Bangkit dari Ketertinggalan, Pemkab Lingga Diminta Usulkan Wilayah Ekonomi Khusus

Ketua Organisasi aliansi mahasiswa sekaligus Mantan Ketua Ikatan Mahasiswa Kabupaten Lingga (IMKL) kota Tanjungpinang, Muhammad Firman Aqrabi. (F:ist)

LINGGA (marwahkepri.com) – Dewan Presedium Aliansi Pemuda dan Mahasiswa Lingga se-Kota Tanjungpinang, meminta pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lingga mengusulkan Lingga menjadi wilayah Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).

Organisasi aliansi mahasiswa yang dipimpin Muhammad Firman Aqrabi mengatakan, halnya bertujuan agar investor asing lebih tertarik untuk membangun dan mengembangkan KEK di Lingga. Serta membuka lapangan kerja seluas-luasnya, seperti yang diinginkan masyarakat saat ini.

“Kabupaten Lingga harus berlari dari ketertinggalan dan melakukan lompatan jauh ke depan. Saya harap pada pimpinan Nizar-Neko ini bisa melakukan itu,” kata Muhammad Firman yang juga Mantan Ketua Ikatan Mahasiswa Kabupaten Lingga (IMKL) Kota Tanjungpinang, Sabtu (10/04/2021).

Selain itu, menurut dia disamping menarik investasi dan terciptanya lapangan kerja, beberapa pelaku usaha pada KEK yang telah melakukan produksi, sangat berkontribusi menyumbang devisa negara melalui ekspor yang sudah dilakukan ke lebih dari 30 negara senilai Rp5,2 triliun pada 2020 lalu.

“Kami sangat berharap pemerintah lebih jeli dalam menangkap peluang yang ada.

Dengan segala kewenangan yg ada kita bisa usulkan ke pusat agar Kabupaten Lingga ditetapkan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus. Ini mesti diperjuangkan,” tegas dia.

Ia berharap, bupati dan jajarannya tidak hanya terfokus pada upaya mencari dana transfer dari pusat untuk meningkatkan Aanggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD).

Tambahnya, pemerintah Kabupaten Lingga harus mampu berdiri sebagai wilayah KEK. Apa lagi bertumpu pada kawasan pariwisata, karena Kabupaten Lingga dikenal sebagai wilayah yang kaya dengan potensi wisatanya.

“Ini adalah peluang yang sangat baik. Kita punya potensi pariwisata yang tidak ada didaerah lain di Provinsi Kepri, seperti garis khatulistiwa/ekuator, pemandian air panas, serta pusat budaya tamadun melayu yang pada tahun 1999 ditetapkan sebagai “Bunda Tanah Melayu” oleh beberapa negara tetangga dan masih banyak potensi-potensi lainnya,” ucapnya.

Demikian, pihaknya dari generasi muda daerah, sangat mendorong pada pemerintahan Nizar-Neko ini mampu mengambil peluang tersebut, untuk dapat diusulkan dan ditetapkan.

“Nah pada periode selanjutnya mudah-mudahan sudah dapat berjalan.

Hal ini saya kira menjadi nilai plus kita. mari membangun Lingga dengan lebih mengutamakan keperkasaan otak ketimbang kilauan kapak,” tutup dia. (mk/**)

 

Print Friendly, PDF & Email