Polemik Pujasera 36, Warga Sepempang Minta Ditutup

IMG_20171208_151859
Rapat dengan masyarakat

Natuna (Marwahkepri.com) – Keberadaan Pujasera 36 di desa Sepempang, kecamatan Bunguran Timur, kembali menuai protes dari warga setempat. Masyarakat meminta kepada pemerintah segera menutup warung “remang-remang” tersebut.

Ini merupakan kali kedua, warga Sepempang meminta agar Pujasera 36 ditutup. Pasalnya, acap kali terjadi keonaran dan mabuk-mabukan yang menyebabkan ketidak nyamanan.

Apalagi keberadaan Pujasera “hidung belang” tersebut, dinilai tidak membawa manfaat bagi masyarakat, justru sebaliknya membawa mudorat.

Sudah jelas, hasil rapat di ruang  kantor BPD, perangkat desa Sepempang bersama Ketua Tim Pekat Natuna Wan siswandi, Kapolsek Bunguran Timur, Danramil Bunguran Timur dan tokoh masyarakat desa, pada Rabu (6/12),

Warga dengan tegas meminta untuk segera menutup pujasera 36 tempat hiburan malam di kampung mereka.

Ketua Tim Pemberantasan Penyakit Masyarakat (Pekat), Wan Siswandi, tak bisa mengelak. Pria yang juga menjabat sebagai Sekda Natuna ini membenarkan adanya tuntutan dari warga untuk menutup Pujasera 36.

Kata Wan siswandi, penutupan Pujasera  36 ini atas desakan warga dan para tokoh masyarakat desa Sepempang, yang menginginkan tempat hiburan malam tersebut di tutup.

“Banyak alasan yang mereka kemukakan  untuk meminta pemerintah daerah menutup pujasera 36 itu. Salah satunya sering terjadi keonaran dan mabuk-mabukan yang mengakibatkan ketidak nyamanan warga setempat,”  terang Wan siswandi.

Wan siswandi juga mengakui, sebelumnya pemerintah daerah telah memberikan izin membuka tempat hiburan malam tersebut, namun dirinya selaku ketua tim Pekat juga tidak bisa

menolak ketika masyarakat mendesak untuk menutup tempat karaoke tersebut.

“Sampai saat ini kita masih melakukan koordinasi dengan seluruh pihak terkait, tentang bagaimana langkah-langkah yang baik untuk proses penutupan tempat tersebut,” ungkapnya.

Merujuk dari hasil rapat diatas, Wan siswandi menegaskan tempat tersebut memang harus segera ditutup. Namun diakuinya tidak menutup kemungkinan akan memindahkan para pengusaha hiburan malam ini ketempat yang jauh dari pemukiman warga, sehingga tidak mengganggu ketrentraman warga.

“Kami ini cuma sekedar pelayan masyarakat, ketika ada yang mengusulkan usaha tempat hiburan malam dan sesuai dengan sarat yang di tentukan, kami juga tidak bisa menolak. Tapi ya harus disesuaikanlah pada tempatnya,” tutur Wan siswandi.

Terpisah, terkait tuntutan tersebut Junaidi kepala desa Sepempang mengatakan, dirinya akan mendukung penuh permintaan warganya untuk menutup pujasera yang menjalankan usaha jual kopi, minuman bir, dan karaoke yang berada di desanya.

“Dengan adanya rapat antara desa dan pihak-pihak terkait, merupakan langkah yang tepat untuk menutup tempat tersebut, karena yang berhak menutup secara resmi adalah pihak pemerintah daerah. Dan untuk menutup pujasera ini tidak bisa ditawar-tawar lagi,” tegas junaidi.(nang)