Donald Trump “Suruh Pulang” Anggota Kongres Non Kulit Putih Ke Negara Asalnya, Umat Muslim Dapat Perlakuan Rasis

Omar berbicara di samping tiga rekannya, Pressley Ocasio-Cortez dan Tlaib dalam konferensi pers di US Capitol, Washington, 15 Juli 2019. (istimewa)

WASHINGTON (marwahkepri.com) – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melakukan tindakan rasis  dinegara itu. Penyataannya yang “menyuruh pulang” anggota kongres non kulit putih kenegara asalnya menuai banyak kecaman. Dewan Perwakilan Rakyat Amerika meloloskan resolusi yang menyebutkan Trump “melegitimasi ketakutan, kebencian dengan meminta anggota kongres perempuan untuk kembali ke negara asal.” Keempat anggota kongres itu, tiga lahir di Amerika dan satu datang saat kecil.

Trump menekankan ia tidak rasis, namun Shamsi Ali, Imam Indonesia di New York mengatakan jemaah banyak mengeluh kepadanya mendapatkan perlakukan rasis.

“Saya belum mengalami secara langsung, tapi jemaah banyak yang mengalami, dengan diteriaki ‘pulang ke negara asal’ karena berasal dari Asia Selatan seperti Bangladesh, kulitnya tidak putih. Orang Arab yang menghadapi pelayanan berbeda saat belanja,” kata Shamsi seperti dikutip dari detik.com Kamis (18/7/2019).

Dikatakan Shamsi, sikap rasisme Amerika semakin terbuka sejak Donald Trump terpilih karena mereka merasa mendapat pembenaran, sehingga mereka semakin terbuka untuk mengekspresikan. White supremacist semakin menjadi-jadi. Targetnya, bukan non kulit putih tapi juga orang Yahudi. Orang Amerika menghadapi masalah berat karena presidennya

“Rasisme tidak lagi di pinggir jalan tapi keluar dari Gedung Putih,”kata dia.

Resolusi mengecam Trump diloloskan setelah 240 suara mendukung dan 187 menentang. Empat anggota Republik – partai pendukung Trump- mengikuti langkah 235 anggota Partai Demokrat yang meloloskan resolusi.

Resolusi ini adalah pernyataan pendapat dan tidak mengikat secara legal. Namun mengkritik perilaku presiden sangat jarang terjadi.

Keluhan warga Yahudi

Shamsi Ali – yang juga tergabung dalam asosiasi lintas agama di New York – juga mengatakan banyak teman-temannya warga Yahudi yang mengeluh karena mendapat perlakuan serupa.

“Banyak teman-teman Yahudi yang mengeluh. Justru dalam beberapa bulan terakhir, persentase anti-Semitisme lebih tinggi daripada anti-Islam. Mungkin karena orang Islam tidak berani melapor…Ini terjadi di mana-mana.”

“Semua yang dikategorikan minoritas mendapat perlakuan yang rasis. Dari hispanik, Afrika, orang Yahudi, orang Islam, khususnya dari Timur Tengah dan Asia Selatan mendapat perlakuan rasisme yang cukup tinggi. Karena pelaku rasis seolah mendapat perlindungan pemerintah,” kata Shamsi.

Kontroversi terakhir bermula dari utasan cuitan Trump hari Minggu (14/07), yang menyebutkan anggota Kongres, Alexandria Ocasio-Cortez, Ilhan Omar, Ayanna Pressley dan Rashida Tlaib “berasal dari negara-negara dengan pemerintahan yang kacau” dan “harus kembali (ke negara asal)”.

Shamsi mengatakan kejadian ini merupakan preseden buruk, terutama bagi warga biasa.

‘Memalukan dan menjijikkan’

“Mereka anggota kongres dan diperlakukan seperti ini, bagaimana yang seperti kita di pinggir jalan. Anggota kongres aja di suruh pulang ke negaranya… Ini perilaku rasis yang sangat dalam. Amerika dicatat dalam sejarah, Ini memalukan bila tidak segera dirubah,” kata Shamsi Ali.

“Mudah-mudahan (kepemimpinan Trump) tak berlanjut… Secara hukum tidak fatal tetapi secara moral, secara etika sangat fatal dan menjadikan kredibilitas Amerika hilang di mata internasional,” tutupnya.

Segera setelah resolusi diloloskan, Anggota Partai Demokrat Al Green dari Texas mengajukan impeachment atau pemakzulan terhadap Presiden Trump.

Sejauh ini pimpinan Demokrat menolak melakukan pemakzulan walaupun semakin banyak seruan dari anggota partai.

Green mengatakan Trump telah membawa posisi Presiden Amerika Serikat “direndahkan, menjadi bahan ejekan, hina dan ternoda”.

Resolusi terakhir ini diajukan oleh Ketua DPR dari Partai Demokrat Nancy Pelosi.

“Komentar dari Gedung Putih ini memalukan dan menjijikkan dan komentar-komentar itu rasis,” kata Pelosi.(mk/dtc)

 

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Your email address will not be published.