Cerita Kades Temiang Selamatkan Uang Desa Saat Kebakaran

Kebakaran hebat yang terjadi di Kampung Cina Daik Lingga pada (28/11) dini hari.
Kebakaran hebat yang terjadi di Kampung Cina Daik Lingga pada (28/11) dini hari.

Lingga (marwahkepri.com) – Musibah kebakaran yang terjadi di Kampung Cina, Daik Lingga banyak meninggalkan cerita dimasyarakat. Beragam aksi heroik bermunculan, salah satunya cerita seorang Kepala Desa Temiang Kecamatan Senayang yang masih bisa menyelamatkan uang negara saat kebakaran terjadi.

Mendengar cerita itu, wartawan menghubungi Kepala Desa Temiang yang diketahui bernama Hamid.

Dari cerita singkatnya, dia yang menginap di penginapan Pak Tani sempat dibangun salah satu pekerja disitu karena api sudah mulai menjalar dibangunan itu. Dalam keadaan dibangun secara paksa dia mengaku panik ketika teriakan kebakaran. Sempat linglung dan terpaku sejenak, tetapi teriakan itu datang terus menerus membuat dia langsung membuka pintu.

Apa yang terjadi, saat itu api sudah mulai merambah dinding belakang bangunan. Dan bias warna merah api sudah jelas terlihat di fentilasi jendela.

“Baru perasaan tidur, sebab kami jam 12.00 malam baru balek. Sekitar setengah jam tidur. Pas dibangunkan buka pintu di WC itu sudah tampak merah,” cerita dia.

Namun keadaan panik tidaklah lama, dia bahkan sempat ingat uang sebanyak Rp200 juta yang merupakan uang gaji staff desa dan keperluan desa lainya yang baru dicairkan pihak Bank Riau Kepri.

“Saya langsung ingat duit, karena itu hak orang. Kami baru dicairkan Bank. Memang kami nginap disini dalam urusan pencarian tahap kedua,” ujar dia.

Saat itu, uang tidak berada di kamarnya melainkan dikamar sebelah tempat bendaharanya istirahat. Saat itu juga yang dia ingatkan pada bendahara hanya uang itu dengan teriakan beberapa kali.

Bendaharanyapun sigap menggapai tas berisi uang tersebut dan sempat mengapai laptop aset desa. Namun tas lainnya tidak bisa diharapkan lagi. Diapun membimbing bendaharanya turun lantai bawah. Setelah naik kedua kali api sudah membesar masuk dalam kamar. Dia cuma bisa pasrah kehilangan tas dan seragam dinas serta KTP.

“Bendara kami itu perempuan. Jadi kamar kami beda. Dapat tas itu kami langsung kebawah. Tengok orang diabwah dah sibuk membangunkan orang,” lanjut dia.

Apa yang terjadi jika uang itu terbakar, tidak bisa ia pungkiri tetap akan berurusan dengan pihak penegak hukum. Namun apa yang dilakukan dalam situasi darurat, dapat dipuji karena masih ingat uang negara itu demi kepentingan masyarakatnya.

Lebih lanjut dia ceritakan semua sudah takdir. Dengan harapan semua yang telah terjadi dapat hikmahnya, serta diberikan ketabahan khususnya para korban yang rumah dan harta benda terbakar.

“Ini ada hikmahnya. Saya juga tidak sangka api secepat itu melalap.puluhan bangunan,” terang dia. (MK/arp)