Sebenarnya, Mereka Mendambakan Tranportasi Layak untuk Sekolah

Rutinitas sekolah siswa-siswi Mts Darul Qalam harus menyebrang pulau dengan Pokcai. (Ist)

Lingga (marwahkepri.com) – Perahu kotak adalah “Pokcai”, begitulah istilah orang di Kelurahan Senayang mengenal tranportasi kecil penyebrangan antar pulau tersebut.

Jenis perahu yang didesain sekian rupa itu, diketahui sudah sekian tahun digunakan masyarakat setempat, layaknya sebuah kapal Roro, alat transportasi khusus antar pulau. Tetapi Pokcai jauh lebih kecil, berbahan dasar kayu dengan daya mesin 15 PK.

Perahu dengan ukuran yang tidak seberapa besar itu juga kerap digunakan untuk kebutuhan pendidikan. Mungkin tidak layak, dengan menampung beban terlalu banyak akan menimbulkan bahaya ditengah perjalanan, apalagi itu adalah laut.

Tapi apa yang harus siswa-siswi Madrasah Tsanawiyah (Mts) Darul Qalam ini perbuat?. Di seberang pulau Senayang berdiri sekolah tempat mereka menimba pengetahuan.

Pergi dan pulang harus mereka lalui sekian tahun lamanya. Duduk rapi dengan penuh kehati-hatian didalam Pokcai yang kurang memadai tersebut untuk rutinitas sekolah. Nyawa menjadi taruhannya. Berpikir karam ditengah laut adalah ancaman yang terpasak dalam pikiran mereka. Tetapi, mau tidak mau mereka harus duduk di dalam Pokcai demi ilmu.

Mereka berharap diberi alat transportasi memadai oleh Pemerintah Kabupaten Lingga. Lebih kuat dan aman, itu adalah sebuah harapan dan doa mereka yang sampai hari ini belum terjawab.

“Tak hanya siswa, guru juga pakai pompong kalau mau ke sekolah. Karena jaraknya harus ditempuh lewat laut,” kata Zulfikar, salah satu guru MTS Darul Qalam pada 2016 silam.

Tiga tahun pengakuan Zulfikar, namun belum ada perubahan potret sarana transportasi pendidikan di sekolah tersebut. Baik dilaut maupun darat mereka harus berjuang.

Sebenarnya, persoalan transportasi bagi anak-anak sekolah di Kecamatan Senayang ini telah lama menjadi perbincangan. Meski dipandang secara umumnya pendidikan dimana saja sama,  tetapi topografi daerah menjadi  perbedaan. Tentunya anak-anak pesisir membutuhkan tranportasi layak angkut sebagai sarana pendidikan.

Pokcai ini, pada Februari 2017 lalu pernah karam. Tidak ada korban jiwa, karena guru dan siswa masih dalam proses belajar mengajar disekolah. Tetapi akibat cuaca buruk itu, sebanyak 64 orang siswa tidak bisa pulang dan harus bertahan hingga pukul 15.30 WIB sebelum dijemput orang tua siswa dengan perahu lain.

“Roronya karam. Kami terkepung hujan, kelaparan dan basah semua di pulau Sebangka. Sampai pukul 15.00 WIB baik guru ataupun murid tidak bisa pulang,” kata Belsa guru MTs Darul Qalam, Selasa (28/02/2017) lalu.

Dinas pendidikan Kabupaten Lingga, tahun 2017 lalu pernah berupaya memenuhi kebutuhan transportasi laut khusus sekolah. Ada 6 unit perahu dengan kapasitas 3 GT yang akan disiapkan untuk anak sekolah SD dan SMP di pulau- pulau terpencil. Mungkin siswa dan guru di Mts Darul Qalam akan kebagian.

Sayangnya, sampai 2018 tidak ada kabar baik, malah mencuat kabar pengadaan 6 unit pompong tersebut bermasalah dengan hukum. Tak tanggung-tanggung, negara dirugikan sebesar 125 juta rupiah dari pagu Dana sebesar 537 juta rupiah.

Hingga di tahun 2019 ini, anak-anak Mts Darul Qalam masih berjibaku dengan Pokcai. Akun facebook Senayang Maju memposting bagaimana rutinitas pelajar dan guru ketika hendak menyebrang.

Posting itu juga menjelaskan bagaimana sukarnya mereka beradaptasi dengan cuaca. Pada musim angin kuat mereka harus  betarung dengan hempasan ombak, tak jarang seragam basah karena gelombang masuk kedalam Pokcai dan pada musim hujan mereka harus menggunakan payung, karena Pokcai hanya sebagian yang beratap.

“Pokcai berkapasitas sekitar belasan orang, harus bolak-balik menjemput pelajar yang belum bisa diangkut untuk menyebrang. Siswa-siswi harus berantrian dan berdesak-berdesak untuk menuntut ilmu bahkan bisa di katakan bertaruh nyawa,” begitu yang dituliskan. (MK/r)

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Your email address will not be published.