Ngobrol di Warung Kopi sebagai Ruang Penetrasi Kearifan Lokal Membasmi Hoaks

Ilustrasi. (F: berita.baca.co.id)

Ilustrasi. (f:berita.baca.co.id)

 

Oleh Muhammad Ivan (PNS di Kemenko PMK, RI)

 

“nongkrong di warung kopi
nyentil sana dan sini
sekedar suara rakyat kecil
bukannya mau usil” (Warkop DKI)

Lirik lagu Ngobrol di Warung Kopi (warkop) di atas mungkin familiar bagi mereka yang sudah berusia 40-an. Ngobrol di warkop adalah representasi rakyat kecil dalam mengeluarkan uneg-uneg terkhusus kepada penguasa dan realitas yang sedang viral.

Warkop dapat dikatakan sebagai ruang eksistensial publik sebelum hadirnya mall-mall besar atau cafe. Di warkop, semua bebas berpendapat dan berdebat yang jujur menyuarakan isi hati. Disinilah dipertemukan ruang dialog antar warga yang dapat mengklarifikasi berita maupun informasi yang keliru (cek dan ricek).

Era warkop sudah lewat, meninggalkan warisan berupa kearifan lokal yang perlu ditiru saat ini. Ketika perlahan warkop perlahan mulai memudar, dan era media sosial menawarkan interaksi artifisial yang lebih interaktif, namun minus pada kelekatan fisik, menyebabkan yang jauh menjadi dekat, dan yang dekat, menjadi jauh. Generasi saat ini memang menjadi tahu lebih banyak, namun alpa terhadap hal-hal di sekitarnya (lokalitas). Ada warga yang jarang mengetuk rumah tetangganya, ada yang meninggal pun tidak tahu, karena tidak pernah berinteraksi.

Benar adanya, jika kearifan lokal bukanlah konsep. Kearifan lokal bukan juga nilai tradisi. Kearifan lokal adalah gagasan sistem pengetahuan yang terus berkembang dan dinamis. Untuk kasus Indonesia, kearifan lokal mengalami kemunduran karena ketiadaan regulasi untuk menopangnya. Akhirnya, kearifan lokal hanya menjadi ritual yang secara fisik kelihatan, namun nilai-nilai non fisiknya belum tereksplorasi dalam komunitas masyarakat, salah satuanya warkop.

Saat ini, wajah warkop berubah menjadi ruang obrolan online yang tidak terlalu membutuhkan interaksi fisik. Kultur online ini menjadikan kelekatan antar warga tergerus. Zaman sekarang kemiskinan, bukan lagi soal ketiadaan pangan atau harta, namun ketiadaan sinyal dianggap sebuah kefakiran hakiki. Tidak update, slow respon, dianggap dapat merusak pertemanan bahkan menganggu hubungan atasan-bawahan karena pekerjaan yang dilakukan berbasis online.

Di balik kegusaran ini, muncul penyakit menular yang tidak dianggap penting awalnya, yakni hoaks dan deep fake yang saat ini bahkan menghantui beberapa negara maju di dunia. Di beberapa tahun ke depan, kita pun harus waspada dengan potensi kedatangan deep fake.

UNESCO pada tahun 2018 telah menyatakan bahwa abad ke-21 mempertontonkan persenjataan informasi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Teknologi baru yang kuat membuat manipulasi dan pembuatan konten menjadi sederhana, dan jejaring sosial secara dramatis memperkuat kepalsuan yang dijajakan oleh negara, politisi populis, dan entitas perusahaan yang tidak jujur, karena mereka dibagikan oleh publik yang tidak kritis.

Apalagi dalam konteks politik, hoaks tidak semata muncul dari hasrat individu belaka, melainkan dibuat secara teroganisir untuk menjelek-jelekan pihak lain. Arena perpolitikan merupakan hajatan yang sangat rentan hoaks.

Di negara semaju Amerika pun, hoaks akan tetap berkibar sembari pemerintah dan masyarakat terus bersinergi memberantas berita dan informasi yang tak dapat dipertanggungjawabkan. Kebenaran adalah tunggal atau tidak abu-abu, namun kebohongan dapat menjadi kebenaran asalkan sesuai dengan logika dan harapan yang dibohongi. Era ini disebut Post-Truth (paska kebenaran).

Era paska kebenaran ini merupakan suatu masa di mana masyarakat lebih terpengaruh dengan opini publik berdasarkan daya tarik emosionalnya, tanpa memandang apakah fakta itu nyata atau obyektif. Dalam kata lain, masyarakat hanya ingin mengetahui apa yang sesuai dengan ketertarikan emosionalnya semata.

Hoaks bukan sesuatu yang baru dan sudah muncul pada zaman Johannes Gutenberg menciptakan mesin cetak pada tahun 1439. Sebelum zaman internet, hoaks bahkan lebih berbahaya dari sekarang karena sulit untuk diverifikasi. Disinilah, peran pemerintah, instansi pendidikan, akademisi, dan masyarakat serta netizen yang masih memiliki hati nurani untuk bersinergi membentengi negeri ini dari hoaks.

Penetrasi hoaks bernama Deep Fake

Dari laporan berjudul “Essential Insights Into Internet, Social Media, Mobile, and E-Commerce Use Around The World” yang diterbitkan tanggal 30 Januari 2018, dari total populasi Indonesia sebanyak 265,4 juta jiwa, pengguna aktif media sosialnya mencapai 130 juta dengan penetrasi 49 persen.

Data tambahan dalam buku The State of Social Media and Messaging in Asia Pacific: Trends and Statistics (2017) menunjukkan bahwa tiga dari empat orang Indonesia menggunakan Internet juga menggunakan Facebook. (Angka itu bahkan lebih tinggi sebagai persentase dari total pengguna media sosial di Indonesia – 94%). Ini adalah salah satu penetrasi Facebook tertinggi tingkat di Asia Tenggara dan peringkat Indonesia (dengan 78 juta Facebook pengguna) keempat dalam pengguna Facebook global berdasarkan negara.

Tren saat ini, media sosial telah menjadi platform media komunikasi yang digemari masyarakat. Jejaring sosial seperti whatsapp, facebook, twitter, dan youtube hanya beberapa dari banyak aplikasi komunikasi yang bertebaran dalam jagad internet. Jejaring tersebut mempertemukan teman lama yang bertahun-tahun tak berkabar, hingga menyapa teman baru dengan keunikannya masing-masing. Dengan jejaring sosial, kita memperbaharui ilmu pengetahuan hingga mengupdate perkembangan berita-berita terkini, dalam dan luar negeri.

Dengan jumlah akun aktif pengguna secara global, yakni Facebook 1,9 milyar, WhatApp 1,2 milyar, YouTube 1 milyar, Facebook Massenger 1 milyar, Instagram 600 juta, Tumblr 550 juta, dan Twitter 319 juta. Dengan kekuatan jumlah seperti ini, media sosial merupakan ladang surga bagi pedagang, ladang popularitas untuk mereka yang ingin cepat tenar, dan ladang komodifikasi bagi penebar berita bohong (hoaks) yang sangat eksplosif merusak masyarakat. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, hoaks adalah ‘berita bohong.’

Dalam Oxford English dictionary, ‘hoaks’ diefinisikan sebagai ‘malicious deception’ atau ‘kebohongan yang dibuat dengan tujuan jahat’. Pengelabuan (deception) ini tidak lebih berfungsi hanya sebagai sarana perpanjangan tangan kelompok tertentu untuk mencetak “keuntungan” sebesar-besarnya. Apalagi dalam konteks politik, hoaks tidak semata muncul dari hasrat individu belaka, melainkan dibuat secara teroganisir untuk menjelek-jelekan pihak lain. Arena perpolitikan merupakan hajatan yang sangat rentan hoaks.

Hoaks telah menemukan alat baru bernama “Deepfake” yang berasal dari dua terminologi “deep learning” and “fake” menunjukkan bahwa hoaks menjadi begitu meyakinkan dan artificial intelligence (AI) begitu realistis. Sebuah “fakta” yang kelihatan nyata, yang dilihat mata, bukan hanya sebatas teks. Konteks yang meyakinkan.

Jika membaca bagaimana hoaks telah bermutasi, maka peruntukan ancaman seperti “deepfaking,” sebuah produk dari AI dan kemajuan pembelajaran mesin yang memungkinkan komputer teknologi tinggi untuk menghasilkan video yang benar-benar palsu namun sangat realistis yang menggambarkan peristiwa yang tidak pernah terjadi atau orang mengatakan hal-hal yang tidak pernah mereka katakan. Sebuah video viral yang dibintangi Jordan Peele dan “Barack Obama” memperingatkan terhadap teknologi ini pada 2018.

Kasus di India 

Kicauan twitter, status facebook, selfie sana-sini tiada henti, adalah beberapa  kultur yang tanpa kita sadari, lebih nyata dari realitas sebenarnya. Ya, dunia maya, telah mencemarkan makna keintiman antar kita, antar kemanusiaan, yang akhirnya mengubah sisi asal-usul kita, yang datang dari sebuah kesederhanaan hidup, menjadi sebuah kemunduran yang otentik ada di setiap diri kita, bahkan diri saya.

Dari hulu ke hilir, jejaring sosial mengubah bagaimana kita berinteraksi dan beraktualisasi antar sesama. Sayangnya, kita lupa menaruh respek (rasa hormat), empati, dan kesungguhan nurani. Contoh sangat nyata, jika ada teman atau kerabat berulang tahun, betapa mudahnya kita bercopas ucapan tersebut diselingi dengan mengirim sticker kue ulang tahun. Betapa jumlah like di facebook atau followers di twitter menentukan ketenaran seseorang, bukan refleksi kebenaran dari apa yang diperjuangkan.

Hoaks dalam level ini memang sengaja diproduksi oleh orang maupun kelompok tertentu demi memenangkan kepentingan maupun pandangan egosentrisnya. Dari geliat panjang bagaimana hoaks telah berhasil mencemarkan nama baik seseorang/kelompok tertentu, dampak paling memilukan, bagaimana hoaks berhasil mengadu domba sesama kita.

Benar jika devide et impera telah pergi meninggalkan kita, namun satu kelemahan paling primitif yang masih eksis dalam benak tiap kita, yakni betapa masih gampangnya kita sebagai sebuah bangsa diadudomba untuk sesuatu yang belum tentu benar. Ini menandakan meski Indonesia telah merdeka 74 tahun lalu dari Belanda, salah satu tantangan besar kita saat ini, yakni bagaimana memerangi hoaks dan deep fake.

Dari jutaan informasi yang membanjiri jejaring sosial tiap detiknya mempengaruhi bagaimana sikap kita terhadap informasi tersebut. Hoaks bahkan dapat membunuh nyawa seseorang.

Di India sebanyak 25 orang ditahan atas pembunuhan Mohammad Azam dan kedua temannya yang terluka parah. Dikutip The Guardian (17/7/2018) bahwasanya  polisi menjelaskan bahwa Azam dan kedua temannya sedang pulang dari luar kota. Karena itu, mereka menawarkan coklat untuk anak-anak lokal. Perbuatan itulah yang memicu kecurigaan warga setempat kepada mereka. Saat mereka membagikan coklat, salah satu dari anak-anak itu menangis. Mendengar tangisan itu, ada orang dewasa di sekitar sana langsung menuduh ketiga lelaki itu sebagai penculik. Ini dipengaruhi rumor tentang penculikan anak sedang marak-maraknya di desa itu. Awalnya, ketiga lelaki itu berhasil melarikan diri, tapi malah diserang oleh massa yang lebih besar beberapa kilometer kemudian, disebabkan warga lokal memperingati desa-desa sekitar perihal ketiga orang yang dianggap ‘penculik’ ini melalui WhatsApp.

Kembali ke Warkop

Harus disadari bahwa hoaks telah menyasar penduduk atau publik yang tidak kritis. Ditambah era post-truth yang telah dibahas sebelumnya, hoaks telah bermutasi menjadi deep fake, mungkin akan menemukan cara-cara lain untuk memberikan konten palsu yang kelihatan riil untuk generasi ke depan.

Dalam konteks saat ini, konten digital sangat lekat dengan generasi saat ini. Setelah generasi Z (1995-2010) beranjak remaja, dan kedatangan generasi Alpha (2011-2025) yang masih balita akan menghadapi tantangan yang lebih hebat lagi.

Mc-Crindle (Yeni Umardin, 2017) menyebutkan bahwa sebanyak 2,5 juta anak Generasi Alpha lahir di dunia setiap minggunya. Menurutnya, gen A merupakan generasi yang paling akrab dengan internet sepanjang masa. McCrindle juga memprediksi bahwa generasi Alpha tidak lepas dari gadget, kurang bersosialisasi, kurang daya kreativitas, dan juga bersikap individualis.

Generasi Alpha menginginkan hal-hal yang instan dan kurang menghargai proses. Keasyikan mereka dengan gadget membuat mereka teralienasi secara sosial. Meskipun generasi ini relatif baru, penggunaan teknologi, fasilitasi penelitian dan visi kritis sebagai karakteristik mereka sudah dapat disorot. Karena apresiasi alat teknologi dan manfaat komunikasi yang difasilitasi, di masa depan kontak fisik akan menjadi lebih dihargai, karena akan jarang terjadi (Santos; Yamaguchi, 2015)

Menghidupkan kembali warkop rasa retro menjadi relevan di tengah hiruk pikuk dunia maya yang telah merampas keintiman sosial antar warga. Cara ini dinilai lebih efektif dan efisien dalam membuka kran saluran sosial. Domain hubungan antar fisik yang dikedepankan akan mengenal hubungan antar warga yang sudah mulai mengendur. Warga baru yang datang ke sebuah komplek perumahan maupun tamu dari daerah lain dengan cepat dikenali, karena di warkop, warga saling mengenal identitas dan membagi pengalaman yang memperkaya hubungan. Interkonektivitas yang tinggi di era digital memang akan membuat warga lebih pandai tentang hal-hal yang global, namun tanpa kepedulian terhadap lokalitasnya sendiri, dapat menjadi bumerang bagi warga lainnya.

Saat ini, budaya oral antar warga di tingkat lokalitas perlu dikedepankan di tengah massifnya penggunaan jejaring sosial dalam berinteraksi. Budaya oral seperti ngobrol di warkop mungkin hanya bagian kecil, namun jika bagian kecil ini direvitalisasi atau dihidupkan kembali, tentunya akan membantu pemerintah untuk membasmi hoaks, bahkan radikalisme yang biasanya muncul dari warga yang tidak senang bersosialisasi, apalagi ikut kerja bakti. Pemerintah dalam posisi ini agar membiarkan warkop tumbuh dengan nalar kritisnya, sehingga warga tidak takut untuk mengekspresikan sesuatu apapun. Dengan jalan ini, diharapkan hoaks dapat dengan mudah terdeteksi, dan dapat langsung diantisipasi, dalam lingkup masyarakat lokal.