Ajudan Wakil Ketua DPRD Pekanbaru Dipolisikan Pimpinan Media Online

Fadila Saputra (kiri). (F: ist)

Fadila Saputra (kiri). (F: ist)

PEKANBARU (marwahkepri.com) – Ade Barto, ajudan Wakil Ketua DPRD Kota Pekanbaru T. Azwendi Fajri diduga melakukan penghinaan dan pengusiran terhadap wartawan media online www.puterariau.com. Hal tersebut berawal saat melakukan peliputan kegiatan rapat kerja gabungan komisi terkait refocusing anggaran APBD Kota Pekanbaru yang dilaksanakan pada Jum’at (08/05/2020) pukul 11.00 WIB di ruang Rapat Paripurna DPRD Pekanbaru.

“Ditengah-tengah saya melakukan peliputan kegiatan DPRD tersebut, saya kaget dikarenakan tiba-tiba saya dihampiri dua orang yang diduga bernama tersebut diatas (Ade Barto) yang meminta saya untuk keluar dari lantai 2 gedung DPRD Kota Pekanbaru yang menyebutkan dirinya diperintah oleh T. Aswendi,” jelasnya, Sabtu (9/5/2020).

Ade barto bersama rekannya tambahnya melontarkan kata-kata penghinaan, dengan menyebutkan ia dan media onlinenya sebagai media abal-abal dan menarik bajunya untuk keluar hingga bajunya mengalami robek.

“Laporan yang saya lakukan terkait dugaan kekerasan pengusiran dan penghinaan terhadap saya selaku pemimpin umum media siber (online) www.putrariau.com dan pimpinan perusahaan media cetak Tiraiinvestigatif dengan nomor laporan STPL : B/STPL/43/V/2020/RIAU/RESTA PEKANBARU/SEKTOR PBR KOTA,” tambahnya.

Tindakan dugaan kekerasan pengusiran dan penghinaan yang dialami diduga dilakukan oleh oknum Ade Barto dan Raden Marwan staff protokol sekwan DPRD Kota Pekanbaru.

“Akan laporan yang telah saya lakukan, saya minta pihak Kepolisian Mapolsek kota Pekanbaru untuk dapat memberikan sanksi hukum kepada oknum tersebut diatas (Ade Barto) tidak haya atas dugaan tuduhan penghinaan saja, melainkan dapat dijerat dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 40 tahun 1999 pasal 18 ayat (1) yang berbunyi : Setiap orang yang secara melawan hukum dengan sengaja melakukan tindakan yang berakibat menghambat atau menghalangi pelaksanaan ketentuan Pasal 4 ayat (2) dan ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 tahun atau denda paling banyak Rp. 500 juta rupiah,” tutup Fadila Saputra. (MC/Team)

Print Friendly, PDF & Email