Warga Australia Tidak Percaya Medsos, Banyak Berita Bohongnya

AUSTRALIA (marwahkepri.com) – Perusahaan riset Roy Morgan melakukan survei terhadap 1200 warga Australia. Hasilnya sebanyak 44 persen warga Australia tak mempercayai media sosial (medsos), dan masih lebih mengandalkan sajian “berita sungguhan” dari media konvensional seperti radio, majalah dan televisi.

Survei serupa tahun lalu menyebut Facebook sebagai medsos yang paling tidak dipercayai, namun survei tahun ini menunjukkan adanya peningkatan kepercayaan.

Tingkat ketidakpercayaan warga Australia terhadap Facebook kini tercatat hanya 33 persen.

Ada lima alasan utama mengapa mereka tidak mempercayai medsos.

Alasan pertama yaitu maraknya hoaks atau manipulasi kebenaran. Alasan lainnya adalah bahwa siapapun saat ini bisa membuat klaim tanpa bukti dan menyebarkannnya sebagai berita.

“Ketidakpercayaan itu manifestasi ketakutan, rasa sakit, dan pengkhianatan yang kita alami,” ujar CEO Roy Morgan, Michele Levine, mengenai hasil survei tersebut seperti dikutip dari detik.com.

Levine mengatakan di tengah maraknya berita bohong, melacak ketidakpercayaan menjadi masalah serius bagi para pengelola media.

Survei ini menunjukkan media konvensional secara konsisten tetap dipercayai warga Australia.

Media yang paling dipercaya yaitu lembaga penyiaran publik ABC, disusul oleh SBS. ABC bahkan hanya mendapat tingkat ketidakpercayaan dari warga Australia sebanyak 7 persen.

“Warga Australia menyatakan kepercayaan mereka terhadap ABC didorong oleh kurangnya bias dan keberpihakan, serta jurnalisme berkualitas dan beretika,” jelasnya.

“Sementara ketidakpercayaan mereka terhadap medsos didorong oleh lemahnya standar jurnalistik, hoaks, kebenaran yang dimanipulasi, masalah privasi, bias dan agenda tersembunyi,” tambah Levine.

Banyaknya berita bohong yang bertebaran di medsos menjadi salah satu alasan mengapa platform ini kurang dipercayai publik.

Kasus Indonesia

Fenomena kepercayaan terhadap media konvensional yang lebih baik ketimbang medsos juga terjadi di Indonesia.

Pada saat peringatan Hari Pers Nasional 2019 bulan Februari lalu, Presiden Indonesia Joko Widodo sempat memaparkan data tingkat kepercayaan terhadap media konvensional yang semakin membaik.

Jokowi menyampaikan, jika di tahun 2017 tingkat kepercayaan terhadap media konvensional menunjukkan angka 58 persen sementara kepercayaan terhadap media sosial 42 persen, maka di tahun 2018 tingkat kepercayaan terhadap media konvensional mencapai 63 persen.

Sebaliknya, tingkat kepercayaan terhadap media sosial semakin menurun, yakni menunjukkan angka 40 persen di tahun 2018.

“Dari data itu, semakin ke sini semakin besar kepercayaan publik. Ini harus dipertahankan,” kata Presiden Jokowi kala itu.

Bahkan dalam studi yang dilakukan Centre for International Governance Innovation (CIGI) pada periode 21 Desember 2018 – 4 Januari 2019, Indonesia – dengan persentase sebesar 41 persen – menempati posisi ketiga setelah Mesir (49%) dan Meksiko (43%) dalam penggunaan situs berita fact-checking (cek fakta) untuk mengklarifikasi berita bohong.

Dalam survei yang dilakukan CIGI terhadap 25.229 pengguna internet dari 25 negara itu sebanyak 84% responden di Indonesia menyebut pernah menemukan kabar bohong di Facebook.

 

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Your email address will not be published.