Divisi Humas Polri Gaungkan Generasi Milenial Anti Hoax

Para Narasumber Generasi Milenial Anti Hoax foto bersama setelah acara selesai. (F: mun)

BATAM (marwahkepri.com) – Saat ini teknologi informasi berkembang sangat pesat, dari umumnya media cetak sekarang sudah beralih ke online atau digital. Setiap individu juga dapat mengekpresikan diri melalui foto dan video kegiatan mereka sehari-hari. Penggunaan media ini dapat berpengaruh positif karena kita bisa langsung berinteraksi dengan keluarga. Namun tidak sedikit juga sisi negatif karena banyaknya konten mengandung unsur pornografi, pornoaksi, hoax, serta muatan sara yang meresahkan masyarakat.

Untuk itu, Divisi Humas Polri bersama mahasiswa, siswa, jurnalis, dosen, youtuber, selebgram, admin media sosial dan pegiat sosial lainnya membahas terkait penggunaan media sosial dengan tema “Generasi Milenial Anti Hoax, Bicara Baik dan Bijak Bermedia Sosial” di Ballroom Pacific Hotel Kamis, 25 Juli 2019.

Acara dipandu oleh Sholihul Abidin S.Sos. I.,M.I.Kom dengan narasumber Kombes Pol Heru Yulianto dari Divisi Humas Polri, Wahyu Aji CEO Goodnews from Indonesia, Dr .Hendrasmono, MA dari Sekjen Kominfo dan Ageng Rana Cindoswari, SPM, M.Si salah satu dosen Universitas Putera Batam. Mereka sama-sama berbicara mengenai bagaimana cara bersosial media yang baik.

Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Muhammad Iqbal, S.I.K  melalui Kombes Pol Heru Yulianto mengatakan saat ini Polri sudah melakukan sosialisasi kepada masyarakat  dan menghimbau agar masyarakat berhati-hati dalam menggunakan sosial media, jangan melanggar hukum dan taat hukum mengenai transaksi elektronik.

Dikatakan Heru, dari sensus penduduk tahun 2018, jumlah penduduk Indonesia berjumlah sekitar 268 juta jiwa, sedangkan handphone yang tersebar sebanyak  355 juta unit atau 150% dari penduduk Indonesia.

Dari semua itu, pengguna yang aktif dalam internet biasanya menggunakan Youtube , Facebook, Instagram dan media sosial lainnya.

Berbicara tentang hoax, Heru mengatakan bahwasanya manusia tidak ada yang tidak terkena hoax, jika manusia tidak terkena hoax, manusia sudah berada di dalam surga.

“Jika manusia tidak terkena hoax, manusia sudah berada didalam surga,  tapi nyatanya Nabi Adam juga terkena hoax oleh tipu daya setan, setan menyuruh Nabi Adam untuk makan buah Khuldi. Jadi siapa yang menyebarkan hoax adalah setan,” kata Heru diikuti gelak tawa para undangan yang hadir.

Dalam pembahasan itu, ada 4 aspek hoax di antaranya lelucon yang dianggap menjadi hal yang biasa, provokasi, ideologi dan ekonomi.

“ Alasan seseorang meneruskan hoax itu karena mereka mendapat berita tersebut dari orang yang dipercaya. Kemudian mereka meneruskan berita itu,  sebagian lagi menganggap berita itu bermanfaat, hanya sebagian kecil saja yang tidak peduli dengan kebenaran berita tersebut,”kata Heru.

Secara persentase, yang memeriksa kebenaran atas berita itu hanya 1%, sebanyak 18% menghapus berita tersebut, dan 48% meneruskan beritanya.

Sekarang ini polisi juga sudah banyak yang menyamar di dunia maya, polisi melakukan pemantauan dan bersinergi dengan kominfo.

“Jadi kita harus berhati-hati dalam menggunakan media sosial ini, jejak digital abadi dan tidak terbantahkan, backupnya ada di kutub utara dan kutub selatan,”terang Heru.

Sementara itu, sanksi pidana untuk penyebar hoax atau hate speech dikatakan Heru diancam 6 tahun penjara dan denda Rp 1 Miliar.

“Mari kita bermedia sosial yang baik, karena media sosial ini adalah ruang publik bukan ruang privat. Dunia maya sama dengan dunia nyata, kita harus tetap beretika,”tutup Heru mengakhiri. (mk/mun)

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Your email address will not be published.