Ungkap Perdagangan Manusia dan Prostitusi di Karimun, Polda Kepri Amankan Dua Tersangka

Kabid Humas Polda Kepri Kombes Pol Drs. S. Erlangga (tengah) menunjukkan barang bukti dan para tersangka dalam konferensi pers yang digelar di Mapolda Kepri, Nongsa, Senin (9/9/2019). (F:ist)

BATAM (marwahkepri.com) – Sebanyak 31 korban perdagangan manusia yang terdiri dari para wanita berusia 19 tahun sampai dengan 28 tahun berhasil diselamatkan oleh Subdit IV Ditreskrimum Polda Kepri.

Kabid Humas Polda Kepri Kombes Pol Drs. S. Erlangga menjelaskan para korban direkrut melalui Aplikasi Beetalk, Line dan Facebook yang mencantumkan nomor handphone WhatsApp dan lowongan pekerjaan sebagai LC atau pemandu lagu dan terapis SPA, namun akhirnya dipekerjakan sebagai Pekerja Seks Komersial (PSK) dan ditampung oleh tersangka Akui alias Papi Awi di komplek Villa Garden 58A Kelurahan Kapling, Kecamatan Tebing, Kabupaten Karimun.

“Tim Subdit IV Ditreskrimum Polda Kepri pada hari Jumat (6/9/2019) melakukan penyelidikan dan penggrebekkan di komplek Villa Garden 58A Kelurahan Kapling, Kecamatan Tebing, Kabupaten Karimun telah terjadi dugaan tindak pidana perdagangan orang terhadap 30 orang korban perempuan dan satu orang perempuan berinisial L A telah berada di Batam yang hendak pulang ke kampung dikarenakan merasa ditipu dan tidak tahan atas pekerjaan yang telah di berikan pelaku yaitu sebagai PSK dengan tarif dari Rp. 600.000 hingga Rp. 2.000.000,” jelas Erlangga saat menggelar konferensi pers di Mapolda Kepri, Nongsa, Senin (9/9/2019).

Tim pun terus melakukan pengembangan dan penyidikan mengarah kepada D P alias Fahllen yang berada di Bandung, selanjutnya pada Sabtu (7/9/2019) tim bergerak menuju Desa Cingondewahilir, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung, Jawa Barat dan mengamankan pelaku untuk selanjutnya dibawa ke Polda Kepri.

Sementara eksploitasi yang dialami oleh korban adalah eksploitasi ekonomi dan eksploitasi seksual. Untuk eksploitasi ekonomi sendiri korban dijadikan sebagai pekerja seks komersial dengan harga satu kali bookingan dari Rp. 600.000 hingga Rp. 2.000.0000 dengan sistem bagi hasil yaitu 50% untuk korban dan 50% untuk pengelola dan hasil dari pekerjaan sebagai PSK tersebut akan diberikan setiap enam bulan sekali.

“Sedangkan untuk eksploitasi seksual adalah tersangka Akui alias Papi AWI mempekerjakan korban sebagai pekerja seks komersial dengan cara korban di booking oleh tamu ke hotel,” tambahnya.

Adapun barang bukti yang diamankan dari tersangka A K alias Awi adalah 2 buku catatan tarif bookingan, 1 buku catatan kasbon, uang tunai senilai Rp 15.500.000, 1 buku absensi korban, dan 1 unit handphone merek Samsung Note 8 warna hitam.

Sementara dari tersangka D P alias Fahllen adalah 1 unit handphone merek Vivo tipe y91 warna biru, dan 1 buku rekening Bank BCA nomor rekening 3790265XXX atas nama tersangka.

“Tersangka dijerat dengan pasal 2 Undang-Undang RI nomor 21 tahun 2007 tentang tindak pidana perdagangan orang dan pasal 55 KUHP, dengan ancaman paling singkat 3 tahun paling lama selama 15 tahun kurungan dan denda paling sedikit Rp. 120.000.000 dan paling banyak senilai Rp. 600.000.000.000,” tuturnya. (ril)

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Your email address will not be published.