Akhirnya Desa Sungai Pinang Nikmati Jaringan 4G LTE

(net)

Lingga (marwahkepri.com) – Sejak dibangunnya satu pemancar base transceiver station (BTS) yang dilayani provider telkomsel beberapa tahun lalu, akhirnya awal 2019 Desa Sungai Pinang Kecamatan Lingga Timur bisa mengakses internet dengan layanan 3G/4G LTE.

Layanan ini sudah lama diidamkan masyarakat dan pemerintahan setempat setelah sekian lama berhubungan dengan layanan GSM/2G.

Kepala Desa Sungai Pinang, Diyau Rusdi mengaku senang setelah upaya yang dilakukan mendapatkan hasil. Bukan hanya desa, hal tersebut tidak terlepas dari upaya bersama, dukung masyarakat bahkan tanggapan serius pemerintahan Kabupaten Lingga untuk mengurangi fakir internet.

“Alhamdulillah berkat proposal kita, dukungan masyarakat, media, pemerintah akhirnya disini bisa mengakses internet,” kata dia, Minggu (24/02/2019).

Kemajuan ini, kata dia akan memberikan kemudahan ditengah majunya dunia teknologi. Apalagi kecepatan pengunduhan (download) dan pengunggahan (upload) sudah menjadi kebutuhan di era digitalisasi ini, baik pengguna ponsel maupun komputer.

Salah satunya dalam urusan pemerintahan. Desa dan kecamatan bisa lebih mudah mengakses data yang berkaitan dengan jaringan internet karena prosesnya tidak begitu lama. Apalagi Telkomsel masih menjuari kecepatan loading pada jaringan LTE.

Tidak seperti sebelumnya, sebagai pusat pemerintahan Kecamatan Lingga Timur dalam urusan data elektronik, petugas desa maupun kecamatan harus menanjak bukit agar jaringan internet bisa diakses dengan loading sedikit cepat.

“Ini sangatlah mempermudah kami dalam pekerjaan dalam mengakses suatu pekerjaan yang berkaitan langsung dengan jaringan internet,” terang dia.

Namun demikian, dari dulu hingga sekarang jangkauan sinyal di BTS Sungai Pinang hanya mencakup satu desa saja. GSM ataupun LTE saat ini tidak dapat meluas hingga ke desa-desa tetangga, seperti Desa Kudung, Teluk maupun Belungkur.

BTS yang dibangun dibawah ketinggian merupakan faktor sinyal tidak bisa meluas bebas karena posisi yang tidak strategis sehingga terhalang bukit.

Desa-desa tersebut saat ini masih memakai pelayan tower mini yang dibangun Kementerian Komunikasi dan Informatika tahun lalu. Karena merupakan wilayah blank spot,  layanannya belum optimal. Masyarakat harus bisa berhemat lantaran tarif pada jaringan GSM untuk nelpon dan SMS notabenenya jauh lebih mahal. (MK/arp)

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Your email address will not be published.