Jadi Sorotan, Kepri Sumbang Inflasi Tertinggi di Sumatera

Kepala BPS Kepri, Panusunan Siregar Saat Press Rilis. Foto RUDI PRASTIO

Kepala BPS Kepri, Panusunan Siregar Saat Press Rilis. (F: Rudi Prastio)

 

TANJUNGPINANG (Marwahkepri.com) – Dua kota di Kepulauan Riau yakni Batam dan Tanjungpinang menjadi sorotan pusat, karena menjadi penyumbang inflasi tertinggi di Pulau Sumatera per bulan Februari 2019. Kota Batam dengan angka inflasi 0,26 persen dan Tanjungpinang dengan angka 0,04 persen.

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kepri mencatat dari 23 kota di Sumatera, 2 kota mengalami inflasi dan 21 kota mengalami deflasi, inflasi tertinggi terjadi di Kota Batam sebesar 0,26 persen dan inflasi terendah di Kota Tanjungpinang sebesar 0,04 persen.

“Batam dan Tanjungpinang menduduki peringkat satu dan dua dari dua kota yang mengalami inflasi di Sumatera,” kata Kepala Bidang Distribusi BPS Kepri, Rahmad Iswanto, Minggu.
Menurut dia, deflasi tertinggi terjadi di Kota Tanjung Pandan sebesar 0,82 persen dan deflasi terendah terjadi di Kota Metro sebesar 0,04 persen.

Sementara, bila dilihat dari Indeks Harga Konsumen (IHK) 82 kota, tercatat 13 kota mengalami inflasi dan 69 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Tual sebesar 2,98 persen dan inflasi terendah terjadi di Kota Kendari sebesar 0,03 persen.

Sedangkan deflasi tertinggi terjadi di Kota Merauke sebesar 2,11 persen dan deflasi terendah terjadi di Kota Serang sebesar 0,02 persen.

“Batam dan Tanjungpinang menduduki peringkat keenam dan ke-11 dari 13 kota yang mengalami inflasi se-Indonesia,” ujarnya.

Rahmat menjelaskan, pada Februari 2019 IHK gabungan dua kabupaten/kota di Kepulauan Riau yakni Batam dan Tanjungpinang menunjukkan inflasi sebesar 0,23 persen.

Inflasi terjadi karena kenaikan IHK dari 136,69 di bulan Januari 2019, menjadi 137,00 bulan Februari 2019.
“Dari dua kota IHK di Provinsi Kepulauan Riau, tercatat Batam dan Tanjungpinang mengalami inflasi masing-masing sebesar 0,26 persen dan 0,04 persen,” kata Rahmad.

Dia menyampaikan, dilihat dari kelompoknya, inflasi yang terjadi di bulan Februari ini disebabkan oleh naiknya indeks lima kelompok, yaitu kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau naik sebesar 0,03 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar naik sebesar 0,02 persen; kelompok sandang naik sebesar 0,31 persen; kelompok kesehatan naik sebesar 0,03 persen; serta kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan naik sebesar 2,12 persen.

Sebaliknya, kelompok bahan makanan justru mengalami penurunan indeks sebesar 1,09 persen. Sedangkan kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga tidak mengalami perubahan indeks.
Menanggapi hal tersebut Ketua Dewan Perwakilan Daerah Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Abdul Basyid Has meminta pemerintah untuk ikut membantu membenahi perekonomian Kepulauan Riau yang dalam beberapa tahun terakhir menglami kemunduran.

“Ketika banyak daerah di Sumatera yang mengalami deflasi, dua kota besar di Kepri malah terjadi inflasi dan masuk sepuluh besar inflasi di Indonesia. Hal tersebut harus segera diatasi. Bagaimana rakyat bisa sejahtera jika ekonomi mereka tidak diperhatikan pemangku kebijakan,” kata Abdul dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Selasa (5/3)

Dia menilai inflasi yang terjadi Batam dan Tanjungpinang disebabkan oleh tidak terkontrolnya harga lima kebutuhan pokok, serta harga sayuran yang menurun drastis. Dampak ekonominya berkelanjutan ke semua aspek kehidupan, dan harus segera ditangani.

“Kita menyarankan pemerintah melakukan langkah-langka jangka panjang dengan menciptakan alur ekonomi yang pro rakyat serta jangka pendek menyeimbangkan harga dipasaran,” tegasnya. (mk/ant/mp)

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Your email address will not be published.