Berpacu bersama Ratusan Truk Batubara Sepanjang 200 Kilometer

Para peserta Uji Kompetensi Wartawan di Muara Enim Sumatera Selatan dan para penguji. (Foto: Ist)
Para peserta Uji Kompetensi Wartawan di Muara Enim Sumatera Selatan dan para penguji. (Foto: Ist)

Catatan Assesor Kompetensi Wartawan Indonesia

Ternyata menjadi assesor kompetensi wartawan Indonesia tidak semudah yang dibayangkan. Mereka juga harus siap menempuh perjalanan hingga ratusan bahkan ribuan kilometer. Karena wartawan Indonesia tak semata bertugas di perkotaan, namun juga di pedesaan. Seperti apa pengalaman dalam menguji kompetensi wartawan di wilayah kabupaten? Berikut catatan Saibansyah Dardani yang menjadi assesor dari Kepulauan Riau.

Senin, 4 Desember 2017, penerbangan maskapai Citilink yang menerbangkan saya dari Bandara Hang Nadim Batam benar-benar terbang on schedule. Karena memang burung besi milik maskapai keluarga Garuda itu, semalam memang stay di Bandara Hang Nadim. Alhasil, jadwal QG 931 boarding sesuai jam yang tertera di boarding pass, 06.30 WIB dan terbang pada pukul 07.00 WIB.

Duduk di seat 12F sembari membawa sisa kantuk semalam, menjadikan perjalanan 1.05 menit itu ‘sesuatu banget’ untuk lelap. Apalagi, perjalanan naik Citilink itu bebas ‘gangguan’ pramugari seperti halnya naik Garuda. Tidak ada pembagian menu sarapan atau sekadar kue dan air mineral. Maka, lelaplah sudah saya selama hampir 1 jam itu.

Mendarat di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang saya disambut cuaca cerah nan ramah. Bandara Kota Wong Kito Galo pagi itu tak terlalu ramai penumpang. Tapi seperti pepatan orang Jawa, ramai ing gawe. Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) Alex Nurdin sibuk terus atau terus sibuk membangun kotanya. Membangun bandaranya, membangun infstruktur jalannya, membangun vanue olahraga dan sebagainya.

Maklum, sebagai tuan rumah Asian Games 2018 bersama Jakarta, Palembang akan kedatangan ribuan tamu dari seluruh negara Asian. Dan sebagai tuan rumah yang baik, patutlah menyambutnya dengan persiapan maksimal. Itulah yang tampak nyata di sepanjang jalan yang saya lalui di Kota Palembang.

Minibus penjemput saya dan assesor senior dari Jakarta, Bang Marah Sakti Siregar serta sekretaris penyelenggara UKW (Uji Kompetensi Wartawan) dari PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) pusat, Yudi Warman, yang dikemudikan Salpan, meliuk-liuk menyalip ‘ratusan’ truk pengangkut batubara dalam perjalanan menembus jarak 200 kilometer dari Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang menuju Hotel Griya Sintesa, Muara Enim Sumsel.

Truk-truk batubara itu seolah tak habisnya kami salip mendahului. “Apalagi kalau sore pak, setelah jam lima sore sampai malam, jalan ini pasti macet,” ujar Salpan yang didampingi staf humas Kabupaten Muara Enim, Noviar.

Barisan truk-truk itu memakan hampir separuh jalan utama yang menjadi akses utama dari Ibukota Sumsel itu ke beberapa kabupaten. Lajur jalan itu pun terasa semakin sempit dengan adanya proyek penggalian gas untuk perumahan. Untungnya, Salpan sangat menguasai medan sepanjang 200 kilometer itu.

Dan setelah pas 6 jam, perjalanan mobil minibus yang kami tumpangi berhenti di halaman Hotel Griya Sintesa. Hotel asri yang terletak di tengah-tengah perkampungan masyarakat. Di sinilah selama dua hari, Selasa-Rabu, 5-6 Desember 2017, saya menguji UKW. (mk/batamtoday)