Melarungkan Bungkusan Ketupat, Simbol Keselamatan Kampung

Proses melarungkan bungkusan ketupat ke sungai. (F:Arpa)

LANTUNAN qalam illahi dan do’a pujian-pujian kepada Sang Khalik terdengar merdu dari kejauhan menyelimuti suasana penyambutan syukuran awal tahun baru Islam 1442 Hijriah di Desa Kudung, Kecamatan Lingga Timur, Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau, Kamis, (19/08/2020).

Tampak satu persatu warga desa dengan pakaian kurung lengkap, datang ke Masjid Babul Ihsan dengan membawa hidangan di dalam dulang (nampan berbentuk bulat). Puluhan warga desa dan beberapa tamu undangan telah berkumpul di ruangan masjid untuk mengikuti serangkaian kegiatan dan melakukan doa bersama awal tahun. Begitupun anak-anak, turut meramaikan suasana syukuran tersebut.

Puluhan dulang yang bertutup tudung saji terlihat rapi tersusun di tengah masjid, membagikan dua batas antara jama’ah laki-laki dan perempuan, yang hadir pada kegiatan itu.

Adapun dulang yang dibawa ke masjid berisikan ketupat lepas serta lauk-pauk dan kue-mue yang secara suka rela dibawakan warga untuk dimakan bersama-sama. Masyarakat Desa Kudung mengenal kegiatan syukuran ini dengan nama Tradisi Ketupat Lepas atau dengan istilah orang tua-tua disitu yakni “Bele Kampung”.

Tradisi ini merupakan kearifan lokal setempat untuk menjaga dan membersihkan kampung dari hal-hal jahat. Tradisi ini, sudah berlangsung turun temurun sejak puluhan tahun yang lalu. Tujuan dari tradisi ini agar terlepas dari bala (malapetaka/marabahaya) dan kembali kepada fitrah saat menyambut tahun baru.

Kerat-kerat si kayu kempas
Kayu dipahat memakai patel
Makne tersirat ketupat lepas
Kerje yang hak, buangkan yang bathil

Sepenggal pantun di atas menggambarkan pesan yang sangat mendalam pada tradisi Ketupat Lepas.

DESA KUDUNG

Desa Kudung, terletak di Kecamatan Lingga Timur Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau. Desa ini terbentuk lewat Perda No 2 Tahun 2007 lalu, merupakan pemekaran dari Desa Sungai Pinang yang menjadi pusat pemerintahan Kecamatan Lingga Timur. Untuk sampai kesini, harus menempuh jalan darat dengan jarak ± 7 kilometer dari pusat pemerintahan kecamatan dan dengan jarak ± 58 dari pusat pemerintahan Kabupaten Lingga yang berada di Kota Daik.

Wilayah desa ini, terdapat 2 dusun, 3 Rukun Warga (RW) dan 8 Rukun Tetangga (RT) yang diami 829 jiwa penduduk dari 279 kepala keluarga (KK) yang didominasi masyarakat melayu dan beberapa warga tionghoa, berdasarkan data statistik monografi pemerintahan desa tahun 2019.

Para orangtua duduk bersama. (F:Arpa)

Sebelum terbentuk menjadi sebuah desa, wilayah ini merupakan perkampungan tua. Peradaban disini diperkirakan cukup lama. Cerita mengenai terbentuk peradaban di Desa Kudung, dan asal muasal nama Kudung (Toponim) dapat ditemui dalam buku cerita rakyat Patahnya Gunung Daik yang ditulis tokoh senior Drs. Abdul Razak M.Pd. Dalam sub-sub judul di buku itu, terdapat cerita rakyat Kuda Ragam yang menceritakan pendahulu Kampung Kudung. Sebagian masyarakat percaya nama Kudung diambil dari nama Kudung Kelana yakni tokoh utama dalam cerita Kuda Ragam itu.

Selain itu, dalam perkembangan agama kunghucu dapat dibuktikan dari 3 buah bangunan kelenteng yang masih berdiri kokoh. Diantara 3 klenteng, yakni Klenteng Nguantian Siang Ti telah ditetapkan oleh Bupati Lingga sebagai cagar budaya berdasarkan Keputusan Bupati Lingga Nomor: 08/KPTS/I/2010 Tentang Penetapan Situs Cagar Budaya Bergerak di Kabupaten Lingga Provinsi Kepulauan Riau. Menurut tim penyusun Database Cagar Budaya Tidak Bergerak Kabupaten Lingga tahun 2012, Kelenteng ini merupakan kelenteng tertua yang ada di Pulau Lingga dan diperkirakan dibangun sekitar abad 18, karena saat ini pengurus klenteng merupakan generasi ke tujuh dari tokoh pendiri klenteng ini.

Dalam perkembangan agama Islam dan tradisi Melayu disini tak luput dari kisah lama. Peradaban kejayaan Melayu di tanah Kudung dapat dibuktikan dengan beberapa makam tua. Beberapa makam dianggap keramat. Seperti makam Tok Engku Hulu dan Tok Engku Hilir, yang dipercaya warga setempat sebagai pendiri wilayah Kudung, atau yang pertama kali membuka tanah di wilayah ini. Makam Tok Engku sampai sekarang masih dianggap sebagai makam keramat dan kadang diziarahi oleh masyarakat untuk menyampaikan niat tertentu. Konon katanya, ritual Ketupat Lepas tempo dulu pernah dilakukan di depan makam mereka, kerana dianggap keramat untuk dipuja meminta keberkahan kampung. Cerita lain juga menuturkan kalau tokoh pendahulu yang bersemayam di makam tersebut adalah sosok yang menghidupkan tradisi “Bela Kampung” yang sekarang lebih dikenal dengan nama Tradisi Ketupat Lepas.

Dari sisi kemasyarakatan, masyarakat di sini terdiri dari berbagai suku, ada pendatang seperti suku jawa, batak dan bugis. ada juga orang melayu dan tionghoa asli.

Masyarakat di sini masih memanfaatkan alam sebagai sumber kehidupan. Dalam pemenuhan ekonomi, sebagai besar mata pencaharian masyarakat berusaha dibidang perkebunan dan beberapa diantaranya sebagai nelayan. Menjadi sebagai petani sagu telah bersebati pada kehidupan masyarakat desa. Lahan sagu, bangsal pengolahan hingga tual-tual batang sagu dapat mudah ditemukan di desa ini. Sebuah kekayaan alam yang diwariskan sejak zaman Kesultanan Riau-Lingga pada abad 18 silam. Orang-orang desa masih terbiasa mengolah sagu menjadi bahan pangan, seperti sagu Lenggang. Memproduksi panganan inipun masih dilakukan beberapa ibu-ibu rumah tangga dalam pemenuhan ekonomi keluarga. Jenis sagu ini sangat awet, dan dipasarkan keluar desa.

Nuansa pedesaan yang masih alami dengan kehijauan hutan, ditambah dengan keramahtamahan masyarakat yang masih terjaga menjadi nilai tambah Desa Kudung. Masyarakat disini sangat menjunjung tinggi toleransi dalam kehidupan bermasyarakat, walaupun sebagian kepercayaan lokal masih hidup ditengah mereka. Terutama dalam menjalin harmonisasi antar umat Konghucu sebagai minoritas yang tinggal di Desa Kudung. Beberapa warga tionghoa disini adalah keturunan orang tionghoa dulu, yang memang sejak zaman penjajahan Belanda bermukim di Kudung. Di Desa Kudung, juga melekat beberapa tradisi tionghoa, salah satunya perayaan cap gomeh yang diadakan setahun sekali.

Sebagai mayoritas, secara umum masyarakat melayu disini mempunyai beberapa tradisi yang berhubungan dengan nilai agama Islam sebagai sarana penunjang syiar dan dakwah. Orang melayu disini sangat mengedepankan dakwah secara lemah lembut, saling menghargai dan toleran. Sehingga tidak mengherankan orang Melayu sangat identik dengan Islam. Dan kebudayaan orang melayu itu juga bersesuaian dengan ajaran islam. Beberapa kebiasaan orang melayu yang terdapat di Desa Kudung, salah satunya “Bele Kampung” atau Tradisi Ketupat Lepas.

Tradisi Bela Kampung Ketupat Lepas di Desa Kudung ini, sudah termasuk dalam bentuk warisan budaya tak benda yang sudah diusulkan Dinas Kebudayaan Kabupaten Lingga pada 2019 lalu dan hanya tinggal menunggu persetujuan. Tradisi ini sejatinya tidak lepas dari tradisi Islam, yakni untuk menghormati kebesaran dan kejadian (peristiwa) pada bulan Muharam yang diisi dengan doa-doa dan silaturahmi antara sesama umat (habluminannas). Meskipun tidak ada tuntunannya dengan ibadah, namun tradisi ini dipandang banyak memberikan manfaat, terutama dalam menjaga kampung, keluarga bahkan diri pribadi dari hal-hal jahat. Kebiasaan ini menjadi daya khas yang menarik untuk ditelusuri dan dikembangkan demi menjaga keanekaragaman budaya di bumi nusantara.

KETUPAT LEPAS

Ketupat lepas adalah syukuran yang telah dilakukan orang tua-tua dahulu, sehingga dilestarikan sampai sekarang. Menurut cerita dahulunya, syukuran Ketupat Lepas dilakukan pembacaan doanya dari rumah ke rumah warga. Setiap memasuki awal tahun baru hijriah, warga-warga di Kudung menghidangkan ketupat lepas untuk tetangga yang datang sebagai tamu jemputan. Warga yang punya hajat, biasanya menyediakan satu air yang diisikan dalam wadah seperti tekoh atau cerek/ketel. Ada satu tetua kampung (lebay) yang dituakan untuk membacakan doa akhir tahun, doa awal tahun dan doa-doa meminta keberkahan ditahun baru yang akan dijalani pada air yang disediakan. Biasanya air yang sudah dipenuhi doa-doa itu digunakan warga untuk minum, mandi bahkan dikucurkan keliling rumah. Sisa bungkusan ketupat pada hidangan tadi, kemudian dibawa yang punya hajat untuk dibuang ke sungai dengan niat-niat baik yang dimuliakan dengan shalawat atas nabi. Tetapi ada juga sebagian warga yang mengantarkan ketupat lepas ke tanjung-tanjung desa setempat dengan niat baik yang sama.

Puluhan dulang ketupat lepas. (F:Arpa)

Seiring waktu, kebiasaan warga mengantarkan sejajian itu punah, karena dianggap bertentangan dengan kepercayaan islam. Begitupun hajat penyambutan Muharram yang semula dari rumah ke rumahpun sudah disatukan di masjid secara jamak. Jadi pada syukuran tradisi Ketupat Lepas dilakukan masyarakat Desa Kudung di Masjid Babul Ihsan.

Proses Tradisi Ketupat Lepas, memiliki keunikan tersendiri. Proses tersebut bermula dari mencari daun kelapa muda yang wajib dilakukan pihak laki-laki, sehari sebelum memasuki bulan Muharram. Untuk memanjatnya, diharuskan suci terlebih dahulu, minimal diawal dengan berwudhu. Hal ini dilakukan agar dalam proses tersebut berjalan baik, tidak menimbulkan kecelakaan.

Pucuk kelapa yang harus diambil adalah pucuk yang besar. Sementara yang kecil ditinggalkan untuk keberlangsungan hidup pohon kelapa.

Usai diambil, pucuk-pucuk kelapa tersebut lalu dibersihkan dari dahan, dan dibawa pulang ke rumah untuk kemudian dianyam oleh tangan terampil ibu rumah tangga, menjadi sebuah ketupat unik. Ketupat yang berbeda bentuk dan ukurannya dari ketupat lebaran biasanya.

Dalam tradisi Ketupat Lepas, proses mengayam, memasak ketupat bahkan memasak lauk pauk dan kue mue, memang merupakan pekerjaan wajib dilakukan oleh pihak perempuan.

Pembacaan doa akhir tahunpun tidak luput dari proses ini yakni dilakukan usai salat ashar. Dilanjutkan doa awal tahun usai salat maghrib. Dan pada besoknya, tradisi ketupat lepas dilaksanakan pada tanggal 1 Muharram, sekira pukul 10.00 WIB.

Banyak warga desa yang telah menyiapkan dulang berisi ketupat lepas. Hidangan Ketupat Lepas tersebut diantarkan ke masjid secara suka rela, untuk dimakan bersama dengan para tamu undangan. Dalam filosofinya bermakna kebersamaan yang begitu melekat dalam memupuk persaudaraan serta mengeratkan tali silaturahmi, pada tradisi ini.

Pada serangkaian kegiatan adat yang dilakukan di masjid, diawali dengan pengajian. Lantunan kalam ilahi begitu merdu terdengar menggema dipenjuru desa. Kemudian, dilanjutkan dengan beberapa sambutan tokoh-tokoh, seperti tokoh adat desa yang bercerita tentang adat istiadat Ketupat Lepas, kepala desa yang mendukung kemajuan tradisi ini, Camat yang mensupport untuk berkelanjutan, serta tokoh sejarah dan penggiat budaya Kabupaten Lingga yang beritikad akan terus mengembangkan potensi budaya dari desa ini. Sambutan itu merupakan motivasi untuk mengajak bersama menjaga adat dan menjunjung budaya melayu agar tidak lekang dimakan waktu yang semakin modernisasi.

Sebagai sarana dakwah, pada tradisi ini juga diisi penceramah yang sengaja dihadirkan memberikan siraman rohani, dalam menyambut tahun baru hijriah.

Usai doa bersama, tibalah saat membuka hidangan, sebagai simbol kekerabatan diatas dulang. Dalam satu dulang, dimakan 3-5 orang. Yang dimakan adalah isi ketupat sebagai simbol kesucian. Kemudian bungkusan ketupat kembali dikumpulkan dalam satu wadah yakni tudung saji.

Selepas makan bersama dan menunaikan solat zuhur berjamaah. Tudung saji yang berisikan bekas bungkusan ketupat tadi kemudian diarak bersama. Tokoh-tokoh adat, pejabat desa serta masyarakat berbondong-bondong pergi ke sebuah jembatan. Di Desa Kudung terdapat sebuah sungai yang bernama Sungai Kudung, yang langsung bermuara ke laut. Disinilah tempat bagian terakhir dari proses Tradisi Ketupat Lepas.

Proses pelarungan bungkusan ketupat ke sungai adalah hal yang paling sakral. Masyarakat desa percaya, dengan melarung helaian daun kelapa yang telah terlepas dari ketupat tersebut, bermakna melepas keburukan, kejahatan, kesalahan masa lalu serta bencana yang disimbolkan dengan helaian daun kelapa tersebut hanyut dan hilang terbawa arus sungai. Hingga yang tersisa hanya kebaikan-kebaikan untuk kesejahteraan masyarakat dan desa.

Pelarungan bungkusan ketupat ini dilakukan saat air laut surut. Keadaan ini diasumsikan agar bungkusan ketupat hanyut terbawa arus surut ke laut. Dalam filosofinya, apabila dilakukan pelarungan saat air pasang maka segala malapetaka, wabah dan sebagainya akan kembali ke tengah kampung, karena bungkusan ketupat terbawa arus pasang kehulu. Namun kebalikannya bila air surut, segala macam marabahaya akan hanyut ke muara bahkan sampai ke tengah laut.

Pengiat budaya sekaligus sejarawan Kabupaten Lingga, H Muhammad Nadar menuturkan tradisi Ketupat Lepas memang telah bersebati dengan kehidupan masyarakat di Desa Kudung. Oleh masyarakat setempat ketupat lepas disebut juga dengan ketupat tolak bala (malapetaka/marabahaya) kerana memiliki filosofi tersendiri. Ketupat lepas identik dengan ritual bela kampung yakni dapat menolak bala atau bencana. Namun hal yang paling mutlak dipetik pada tradisi ini adalah meningkatkan atau mempererat tali silaturahmi.

Ketupat lepas merupakan salah satu ketupat yang dianyam sedemikian rupa dan akan terlepas jika bagian ujung dan pangkalnya ditarik. Jika biasanya ketupat berbentuk kotak atau persegi, maka ketupat yang satu ini hanya dianyam dengan bentuk memanjang dan dua ujungnya terpisah.

Masyarakat di Desa Kudung mengenal ada dua jenis ketupat lepas, yakni ketupat lepas jantan dan ketupat lepas betina. Keduanya sedikit memiliki perbedaan, yakni ketupat lepas betina sedikit lebih kecil dibandingkan ketupat lepas jantan. Ketupat lepas jantan biasanya yang disuguhkan untuk jamuan makan tamu-tamu undangan. Kedua ketupat ini bermakna sama yakni segala permasalahan yang dihadapi agar dapat diselesaikan secara bersama-sama.

Lebih lanjut, pada tata cara melepaskan ketupat dari bungkusnya dilakukan dengan cara yang khas. Pada ketupat biasa, untuk mengambil isi ketupat harus dibelah menggunakan alat yang tajam seperti pisau. Sedangkan untuk mengambil isi ketupat lepas tidak demikian, melainkan dengan cara menarik satu sisi daun pembungkus sehingga terpisah antara isi dan pembungkus tanpa merusak pembungkus. Pembungkus ketupat masih berbentuk daun kelapa semula sebelum diayam.

Pada Tradisi Ketupat Lepas ada pesan yang tersirat. Simbol dari pembungkus ketupat merupakan lambang dari kehidupan sedangkan isi ketupat yang putih bersih merupakan lambang dari kesucian hati (jiwa). Melepaskan kulit ketupat lepas adalah melepaskan sifat mazmumah atau akhlak tercela pada diri. Dan memakan isinya menyimpan pesan mengambil atau mengharapkan sifat mahmudah atau sifat-sifat terpuji untuk perilaku diri. Dengan demikian, apabila semua sifat mazmumah sudah dilepas atau dibuang dari kehidupan sekarang, maka akan muncullah fitrah (suci) dengan pengharapan sifat mahmudah selama proses menjalani kehidupan di tahun baru.

“Kabupaten Lingga ini Multi Budaya. Ada budaya tidak bergerak dan ada budaya tak benda yang menjadi warisan leluhur. Jadi jangan heran, ketupat lepas ini merupakan bagian dari khazanah Melayu, yang harus diangkat kembali,” kata M Nadar, penggiat dan pakar sejarah Kabupaten Lingga.

Mengutip pernyataan Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Kepulauan Riau Desa Kudung, Said Helmi menjelaskan sejak terbentuk sebuah lembaga adat di desa yakni LAM Kepulauan Riau Desa Kudung pada tahun 2016, pemerintah dan masyarakat sepakat mengubah syukuran Ketupat Lepas dilaksanakan pada siang hari yang sebelumnya dilaksanakan pada malam hari di Masjid Babul Ihsan.

Hal ini, terkait pihak desa banyak mengundang tamu dari kabupaten terutama para orang tua pengurus Lembaga Adat Melayu (LAM) Kepulauan Riau Kabupaten Lingga dan para petinggi lainnya, dengan harapan ritual ini tidak hanya monoton dikenal masyarakat desa, melainkan dikenal masyarakat luas. Dalam konteks lain, pemerintah dan lembaga adat sepakat untuk melestarikan adat dan budaya ini menjadikan sebuah ikon desa sebagai warisan budaya dari leluhur.

“Tujuannya sama yakni untuk melepaskan atau menolak bala yang sewaktu-waktu bisa datang. Alhamdulillah sudah beberapa kali kami melakukan berjalan baik. Dan air lautpun dalam keadaan surut. Jadi belum pernah ada pelaksanaan syukuran satu Muharam di siang hari itu, saat air pasang,” ujar Ketua LAM Kepulauan Riau Desa Kudung.

Dari sisi pengembangan tradisi ini, Kepala Desa Kudung, Amran mengungkapkan pemerintah desa terus berupaya agar tradisi tetap berjalan dan membudaya. Meski tradisi ini lahir dari kebudayaan masyarakat desa sendiri. Dirinya menyadari harus ada campur tangan pemerintah agar tetap lestari.

Pemerintah desa setiap tahunnya, yakni pada awal bulan Muharram mengelar syukuran dengan mengundang banyak tamu-tamu dari luar desa. Pihak desa turut serta membantu apa yang menjadi kebutuhan masyarakat terkait tradisi ini. Terutama bagi pengurus LAM desa, dalam upaya mengadakan kegiatan syukuran. Bantuan yang diberikan baik berupa finansial maupun tenaga. Peringatan tradisi ini disejalankan dengan kegiatan Peringatan Hari Besar Islam (PHBI). Pada peringatan adat, dilakukan tradisi Ketupat Lepas, sedangkan pada pelaksanaan PHBI, pemerintah desa mendatang penceramah untuk mengisi kegiatan silaturahmi di Masjid Babul Ihsan. Dengan harapan agar tradisi ini masuk dalam daftar agenda pariwisata religi Kabupaten Lingga.

Lebih jauh, pemerintah desa dan lembaga ada setempat berkerjasama dengan pemerintah Kabupaten Lingga dan Provinsi Kepulauan Riau telah membawakan ritual masuk dalam Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia, sebagai warisan khazanah dari tanah Melayu.

“Kami dari pemerintahan desa sangat mendukung tradisi ini. Apa yang dibutuhkan masyarakat terutama LAM desa, kami siap membantu, termasuk dari segi finansial dan lainnya,” jelas Kepala Desa Kudung, Amran.

Menurutnya, tradisi Ketupat Lepas tidak akan pernah hilang pada sisi kehidupan masyarakat di Desa Kudung. Meskipun dalam konteks pengembanganya tidak ada sedikit campur tangan pemerintah desa. Masyarakat tetap akan melakukan ritual ini walaupun dengan cara lama yakni dari rumah ke rumah. Sebab, tradisi ini sudah mengakar sejak dahulu. Tradisi ini sebagai warisan nenek moyang masyarakat kudung, dan bukan merupakan kebiasaan yang diciptakan oleh pemerintahan desa.

“Walaupun ini merupakan sebagian kecil dari kebiasaan adat disini. Tapi kami punya misi agar budaya ini dapat lebih dikenal masyarakat luar. Kepala pemerintahan daerah dan pusat kami berharap, budaya kami ini diperhatikan sebagai bentuk potensi budaya sebagai modal memperkaya khasanah budaya melayu,” harap Amran.

Kemudian pada sisi regenerasi budaya. Di Desa Kudung ada sanggar yang melatih generasi muda mencintai budaya yakni Sanggar Seni Kudung Kelana. Disini regenerasi budaya dilakukan dalam bentuk tarian tradisi dan kreasi, marawis maupun tata cara adat, sosialisasi ketupat lepas agar meregenerasi untuk terus berkelanjutan.

Dalam kegiatan adat, pengurus LAM Desa Kudung memang kerap melakukan pendekatan dengan generasi muda desa. Mulai dari bincang-bincang adat sampai melibatkan langsung para pemuda untuk ikut dalam kegiatan budaya desa.

Pihak desa juga telah berhasil menciptakan sebuah buku, tentang cerita Bela Kampung Tradisi Ketupat Lepas yang diterbitkan boleh Dinas Kebudayaan Kabupaten Lingga. Buku ini ditulis tim penulis, yakni Medri Osnoe, Zulkifli Harto, Dedi Arman dan M Fadlillah. Buku ini diharapkan nanti menjadi sumber bagi generasi muda di Desa Kudung untuk melestarikan adat budaya mereka. Kemudian dapat menjadi nilai publikasi untuk dapat mengenalkan Tradisi Ketupat Lepas lebih luas lagi.

“Saat ini, buku tersebut dalam proses percetakan. Mudah-mudahan cepat, jadi kami dapat menjadi buku ini sebagai salah satu aset desa yang menceritakan adat desa kami,” kata Amran.

Penulis: Arpa Aindi

Print Friendly, PDF & Email