mesti mengubur dalam-dalam impiannya karena keterbatasan akses dan mutu pendidikan di daerah.

 

Sebelum NKRI Bubar

Jika buku ini menghindangkan menu yang lengkap, ada benarnya. Mengukur kapan NKRI bubar juga harus diimbangi dengan data Fragile State Index (FSI) yang memuat 12 indikator. Satu langkah menuju bubar, maka negara tersebut harus “fragile” (rapuh) terlebih dahulu. Berdasarkan survei Fund for Peace tentang FSI, Indonesia hanya mendapat status buruk pada dua indikator “demographic pressure” dan  “group grievance.” Indikator pada dua hal ini menunjukkan posisi Indonesia terus memburuk dalam enam tahun terakhir (2007-2012). Demographic pressure atau tekanan demografi, seperti bencana alam, penyakit, dan polusi. Sedangkan group grievance antara lain adanya diskriminasi, penindasan, dan kekerasan terhadap etnis. Dalam FSI 2012, Indonesia menduduki peringkat ke-63 dari 178 negara.

Patut menjadi perhatian bahwa menurut worldpopulationreview.com, sayangnya, upaya Indonesia dalam pendidikan keluarga berencana dan pengendalian populasi belum terlalu berhasil, dan sulit untuk mengatakan seberapa besar pertumbuhan berkelanjutan negara ini.  Ada 12 indikator yang diperhitungkan untuk melihat seberapa fragile sebuah negara (terlampir, sumber: fragilestatesindex.org/indicators/).

Di tahun 2021, sementara adapun empat indikator lainnya yang dinilai stagnan adalah legitimacy of the state (legitimasi negara), human rights, security apparatus (aparat keamanan), dan factionalized elites (pertentangan elite). Perhitungan ini dengan perhitungan antara tahun 2000 dan 2010, Indonesia mengalami tingkat pertumbuhan penduduk tahunan rata-rata 1,49%. Perubahan pertumbuhan tahunan Indonesia sekitar 1,07% untuk tahun 2020. Artinya, penduduk Indonesia saat ini bertambah sekitar 2,73 juta orang per tahun.

Hal yang kemudian penting untuk dicermati, berkaitan dengan soal desentralisasi. Pasca reformasi 1998, pemekaran banyak terjadi. Meskipun fokus pembahasan lebih banyak terjadi soal Papua. Wacana lain yang berkaitan dengan potensi Indonesia bubar berkaitan dengan demokrasi vis a vis populisme Islam yang tumbuh subur dua dekade lebih. Dua kutub ini sayangnya tak lebih dari hingar bingar warna warni perbedaan, namun tanpa mendukung penguatan human capital yang dibahas di Bab IV Optimisme Indonesia Maju.

Carut marut demokrasi yang lebih mengedepankan politik identitas dan kepentingan pragmatis, sementara populisme Islam hanya menyuguhkan “surga” dan “neraka” disertai simbol keagamaan yang kuat, tanpa ide-ide penemuan yang mengakomodir kepentingan ekonomi umat. “haram”, “kafir”, dan wacana kontras seolah tak pernah berakhir dan semakin mengubur hal-hal besar yang berpotensi menguatkan generasi di masa mendatang. Spirit membenci perbedaan bahkan sudah diajarkan sejak dini atas nama agama dan Tuhan. Padahal kita tak pesan pada Tuhan dari rahim siapa kita dilahirkan.  Bagaimana kita tak khawatir, menurut survey Saiful Mujani research and Consulting (SMRC), ada 9,2 persen responde Indonesia setuju mengganti NKRI menjadi sistem kekhilafan.

Dengan kekuatan usia produktif yang akan menjadi pilar bonus demografi tahun 2030,  tentu saja harus kita akomodir dengan semangat untuk mengenal siapa yang sebenarnya common enemy kita. Sedikit mengkritis IPM (Indeks Pembangunan Manusia) yang memang terus meningkat, ini pun sebenarnya angka yang abu-abu, mengapa? IPM secara tidak langsung menyatakan bahwa “kita sedang baik-baik saja”, padahal “tidak”.

Di halaman 203, penulis membincangkan soal pemerataan pendidikan yang sebenarnya menjadi akar yang sangat natural, mengapa radikalisme dan separatisme menjadi begitu mudah diajarkan?  Dari ketiadaan akses dan disparitas ekonomi yang cukup tinggi dapat memicu adanya chaos tak berkesudahan. Mengapa Barat selalu lebih maju dari Timur? Mengapa Papua masih selalu tertinggal? 20-30 tahun lagi jika wacana ini masih dibincangkan dalam narasi anak bangsa, apa yang dikatakan penulis bahwa NKRI akan bubar, bisa jadi dimulai dari daerah-daerah di Timur yang selalu terpinggirkan dalam pembangunan.

Buku ini layak dibaca sebagai bahan diskursus mahasiswa, peneliti, masyarakat, dan pemerhati soal kebangsaan. Dengan memahami tanda-tanda kemunduran bangsa, sebagaimana dikatakan awal bahwa warga negara juga harus memiliki kepedulian terhadap apa yang terjadi di Indonesia, karena akan berdampak sistemik, dan ketidakpedulian hanya akan memberikan ruang kebodohan terus tercipta dari ketidakadaban demokrasi yang mengabaikan minoritas dan sebagian kelompok yang mengatasnamakan agama untuk membenci perbedaan. ***

Print Friendly, PDF & Email