Pak Bupati, Kami Butuh Tranportasi Layak

Transportasi laut untuk siswa-siswi dan para guru Mts Darul Qalam di Kelurahan Senayang. (ist)

Lingga (marwahkepri.com) – “Nenek moyangku orang pelaut”, lirik lagu nusantara ini menjadi penyemangat bagi siswa-siswi Mts Darul Qalam di Kelurahan Senayang.

Duduk diatas laut sudah menjadi kebiasaan mereka, hanya untuk meraih pendidikan. Pergi pagi, pulang siang harus mereka jalani selama 3 tahun dibangku sekolah. Perjuangan mereka penuh adrenalin, demi ijazah dah ilmu agama yang baik.

Ya, tepat di seberang pulau Senayang berdiri sekolah Mts Darul Qalam, sekolah swasta yang dibangun sejak tahun 2010. Sejak saat itu siswa-siswi maupun guru harus bertaruh nyawa demi tegaknya pendidikan diwilayah pesisir itu hingga saat ini.

Mungkin keadaan ini masih terbilang lumrah karena faktor geografis. Namun mirisnya, demi merengkuh ilmu, mereka harus berjuang dengan kapal “Pokcai“, sebuah kapal yang didesain khusus mirip roro angkutan umum yang bertubuh kecil dengan mesin 15 PK. Kapasitas maksimal hanya belasan orang saja, yang bisa naik pada transportasi tradisional itu baik pergi maupun pulang dari pulau Sebangka, tempat sekolah mereka berdiri.

Sekolah yayasan ini, menampung lebih kurang 40 siswa-siswi yang didominasi anak-anak dari Kelurahan Senayang. Untuk keberangkatan, pihak sekolah harus menjalankan dua rute pulang pergi, agar siswa-siswi bisa belajar di sekolah. Jika harus dipaksa maka khawatir kapal over kapasitas yang akan berdampak buruk, menimbulkan bahaya ditengah perjalanan.

“Iya, sejak berdiri. Kami memang mengunakan Roro (red: Pokcai) itu. Kami dua kali angkut, itu sekitar 15 orang sekali jalan,” kata Apriyanto, salah satu guru di Mts Darul Qalam ini, Senin (04/03/2019).

Waktu yang dibutuhkan untuk menyebrang sekitar 15 menit, sehingga bila disumsikan dua kali rute perjalanan memakan waktu cukup lama hanya untuk sampai ditempat pendidikan.

Menurut Arpiyanto, kondisi demikian sudah jadi makanan sehari-hari. Mereka harus antrian, tak jarang berdesak-berdesakan hanya untuk duduk didalam kapal itu.

Musim selatan, menjadi ancaman bagi mereka. Di selat kecil itu tampak kurang bersahabat. Gelombang-gelombang kecil menggelinding ditepian Pokcai mereka. Dengan dinding lambung kapal yang rendah, ada kekhawatiran antara karam atau tidak.

Mereka dipaksa duduk rapi dengan penuh kehati-hatian di dalam kapal kecil itu. Berjuang dengan hempasan ombak, tak jarang seragam basah karena gelombang masuk kedalam lambung kapal. Nyawa menjadi taruhan, hanya untuk sampai di sekolah maupun saat pulang ke rumah.

Lain lagi pada musim hujan, mereka harus menggunakan payung karena Pokcai hanya sebagian yang beratap.

Namun mereka tetap harus mengikhlaskan keadaan dan berserah diri, untuk berbuat rutinitas belajar dan mengajar di sekolah.

“Kalau angin kuat memakan waktu, tekong kapal harus hati-hati, membawa siswa-siswi dan kami para guru. Karena cukup berbahaya angin kuat, alun tinggi. Kemarin pernah ditegur sama Syahbandar, kami ingatkan pelampung bantuan harus siaga,’ kata dia.

Sekian tahun berdiri, dan berhasil meluluskan lima angkatan, kondisi transportasi ke sekolah berbasis agama ini masih memprihatikan. Dia mengakui transportasi layak sudah menjadi idaman pihak sekolah dan siswa sejak dulu. Tetapi sampai saat belum tampak adanya lampu hijau dari pemerintah daerah dan dinas terkait.

Pokcai yang mereka gunakan, adalah transportasi dari sekolah yang dikhususkan untuk rutinitas pendidikan. Kondisi kapal itu saat ini, menurut Arpiyanto juga tidak lagi sekokoh saat baru diturunkan ke air. Lapuk dimakan usia, disapu air asin dan terik matahari membuat daya tahan kapal semakin menipis. Mesinnya sudah dua kali diganti.

“Ada beberapa Pokcai, satu itu memang kami khusus untuk sekolah dari pihak sekolah yang menyediakan. Kalau untuk tambang itu lain orangnya,” jelas Arpiyanto.

Rutinitas sekolah siswa-siswi Mts Darul Qalam harus menyebrang pulau dengan Pokcai. (Ist)

Baca juga (klik):

Sebenarnya, Mereka Mendambakan Tranportasi Layak untuk Sekolah

 

Bukan saja Pokcai, jalan darat sekitar 800 meter dari tambatan kapal menuju sekolah di pulau Sebangka itu juga bentuk perjuangan mereka. Ada berapa tanjakan yang harus mereka lalui dengan berjalan kaki setiap pagi dan siang yang memakan waktu sekitar 20 menit.

Pengakuan Arpiyanto, tahun 2014 pihak sekolah telah menyediakan Kaisar, atau kendaraan roda tiga untuk kebutuhan transportasi dari parkiran kapal ke sekolah. Namun, kurang memiliki daya tahan, karena kondisi jalan yang beralaskan tanah serta bebatuan bauksit membuat kendaraan cepat rusak.

Karena kendaraan itu, masih dalam masa perbaikan. Kini mereka harus mengulang jalan kaki kembali, untuk cita-cita pendidikan.

“Kami dah usulkan proposal ke Dinas Pendidikan. Bukan Bus tapi dalam bentuk mobil pickup atau Kaisar saja. Tapi sampai ini belum ada, masih jalan kaki ke sekolah,” ujar dia.

Menurut dia mungkin ada perbedaan antara sekolah swasta dan negeri, sebab itulah pemerintah daerah mungkin agak kesulitan membantu dalam menyusun nomenklaturnya.

Pernah mendapatkan kabar bahagia, sekolahnya akan menerima bantuan tranportasi laut, tetapi masih saja isu belaka. Dia menilai kemungkinan ada sekolah lain yang membutuhkan dari pada Mts Darul Qalam.

Bagai pungguk merindukan bulan, sebab sampai saat ini pemerintah belum memberikan tanggapan serius terhadap pendidikan di sekolah swasta ini. Meski beberapa tempat sudah dapat transportasi sekolah layak, tapi belum bagi sekolah di pulau Sebangka ini.

Dia berharap masih ada kemungkin atau solusi-solusi terbaik demi pendidikan di Kabupaten Lingga, khususnya di sekolah mereka.

“Sebagian ada yang dari Belakang Hutan, ada yang pakai sepeda motor sendiri. Ada juga yang ngojek,” terang dia.

Sementara Camat Senayang, Kimat Awal terkait ini menerangkan sudah ada pengusulan yang didapatkan dari Musrenbang beberapa waktu lalu. Namun bukan bentuk tranportasi sekolah tapi transportasi kapal roro berkapasitas agak sedikit kecil, yang telah disampaikan kepada pemerintah daerah. Ada dua usulan tranportasi ini, satu dibutuh untuk menyebrang antara pulau Senayang menuju Desa Lundang di Kecamatan Lingga Utara dan satunya lagi untuk penyebrangan ke Pulau Sebangka.

Kimat mengakui, permasalahan pendidikan di Mts Darul Qalam pernah disampaikan ke Dinas Pendidikan. Meski belum lama dia menjabat di Kecamatan tertua di Kabupaten Lingga itu, namun terus berusaha mengubah keadaan yang serba minim agar menjadi prioritas pembangunan pemerintah daerah.

“Itu kami sampaikan ke Pak Junaidi, Kepala Dinas Pendidikan. Tapi memang pertanggungjawabannya belum jelas. Ini tanggungjawab siapa, kecamatan ?. Karena sekolahnya swasta, merekapun belum ada mengusulkan itu,” jelas Camat yang dilantik Bupati Lingga akhir 2018 lalu .

Meski demikian akan ada perjuangan-perjuangan kecil untuk kemakmuran kota kecil, Senayang tersebut, khususnya dibidang pendidikan. Dia berharap, untuk saat ini pihak sekolah maupun siswa-siswi agar bersabar. Kecamatan akan berusaha menemukan titik terang transportasi ini.

“Saya liat itu lumayan layak. Tapi akan diusahakanlah. Mungkin ada solusinya kedepan,” papar Kimat. (MK/arp)

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Your email address will not be published.