Anak Suku Laut Kelumu, Lantunkan Dua Kalimat Syahadat

Muhammad Harianto (17) anak suku laut Desa Kelumu usai mengucapkan kalimat syahadat dan menerima bantuan dari Yayasan Kajang Lingga (ist)

Lingga (marwahkepri.com) – Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Lingga memfasilitasi satu warga Kampung Baru, Desa Kelumu yang hendak bersyahadat dan menjadi mualaf, Senin (08/10/2018). Dia adalah Muhammad Harianto (17) pelajar SMPN 003 Lingga yang sekarang telah menjadi bagian dari santri ponpes Baitul Mukhlasin di Desa Musai.

Prosesi syahadat dilaksanakan di Kantor BAZNAS Lingga jalan Engku Amang Kelang, Daik dan disaksikan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Lingga, Ustad Badiul Hasani, Perwakilan Kemenag Lingga, serta dari Yayasan Kajang Lingga.

Diketahui memang Muhammad Harianto merupakan pelajar aktif di SMPN 003 Lingga yang merupakan keturunan dari suku laut di dusun II, Desa Kelumu.

Menurut pengakuan Wakil Ketua II Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan BAZNAS Lingga, Syafari S.Ag mengatakan pihaknya siap memfasilitasi segala proses seseorang untuk menjadi muallaf bahkan merupakan kewajiban untuk menanggung pembiayaan seperti tertuang dalam program 8 aznab. Apalagi mualaf bersangkutan merupakan pelajar yang mempunyai cita-cita tinggi.

“Alhamdulillah, ini bagian dari program Lingga Taqwa. Pembinaan mualaf, dasar surah At-taubah ayat 60,” ujar Syafari.

Lebih jauh, berbicara soal pindah agama oleh Muhammad Harianto dia menjelaskan memang merupakan keinginan anak tersebut.

“Ini keinginan beliau tanpa ada tekanan. Kita wajib memfasilitasi. Biayanya itu murni dari Muzakki dan itu kita berikan kepada Mustahiq,” papar dia.

Untuk sementara segala keperluan anak itu juga telah disepakati, dan Muhammad Harianto diharus berpindah sekolah dari SMPN 003 Lingga ke SMPN 002 Lingga di Desa Musai. Yang bersangkutan juga dimasukkan menjadi santri di Ponpes Baitul Mukhlasin. Dari Yayasan Kajang juga memberikan bantuan berupa keperluan sekolah.

Selain itu, pihak BAZNAS juga telah memasukkan nama Muhammad Harianto kedalam daftar khitanan massal mendatang.

Kedepannya Muhammad Harianto, akan mengikuti kegiatan rutin ponpes, dan diajar banyak tentang keagamaan.

Sementara itu, Muhammad Harianto mengakui keinginan menjadi mualaf telah terasa sejak duduk di bangku kelas VII. Namun dirinya masih merasa takut memberitahukan itu kepada kedua orang tuanya.

Setelah duduk dibangku kelas IX SMP ini, dia memberanikan diri. Keinginannya itu, sempat ditolak, namun pada akhirnya kedua orangtuanya berlapang dada menerima keberkahan ini.

“Dah lama bang. Kemarin dari mak marah. Tapi sekarang tak lagi. Rasanya, suka dan saya ingin lebih baik lagi. Pesan bapak, kalau dah pindah ini biar sungguh-sungguh,” ucap dia saat ditemui.

Saat ditemui, dia juga telah bersiap-siap untuk mondok di pesantren Baitul Mukhlasin. (MK/arp)