Polres Natuna Ungkap Pelaku Pencabulan “Homo Seksual”

Kapolres dan Kasat Reskrim menunjukkan BB kasus pencabulan.(foto:nang)

MARWAHKEPRI.COM, NATUNA – Kepolisian Resort Natuna menggelar konfrensi pers terkait kasus pencabulan anak sesama jenis (homo seksual) dibawah umur. Bertempat di ruang Sat Intelkam Polres Natuna, Selasa (23/10/2018).

Diketahui, pelaku pencabulan berinisial AA (25 tahun), sedangkan korbannya adalah laki-laki dibawah umur, berasal dari Jakarta. Perbuatan asusila tersebut dilakukan di rumah pelaku, di Teluk Baruk, Desa Sepempang, Kecamatan Bunguran Timur.

Kapolres Natuna AKBP.Nugroho Dwi Karyanto,SIK menceritakan kronologi terjadinya persetubuhan pelaku dengan korban. Diawali dengan perkenalan keduanya di media sosial.

Pada bulan April 2018, korban mengenal tersangka setelah bergabung ke dalam grup facebook komunitas gay/homo seksual. Korban melihat tersangka memposting nomor telepon didalam grup tersebut.

Setelah itu, korban kemudian mengirim pesan kepada tersangka, selanjutnya aktif saling berbalas pesan melalu media sosial dengan tersangka. Hingga akhirnya korban berpacaran dengan tersangka. Dalam hal ini, korban berperan menjadi wanita/mama dan tersangka berperan sebagai laki-laki/papa.

Korban yang merupakan warga ibu kota,
berangkat ke Natuna menggunakan Kapal Bukit Raya. Bertolak dari pelabuhan Tanjung Priok menuju pelabuhan Selat Lampa, tepatnya pada awal bulan Mei 2018.

Korban dibiayai tersangka untuk datang ke Natuna, setelah tersangka menawarkan pekerjaan disebuah tempat makan. Ajakan tersebut diiyakan oleh korban.

Sesampainya di Natuna, korban tinggal seatap di rumah tersangka beserta keluarganya di desa Sepempang, Kecamatan Bunguran Timur.

Di rumah tersangka, keduanya acap kali terlibat hubungan seks. Dari bulan Mei sampai Juli 2018, korban dan tersangka telah melakukan hubungan intim sekitar 30 kali.

Korban dan tersangka melakukan persetubuhan/homoseks atas dasar suka sama suka. Pada bulan Juli 2018, ibu tersangka menangkap basah keduanya sedang berhubungan layaknya suami istri.

Setelah kepergok, ibu tersangka menyuruh untuk tidak melakukukan kembali. Sekaligus menyuruh korban pulang ke Jakarta. Akhirnya korban pulang kampung pada bulan Agustus 2018 menggunakan KM Bukit Raya.

Bak kisah cinta Remeo dan Juliet, korban kembali ke Natuna pada bulan September, setelah ditelepon tersangka dan meminta untuk datang. Segala biaya transportasinya ditanggung tersangka.

Setelah sampai di Natuna, “kontak fisik” antara keduanya kembali dilakukan. Dari bulan September hingga Oktober 2018, mereka berhubungan badan lebih dari 4 kali.

Pada hari Jumat tanggal 19 Oktober 2018, Ketua RT, Camat, Satpol PP mendatangi rumah tersangka dan korban. Menanyakan masalah persetubuhan/homoseks tersebut.

Sehubungan dengan adanya laporan dari warga dan juga keluarga dari tersangka. Kemudian, Satpol PP mengamankan korban dan membawa ke Mako Satpol PP Natuna.

Selanjutnya, pada Sabtu tanggal 20 Oktober 2018, Pihak Kepolisian mendatangi Mako Satpol PP Natuna melakukan interogasi terhadap korban dan tersangka.

Dari situ ditemukan pidana persetubuhan terhadap anak dibawah umur. Akhirnya pihak Kepolisian membawa korban dan tersangka untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Terhadap tersangka dikenakan Pasal 81 ayat (1) dan (2) Undang-Undang Republik Indonesia No.17 Tahun 2016, tentang perubahan kedua atas Undang-Undang Republik Indonesia No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Jo Pasal 292 K.U.H.Pidana.

Uraian : Pasal 81 ayat (1) dan (2) Undang – Undang Republik Indonesia No.17 Tahun 2016 tentang perubahan kedua atas Undang – Undang Republik Indonesia No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

“Setiap Orang Dilarang melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat, melakukan serangkaian kebohongan, atau membujuk anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang dipidana paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp 5.000.000.000,00 (lima milyar rupiah) “

Pasal 292 K.U.H.Pidana : “Orang dewasa yang melakukan perbuatan cabul dengan orang lain sesama kelamin, yang diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya belum dewasa, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun”.

Korban dan tersangka pernah menjadi korban persetubuhan terhadap sesama jenis/gay (homoseks) sebelumnya dan itu dialami pada waktu masih kecil.

Kapolres menghibau kepada masyarakat agar selalu waspada dan memperhatikan pergaulan anaknya. Hal ini penting untuk mengantisipasi terjadinya kasus serupa.

“Mari kita sama-sama untuk melakukan kegiatan yang sesuai dengan peraturan pemerintah maupun agama. Seperti kasus ini, dalam undang-undang sudah ada regulasinya, dalam agama pun tidak diperbolehkan”, ujar Nugroho.

Terhadap korban, pihak Kepolisian akan berkoordinasi dengan KPAI Provinsi Kepri, mengingat korban masih dibawah umur.***

Sonang Lubis