Diremehkan Program Pertaniannya, Bupati Lingga Berang

Bupati Lingga, Alias Wello (doc)
Bupati Lingga, Alias Wello (doc)

Lingga (marwahkepri.com) – Bupati Lingga, Alias Wello mengaku kecewa dan marah atas pernyataan Asisten Perekonomian dan Pembangunan Pemerintah Provinsi Kepri, Syamsul Bahrum. Pasalnya saat sambutan pejabat provinsi Kepri tersebut, pada acara Focus Discussion Group (FGD) Kebijakan Pengelolaan Pangan Beras di Daerah Perbatasan yang diadakan Kementerian Koordinator (Kemenko) Perekonomian RI di Hotel Nagoya Hill, Batam, 02 November 2017 kemarin, menyinggung dan meremehkan program pertanian Pemerintah Kabupaten Lingga yang tengah digiatkan saat ini, Jum’at (03/11).

Syamsul tak henti – hentinya melontarkan pernyataan pesimisme tentang program pertanian di Lingga. Padahal dalam FGD yang dihadiri Asisten Deputi Pangan Kemenko Perekonomian RI, Elias Payong Kerar, Kepala Bidang Konsumsi dan Cadangan Pangan, Syarifah Indah Megawati, Kepala Biro Perencanaan Kementerian Pertanian RI, Kasdi Subagyono, Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Kepri, Mizu Istianto, Kadivre Bulog Riau Kepri, Awaluddin Iqbal, sejumlah pejabat teras Kementerian dan Lembaga, serta Kepala Dinas Pertanian se-Kepri.

Pernyataan Syamsul justru beranggapan kultur masyarakat melayu yang merupakan nelayan secara turun temurun sulit diubah menjadi kultur pertanian. Karena itulah dia meragukan program pertanian yang dikembangkan Pemerintah Kabupaten Lingga. Kepesimisan itu antara bisa berhasil  seperti yang diharapkan atau malah tidak.

“Orang Jawa saja yang dasarnya petani di daerah asalnya, begitu sampai di Kepri tak ada yang mau jadi petani. Kenapa? Karena, mereka merasa status sosialnya malah tidak lebih baik,” katanya saat itu.

Mantan pejabat Pemerintah Kota Batam ini juga mencontohkan beberapa kasus kegagalan program transmigrasi di Kepri disebabkan oleh pengaruh kultur masyarakat setempat. Bahkan dia menyebutkan kasus transmigran yang didatangkan dari Jawa untuk menggarap sektor pertanian di Kabupaten Natuna dan Lingga, gagal karena mereka ikut-ikutan jadi nelayan.

Sontak pernyataan itu membuat Bupati Lingga berang. Dia saat dimintai komentarnya terkait pernyataan Syamsul tersebut, tak dapat menyembunyikan kemarahannya. Raut wajahnya langsung memerah begitu dikonfrontir dengan pernyataan Syamsul.

Dengan tegas dia mengatakan kultur masyarakat melayu bukanlah menjadi alasan penghambat berkembangnya sektor pertanian di Lingga. Pernyataan Syamsul jelas salah, kultur melayu bukanlah sesuatu haram atau mustahil untuk diubah.

“Saya kecewa dan marah. Bagaimana daerah ini mau maju kalau pejabat kita pemikirannya sempit begini,” ucap Bupati Lingga.

Dia berharap Syamsul lebih baik berdebat dengannya dari pada mengembangkan opini sesat yang dapat menghambat daya pikir dan kreatifitas masyarakat yang sedang belajar mengembangkan sektor pertanian. Bukan itu saja, bahkan dia menegaskan basicnya yang memang bukan pertanian, dan siap adu konsep dengan Syamsul Bahrum.

“Sekarang bukan saatnya bicara teori, tapi waktunya bekerja secara nyata. Saya teringat waktu zaman mahasiswa dulu, kita sering teriak berantas otak mandul. Supaya apa? Supaya kita bisa bisa berpikir jauh ke depan,” tagas dia.

Didepan itu juga Bupati Lingga manyampaikan meski tidak didukung Pemerintah Provinsi Kepri, dia mengaku bangga sebab sektor pertanian yang dikembangkannya di Lingga mampu mengangkat citra Provinsi Kepri yang selama tidak masuk dalam base pertanian nasional sejajar dengan daerah pertanian lainnya di Indonesia.Bahkan, Kementerian Pertanian tidak percaya di Lingga ada lahan pertanian.

“Waktu saya baru dilantik, saya langsung ke Jakarta minta dukungan program pertanian. Di sana saya kaget, ternyata Kepri ini tidak masuk dalam base pertanian nasional. Bahkan, Kementerian Pertanian tak percaya di Lingga ada lahan pertanian. Kenapa? Karena pada zaman itu, tidak ada pejabat yang berani bicara soal pertanian. Nah, kenapa baru sekarang dia mau bicara pertanian? Ada apa,” ucap Awe sapaan akrab Bupati Lingga ini. (MK/arp)