Warga Setungkuk Terancam Terisolir, Pemerintah Jangan Tutup Mata

Gotong royong

MARWAHKEPRI.com, Natuna – Keberadaan puluhan Kepala Keluarga di kampung Setungkuk, Desa Sedanau Timur, Kecamatan Bunguran Batubi, terancam terisolir. Ancaman ini nyata, mengigat jembatan penghubung ke daerah itu, kondisinya sangat memperihatinkan.

Jembatan kayu sepanjang 800 meter, merupakan satu-satunya akses menuju Setungkuk melalui jalur darat. Sedangkan perjalanan jalur laut masih sulit, karena ketidak tersediaan armada reguler.

Jembatan inilah yang dipergunakan masyarakat untuk menjalankan aktifitas sehari-hari, baik dari Setungkuk ke Tanjung Sebauk, begitu juga sebaliknya.

Sayangnya, titian berusia 30 tahun tersebut, sudah mengalami kerusakan parah termakan usia. Sebagian badan jembatan tampak miring dan berlobang, karena buruknya kondisi pelantar dan tiang penyangga.

Ketiadaan akses lain, membuat masyarakat dusun Setungkuk terpaksa melaluinya. Padahal bahayanya sudah jelas didepan mata, sewaktu-waktu bisa saja roboh ketika sedang dilalui.

Kondisi jembatan

Dengan bersusah payah, puluhan anak sekolah dari kampung tersebut, juga harus melalui rintangan ini setiap harinya. Sepertinya mereka tidak memperdulikan keselamatan demi menuntut ilmu dibangku sekolah.

Tahun ke tahun, kondisi kekuatan jembatan penghubung itu terus terkikis. Bukan tidak mungkin suatu saat akan roboh jika tidak dilakukan perbaikan. Apabila ini terjadi, maka warga Setungkuk bakal terisolir ?.

Kepala Desa Sedanau Timur, Edi Cahyadi mengatakan, jembatan itu dibangun pada tahun 1988. Kemudian pernah diperbaiki pada tahun 2006 melaluo dan konpensasi BBM, selanjutnya tahun 2016 dan 2017.

“Kami juga pernah melakukan perbaikan dengan menggunakan Dana Desa (DD). Namun ditahun berikutnya kami tidak mampu lagi untuk menganggarkannya, baik melalui DD maupun ADD”.

Dijelaskan Edi, pada tahun 2017 lalu, pihaknya sudah pernah melayangkan proposal ke Dinas Pekerjaan Umum (PU) Provinsi Kepri, agar jembatan tersebut segera direnovasi atau dibangun ulang secara permanen. Namun kenyataannya hingga sampai detik ini, hasilnya masih nihil.

“Bahkan tim dari Dinas PU Provinsi sempat turun langsung kelapangan dan mengukur jembatan tersebut, sebagai perencanaan awal pembangunan. Kami pun sempat membuat berita acara bersama mereka, untuk diteruskan ke Gubernur”.

Kata Edi, di Kampung Setungkuk sama sekali tidak tersedia sarana dan prasarana umum bagi penduduknya. Baik fasilitas kesehatan, pendidikan maupun fasilitas umum lainnya. Alhasil, jika warga setempat ingin mendapatkan layanan umum, terpaksa harus hijrah ke kampung tetangganya.

“Karena segala fasilitas umumnya ada di Kampung Tanjung Sebauk. Di Kampung Setungkuk sama sekali tidak ada fasilitas umum,” katanya.

Bahkan kata Edi, tim dari Dinas PU Provinsi sempat turun langsung kelapangan dan mengukur jembatan tersebut, sebagai perencanaan awal pembangunan.

Edi bersama warganya mengaku sudah sering menyampaikan permasalahan ini kepada Pemerintah Daerah, melalui aspirasi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten maupun Provinsi. Namun hingga saat ini, belum ada kepastian apapun dari pemangku negeri ini, untuk melakukan perbaikan maupun pembangunan baru jembatan Trans Setungkuk-Tanjung Sebauk, yang siap mengancam keselamatan warga.

Edi berharap, adanya perhatian dari Pemerintah Daerah Natuna, melalui Instansi terkait, untuk merenovasi maupun membangun ulang jembatan tersebut secara permanen. Supaya tidak lagi mengancam keselamatan warga, terutama para siswa siswi sekolah dari kampung tersebut yang ingin menimba ilmu ke kampung tetangga.***

Sonang Lubis