Ilustrasi: wikimedia

 

Oleh Muhammad Natsir Tahar

Hukum hadir untuk mengawal siklus peradaban manusia menuju kemanusiaannya. Menghadirkan satu tatanan sosial yang berkeadilan dan berkeadaban melintasi semua dimensi. Sebagai spirit, Dewi Keadilan adalah imaji bagi pendamba keadilan di manapun. Dikatakan begitu, karena manusia masih harus berjuang untuk merebut keadilan itu.

Adalah Dewi Themis, sebagai perlambang keadilan dari mitologi Yunani atau Lady Justice dalam Romawi. Hingga kini ia menjadi ikonografi di ruang sidang, bahkan juga muncul dalam slide pembuka dalam acara Indonesia Lawyer Club (ILC) di TV One.

Gambaran Themis atau Justitia yang paling umum adalah timbangan yang menggantung dari tangan kiri, ketika ia mengukur pembelaan dan perlawanan dalam sebuah kasus. Dan kerap kali, ia digambarkan membawa pedang bermata dua yang menyimbolkan kekuatan pertimbangan dan keadilan. Ia juga selalu terlihat mengenakan penutup mata.

Menutup mata untuk mengindikasikan bahwa keadilan harus dihadirkan secara objektif tanpa pandang siapa (blind justice and blind equality). Themis dalam mitologi Yunani adalah titan wanita yang memiliki hubungan dekat dengan Zeus. Dewi Themis adalah tentang keadilan yang coba dihadirkan manusia sebagai wakil Tuhan di bawah atmosfer.

No man above the law, tak ada satu manusia pun yang dibenarkan untuk berada di atas hukum. Dengan ‘mata yang tertutup’ penegak hukum harus menetralkan semua individu, tak peduli apakah ia penghuni istana atau pengais sampah di sudut tak penting.

Bahwa equality before the law yang filosofinya adalah setiap manusia memiliki kasta yang sama di dalam hukum harus lebih dilantang ketimbang istilah hukum lainnya: presumption of innocence, azas praduga tak bersalah.

Kita mendapati fakta begitu lekas dan berenerginya aparat hukum menangkap bajingan dari kelas kerah biru, tapi bertele – tele pada satu atau banyak kasus yang menimpa petinggi kerah putih. Selalunya berlindung pada azas praduga tak bersalah untuk tidak dikatakan sedang membeli waktu.

Menjadi penegak hukum adalah bagian dari profesi yang paling mulia di planet biru ini karena mereka adalah “titisan” Dewi Themis sebagai personifikasi dari dorongan moral yang bernaung di bawah sistem hukum dan sebagai wakil Tuhan. Bukan main – main: wakil Tuhan di bumi, sedangkan wakil rakyat saja begitu dianggap terhormat.

Kita tidak berharap bahwa Wakil Tuhan akan memerosotkan derajatnya atas hitungan – hitungan atau tekanan politik, finansial dan telunjuk penguasa yang– hanyalah – makhluk bumi lainnya. Bahwa Wakil Tuhan harus senantiasa mengenakan mahkota kebesarannya sebagai orang langit.

Tiga atribut miliknya yakni kain penutup mata sebagai obyektifitas dan kebal intervensi, neraca untuk keadilan dan pedang sebagai lambang untuk membasmi semua kejahatan dalam bentuk apapun, harus tetap melekat selama profesi sebagai Wakil Tuhan di bumi masih disandang.

Perlu diingat bahwa selain keadilan hukum positif masih ada keadilan ontologis – keadilan di depan Tuhan Sang Kebenaran – yang bersemayam dalam sanubari, sehingga soal keadilan tidak dijadikan gimmick interpretasi pasal-pasal yang sumir untuk memenangkan satu atau sekelompok. Karena ketika itu pula, mahkota sebagai Wakil Tuhan telah terlepas dan ternista, lalu Themis pun akan menangis di balik matanya yang selalu tertutup. ~MNT

 

 

 

Print Friendly, PDF & Email