Kisah Hamsiah, Janda Paruh Abad Korban Kebakaran Penagi

Hamsiah (51), korban kebakaran di Penagi.

MARWAHKEPRI.COM, NATUNA –Hamsiah pucat pasi, perempuan berusia 51 tahun itu, tampak masih syok melihat rumahnya luluh lantak dilahap si jago merah. Kediamannya berada di RT 01/RW 12, Kampung Tua Penagi, Kelurahan Batu Hitam, Ranai.

Pagi tadi sekitar pukul 09.00 WIB, angin bertiup sangat kencang, Hamsiah tengah menanak nasi. Tiba-tiba saja kobaran api datang begitu cepat dari arah rumah kosong sebelah rumahnya.

“Waktu kebakaran tadi saya lagi ada didalam rumah, memasak nasi. Api datang sangat cepat, membuat kami panik, hanya bisa menyelamatkan seadanya”, ujar Hamsiah saat dijumpai Marwahkepri.com, di teras Surau Al-Mukarramah, Rabu (04/09/2019).

Wajah Hamsiah tampak sembab dan matanya berkaca kaca saat menceritakan peristiwa nahas itu. Ia pun mengaku tidak punya firasat buruk, sebelum api menghanguskan rumahnya dan 4 rumah lainnya bermaterial kayu.

Dikisahkan, dalam kondisi panik, ia bersama anaknya hanya bisa menyelamatkan barang-barang kecil yang mudah diangkat. Sedangkan perangkat besar seperti almari dan perabot lainnya, ludes terbakar.

Nahasnya lagi, saat panik berusaha menyelamatkan harta benda, Hamsiah justru kelupaan mengambil uang simpanannya sebesar Rp 18 juta didalam rumah. Ia baru menyadari setelah api tak terbendung, total kerugiannya ditaksir mencapai ratusan juta.

Janda paruh abad ini, tampak menumpuk barang yang berhasil diselamatkan di teras Surau Al Mukarramah. Rumahnya memang berada diseberang tempat beribadah umat Muslim itu.

Sesekali, Hamsiah menghela nafas sambil menyeka keringat membasahi wajahnya. Bukan hanya uang dan prabot rumah terbakar jadi arang, barang berharga seperti surat pensiunan dan berkas penting lainnya, juga hangus jadi abu.

Hamsiah tinggal bersama dua anak perempuan dan satu anak laki-laki, serta seorang cucu. Pasca rumahnya terbakar, ia dalam kebingungan akan menetap dimana selanjutnya, apalagi tak punya sanak keluarga.

“Saya tak punya suami lagi, sekarang mau bagaimana, saudara juga tak punya”, ujar Hamsiah.

Petugas dibantu warga setempat berupaya memadamkan api.

Atas kejadian ini, anggota DPRD Natuna yang baru saja dilantik, Eryandy, menyampaikan turut berduka atas musibah dialami warga Penagi.

Pihaknya akan memperhatikan warga korban kebakaran, sementara waktu Hamsiah akan ditempatkan di rumah Joni, Ketua RT setempat.

“Akan diperhatikan, untuk sementara ini tinggal di rumah pak RT, yang penting bisa berteduh dulu. Kita akan perhatikan fasilitasnya, seperti kasur dan kebutuhan lainnya”, sebut Eryandy.

Mengenai musibah ini, ia juga akan menyampaikan kepada pemerintah, semoga saja daerah bisa memberikan sumbangsih kepada para korban.

Politisi Partai Perindo ini mengamati, kondisi jalan memang sangat sempit di pelantar Penagi. Harapannya kedepan, jalan di kampung bekas pusat perdagangan itu bisa dibesarkan.

“Kemudian masalah jalan, kita bisa tengok bersama tadi kan, mobil pemadam aja susah mau lewat, apalagi mau belok, tidak bisa”.

Eryandy juga menyoroti ketidak tersediaan hydrant air. Hal ini sangat penting, mengingat rumah warga disana masuk kategori rawan kebakaran.

“Harusnya ada hydrant air disini, minimal dua titik, kalau terjadi musibah seperti ini, pemadam bisa mengambil air dari situ”, tandasnya.

(Red)

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Your email address will not be published.