OPINI | Resital Kedunguan

Pror. DR. Yusmar Yusuf, M. Si

Dalam beberapa hari ke depan, kehidupan kita akan berlangsung dalam sejumlah godaan narsistik-ibadah. Semacam pawai kesalihan, festival atau pun turnamen ‘paling dekat dengan Tuhan’, seraya menjarak-jarakkan orang lain dengan Tuhan. 

Ramadhan pada masa ini, berubah sontak menjadi bulan festival para narsismus itu. Mereka mulai membajak ruang-ruang media sosial dengan beragam fitur kekinian, lewat sejumlah aplikasi online media sosial, yang lebih mengedepankan gambar, video, ujaran, yang terkesan mendaku-daku.

Padahal, Ramadhan sejatinya adalah ‘bulan bersenyap’, ‘bulan diam’. Kita lupa, bahwa diam adalah sebuah seni tersendiri, mungkin pula diam adalah pucuk dari semua seni.

Orang berdoa dalam diam. Setelah shalat dengan lantunan resitasi ayat-ayat Al-Quran dengan ‘jahar’ indah menawan, merdumendayu, orang menjalani diam (dizikir dan tafakur).

Jangan kaget, pada bulan suci ini kita akan diserbu oleh sejumlah tabrakan; seseorang (ibu atau gadis remaja) berfoto ria seraya mengenakan mukena lalu dibubuhi komentar: Alhamdulillah telah selesai menunaikan shalat tawarih bersama keluarga. Indahnya kebersamaan.

Sebelum tayang-tayang jenis ini muncul, semua aplikasi media sosial apakah IGFB, atau malah Tik Tok, termasuk WAG keluarga, akan menampilkan gambar, video orang-orang yang sibuk mengucapkan selamat datang Ramadhan, bulan keampunan, bulan maghfirah.

Ada yang berkopiah haji dengan janggut seketul, ada dalam balutan kain sarung Nusantara seraya
kedua tangan bersedekap di dada. Ada pula kesan monarchiisme; si isteri dan anak datang dalam posisi bersimpuh di lantai, memohon ampun dan maaf kepada sang suami perkasa yang duduk di peranginan kursi sang jumawa di sebuah ruang keluarga.

Pokoknya, tampil bak sosialita, dandanan gaya para pencitra sinetron yang terkesan makhluk surga.

Yang lebih heboh itu nanti, semua aplikasi media sosial yang berpembawaan mondial dan semangat
universalisme itu akan disesaki dengan tampilan-tampilan teatrikal yang menggunakan idiom
dan bahasa lokal.

Satu sisi kita sibuk menduniakan cita-cita dan kehendak lewat media mondial, di sisi lain kita sibuk pula mempuritankan diri dengan nilai-nilai lokal-sarkastik, rigid dan banal.

Maksudnya apa? Demi marwah. Walau di tengah serbukan gaya hidup modial dan global, “Dakulah yang bertahan dengan nilai-nilai jati ke-Melayu-an nan islami itu”.

Yang lain? Semua dianggap sebagai segerombolan orang yang merobohkan bangunan “tradisi” Melayu yang berkaidah islam.

Apa pasal? Karena tak mengenakan tanjak, tak berbaju kurung, tak bertutur dalam bahasa dan kaidah Melayu, tak mengenakan songkok, tak berpantun dalam moda pengucapan selamat dan tahniah, tak paham memadankan sampin.

Orang-orang yang tak selari dengan kaidah ini, dimasukkan dalam “proyek menepikan” Melayu. Wahaiii aduhaaiii dan amboiiii nian

Tema-tema tampilan narsistik berikutnya akan mengikuti tema-tema penggalan per sepuluh malam bulan ramadhan itu.

Maka, jangan heran foto dan video dengan sejumlah ujaran dan dengan framing musik islami yang ‘pak ketikpung’ itu akan menabrak hari-hari kita selanjutnya; “Alhamdulillah wa syukurillah, telah tunai puasa sehari penuh dengan berbuka bersama kaum milenial”; tetap ditutup dengan kalimat: “indahnya kebersamaan. Indahnya silaturahmi”.

Begitu miskin kita mempertontonkan diri di depan Tuhan, dengan ucapan-ucapan serba standard yang itu-itu saja. Idiom-idiom yang diulang-ulang, copy-paste dan ulang tayang.

Betapa miskinkanya hamba-Mu ya Allah dalam memajeliskan kata dan frasa di depan Mu.

Mual? Pasti tak mual. Sebab ini adalah bulan festival para narsismus. Hajatnya? agar segenap
orang di Selatan dunia, Utara, Barat dan Timur bumi tahu, bahwa kita sedang menyelenggarakan
perintah Allah dalam nada bergempita.

Kalimat apa lagi dan tampilan bagaimana pula warnanya lagi? Pukau selanjutnya? Foto dalam
temaram malam di antara pilar-pilar ruang dalam sebuah masjid dengan rangkaian kata; “Saat saat yang dirindu-rindukan selama ini, bisa mendirikan shalat tahajjud berjamaah dengan pengurus masjid dalam upaya memuliakan malam dan mengimmarahkan masjid”.

Mual? Pasti tak mual. Sebab, segala ibadah yang bersifat “bersendirian” hari ini telah dihebohkan menjadi “segala berjamaah” dalam gemuruh dan gempita bak pasar, demi membujuk Tuhan.

Yang paling saya khawatirkan nanti; foto atau video berbagi kelebihan rezeki kepada kaum fakir dan anak-anak yatim. Wawww… di sini para duafa mengalami fase-fase eksploitasi kesalehan oleh para urbanis (mereka yang merasa ‘mengkota’).

“Tak cukup ‘mengkota’, tetapi kami adalah sekumpulan kaum muda yang peduli, peka dan aware terhadap fenomena kemiskinan jalanan dan serakan anak-anak tanpa parent”.

Semua keadaan yang terkesan ria ini, harus dianggap sesuatu yang bernilai fardhu oleh desakan-desakan modernitas para ‘urbanis’ yang berkelebihan rezeki.

Memberi kok diumbar-umbar ke depan public. Haiyyaaa… artinya, kalau belum siap memberi, belajar menerima. Bagaimana rasanya, kalau menerima dan menerima terus?

Kata pegiat human interest; antara memberi dan eksploitasi itu jaraknya hanya setipis kulit bawang. Atau malah mengekalkan kemiskinan itu sendiri? Hai entahlah…

Subuh-subuh, kita sudah disentak lagi dengan serangkaian tampilan upload atau postingan di group WA keluarga.

Wah si fulan bertindak bajik, telah mendatangi rumah yatim piatu, panti jompo, atau malah ke kampung-kampung hulu sungai bersua dengan para pelaku (praktik) suluk di sepanjang sungai Rokan dan Batang Nilo di Pelalawan. Apa kegiatannya?; Rujuklah pada sejumlah foto yang terhidang.

Berbagi beras, mengemas rumah dan pemukiman yang terembes banjir, kampung yang terbakar… namun tetap diramu dalam sejumlah kalimat: “indahnya berbagi”. dilengkapi dengan tampilan serba tawadu (berkopiah haji, janggut setual, baju ala fashtunsalwar warna krim atau khaki). Surga seakan menanti…

Selanjutnya? Hati mama sumringah berbunga menyaksikan foto-foto anak milenial berbungkus ibadah “maya” karena jejeran foto dan video.

Padahal si anak subuh tadi baru menyelesaikan satu fase rising motor kebut-kebutan yang mengganggu ketenteraman warga. Knalpot melolong, silang stir dan roda bergerak zigzag dalam jarak-jarak pendek beriringan sejengkal, kecepatan turbo serba tak terduga.

Pejuang seni pusat-pusat kebudayaan; segala puisi berubah sontak dalam label tadarus. Kok puisi pula mengalami fase tadarus.

Eksploitasi apa lagi? Membaca Al-Quran aja tak pernah selama Ramadhan. Segala tampilan seni, dihajatkan untuk mengimmarahkan bulan ramadhan.

Maksudnya memang begitu. Tetapi selalu terbelokkan menjadi cara atau instrumen menjinakkan hati pejabat agar bisa hadir dan sama-sama terlibat dalam pembacaan puisi di atas panggung.

Peristiwa ini tetap ditutup dengan ujaran kalimat: “indahnya kebersamaan dengan Gubernur, dengan Wali Kota”. ”Gubernur dan Wali Kota yang peduli dengan seni islami. Bupati yang berpihak pada kaidah-kaidah seni beralaskan islam”.

Lalu, malam pun menutup hijabnya, gelap pun tiba. Gubernur, Bupati dan Wali Kota menyelenggarakan tidur jelang sahur dengan mimpi berbunga, merindukan putik pagi. Kalimat dan foto atau video apa berikutnya?

Kehidupan kita ternyata “dipergurau” oleh sejumlah posting-postingan…

Print Friendly, PDF & Email