Jadi Mualaf Bahkan Keinginan Menjadi Polisi

Muhammad Harianto (kiri) dan Wakil Ketua II Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan BAZNAS Lingga, Syafari S.Ag (ist)

Lingga (marwahkepri.com) – Muhammad Harianto (17), anak dari pasangan Bahari dan Maryani merupakan keturunan dari suku laut yang mendiami wilayah pesisir Desa Kelumu, Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau menyebutkan dirinya punya cita-cita menjadi seorang polisi usai pendidikan wajib 9 tahun nantinya.

Anak pertama dari empat bersaudara ini, punya keinginan itu karena menurutnya menjadi seorang polisi adalah pekerjaan baik terutama menyangkut keamanan masyarakat.

“Saya ingin jadi polisi bang. Makanya saya giat belajar biar bisa,” kata Muhammad Harianto, Senin (08/10/2018).

Ditemui saat menjadi mualaf, Muhammad Harianto menceritakan segala harapannya. Dia tidak bisa menyembunyikan perasaan suka citanya usai memilih agama islam menjadi kepercayaannya yang akan menuntun semangat menggapai segala harapan.

Raut wajah senang, dengan bola mata yang berlinang, dia menyembutkan ingin lebih baik lagi kedepannya. Memilih menjadi mualaf ada satu harapan besar dalam hidupnya yakni ingin menjadi seorang polisi.

“Saya ingin sungguh-sungguh belajar agama. Karena pesan bapak ketika saya pindah agama harus sungguh-sungguh dan menjadi orang sukses,” kata dia.

Muhammad Harianto diketahui telah mengucapkan kalimat syahadat tadi pagi di kantor BAZNAS Lingga. Dia merupakan pelajar SMPN 003 Lingga yang sekarang duduk dibangku kelas XII. Setelah menjadi mualaf ini, dia memilih pindah sekolah di SMPN 002 Lingga, dan belajar menjadi bagian santri di Ponpes Baitul Mukhlasin Desa Musai.

Jika melihat kebelakang, suku laut di Kabupaten Lingga mayoritas hidup keterbelakangan yang pola hidupnya nomaden. Seiring kemajuan zaman mereka punya keinginan menetap, mereka tinggal di rumah-rumah bantuan dari pemerintah.

Di Desa Kelumu, semula mereka menetap di pesisir. Beberapa tahun lalu, pemerintah menyediakan rumah bantuan yang dibangun sedikit kedarat. Sekarang lokasi dan rumah-rumah yang dibangun itu hampir semua telah ditempati. Kampung itu dikenal dengan nama Kampung Baru Desa Kelumu yang mayoritas agamanya Kristen.

Meski begitu, Muhammad Harianto bersikap dengan pendiriannya. Memulai pendidikannya di SDN 005 Lingga, Harianto terus melanjutkan pendidikan menengah di SMPN 003 Lingga.

Meski secara umum suku laut dikenal tertutup, namun tidak pada Harianto. Anak ini terlihat bersikap tegar dan mampu berkomunikasi dengan baik, bahkan berani tampil didepan diantara teman-teman sekolahnya.

Menurut pengakuan gurunya, disekolah Harianto justru terlihat aktif. Dengan prestasi yang menengah, dia tidak punya rasa malu untuk berbuat kebajikan. Teringat waktu bagaimana dia menjadi pemimpin upacara, yang bersikap seorang pemimpin masa depan.

Laki-laki berambut ikal itu merupakan satu-satunya pelajar dari suku Laut di Desa Kelumu yang memilih menjadi mualaf diantara saudara dan orang  tuanya bahkan punya keinginan sukses menjadi seorang polisi.

“Saya senang bang,” kata dia singkat.

Dia bahkan mengakui keinginan menjadi mualaf tidak dalam tekanan. Berawal dari rasa suka mendengarkan lantunan ayat suci Al-Qur’an. Meski penyampaian kepala orang tuanya sempat dipatahkan. Akhirnya keberkahan itu datang, dan orang tuanya menerima keputusan itu dengan lapang dada. Dia direstui, dan diamanahkan untuk tinggal serta belajar agama di Ponpes.

Dengan postur tubuh yang tinggi, rasa tak mungkin keinginan menjadi polisi pupus. Dikesempatan itu, marwahkepri mencoba memberikan semangat. Dia terlihat cukup cerdas mencermati, dan bukan tipe anak pemalu meskipun terlahir dari keluarga kecil.

Berbagai program bisa menjadikan dia seorang polisi. Salah satunya lewat pembinaan keagamaan. Dengan menjadi salah satu hafizh Qur’an bisa membawa dia mencapai cita-cita itu.

“Iya bang, kami ingin sungguh-sungguh. Ingin berhasil. Ingin menjadikan cita-cita itu,” jawab dia dengan penuh semangat.

Mulai hari ini, dia telah menjadi santri dan meninggalkan hiruk pikuknya kehidupan laut. Dia bahkan telah menjalani sholat dihari ini. Anak ini juga dikenal tidak pandai merokok dan bisa menjaga kesehatannya.

Wakil Ketua II Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan BAZNAS Lingga, Syafari S.Ag, mengakui pihaknya akan terus berusaha sampai dimana Muhammad Harianto mampu mencapai cita-citanya. Karena merupakan kewajiban BAZNAS Lingga menjadi jembatan daripada muzakki membantu penerima zakat (mustahiq) apalagi Muhammad Harianto merupakan seorang mualaf.

“Kita akan bantu sampai S3 pun misalnya. Sekarang tinggal bagaimana dia bersungguh-sungguh,” kata Syafari.