Pileg 2019, Peluang Pemuda Duduki Kursi Parlemen Kabupaten Lingga

Padlan (doc)
Padlan (doc)

Lingga (marwahkepri.com) – Berkembangnya wacana akan dimekarkan Daerah Pemilihan (Dapil) Senayang di Kabupaten Lingga pada Pemilu 2019 mendatang, memberi peluang besar untuk politisi-politisi baru menapak karir di kursi Parlemen DPRD Lingga. Tidak terkecuali politisi muda Kabupaten Lingga bisa memanfaatkan peluang besar ini sebagai langkah pergerakan semangat juang perkembangan daerah.

Pada pemilu 2014 silam, dimana Kabupaten Lingga masih terbagi dalam dua Dapil (Dapil I Lingga-Senayang dan Dapil II Singkep), ditubuh DPRD Lingga tidak mampu merubah 90 derajat dominasi politisi senior. Bahkan diantaranya sudah beberapa kali duduk di kursi parlemen. Dari kapasitas 20 kursi DPRD Lingga hanya beberapa saja wajah baru yang muncul menjadi anggota legislatif.

Sebetulnya ada banyak politisi muda di Kabupaten Lingga yang kompeten saat itu. Namun karena kalah pamor dan terbentur pada realitas politik yang selalu didominasi tokoh-tokoh senior, mungkin menjadi sebab masyarakat lebih dominan mengenal dan memilih politisi senior.

Tahun 2019 adalah peluang  besar politisi kalangan muda memperoleh kursi perlemen. Apalagi ada wacana akan dimekarkan Dapil Senayang dimana penambahan kursi DPRD Lingga menjadi 25 kursi. Tentu kesempatan ini menjadi kesempatan emas politisi muda mengaungkan perubahan.

Memang minim dan belum bisa ditebak saat ini pemuda yang muncul menunjukkan figur. Namun ada beberapa pemuda yang namanya bisa dimasukkan dalam dunia perpolitikan nanti. Apalagi hadirnya partai-partai baru yang berjiwa muda, sebut saja Partai Solidaritas Indonesia dan partai Perindo di Kabupaten Lingga salah satunya.

Pemuda-pemuda di Kabupaten Lingga harus menjadi agen of change. Memberikan kontribusi perkembangan dan kemajuan daerah.

Sebab, berkaca pada sejarah secara nasional pemuda memang menjadi ukuran yang urgent dalam perkembangan bangsa. Tonggak kebangkitan nasional selalu dimotori kaum muda, misalnya Boedi Oetomo 1908, Sumpah Pemuda 1928, dan masa pergerakan dan revolusi 1945-1949. Dinamika perubahan politik tahun 1965,1974 dan 1998 juga dimotori pemuda.

Di setiap lintasan sejarah itu muncul tokoh-tokoh muda yang menjadi pemimpin dimasanya. Bung Karno, Bung Hatta, Bung Sjahrir, dan Tan Malaka adalah sedikit di antara banyak nama yang berperan penting dalam pembentukan negara Indonesia.

Begitu juga di Kabupaten Lingga saat ini, pemuda harus menjadi lini terdepan yang secara pemikiran, gagasan, dan tindakan bisa diimplementasikan secara nyata. Di kancah politik, mungkin merupakan kesempatan menerapkan ide-ide cemerlang menjadi perubahan kesejahteraan masyarakat menyongsong kemajuan daerah.

Ketua Hulubalang Lingga Sejagad, Padlan mengatakan regenerasi memang sudah harus terjadi ditubuh legislatif Kabupaten Lingga. Tokoh-tokoh muda saat ini tidak lagi harus kalah pamor dari senior-seniornya. Mengingat kedepannya begitu besar peluang politisi muda untuk menjadi bagian dalam mengatur kemajuan Kabupaten Lingga. Apalagi melihat peta politik penambahan Dapil di Senayang.

“Selama Ini banyak potensi pemuda Lingga. Saatnya mereka tampil ikut andil memajukan Kabupaten Lingga ini,” kata dia, Jum’at (20/10).

Berkaca saat ini, kata dia tokoh muda yang duduk di parlemen Lingga cukup minim. Padahal kwalitas kepemimpinan dan daya saing pemuda sangat dibutuhkan untuk menduduki kursi-kursi strategis di Kabupaten Lingga, termasuk juga di instansi pemerintahan.

Jadi, inilah saatnya peluang pemuda harus bangkit dan ambil kesempatan ini demi mempejuangkan hak-hak dan kesejahteraan masyarakat untuk mampu berkompetisi dipentaskan demokrasi yang sudah terbuka lebar ini.

“Sekarang kepemimpinan pemuda itu dibutuhkan dan karena itu porsi figur muda dalam pembangunan ke depan harus diutamakan. Para figur muda, inilah saatnya menunjukkan eksistensi diri, memiliki bendera partai serta kemampuan berpolitik dan berkompetisi nanti,” ujar dia.

Demikian keunggulan pemuda akan menjadi modal utama dalam pembangunan, tidak hanya di Kabupaten melainkan secara tidak langsung dalam pembangunan nasional.

Terlebih sejak dibukanya keran demokrasi melalui Reformasi 1998, secara nasional para pemimpin muda sebenarnya sudah menancapkan kiprahnya diberbagai bidang.

Sekarang demokrasi itu sudah berjalan sekian tahunnya, kondisi ini pastinya kelak akan menciptakan persaingan sehat dan positif. Tidak hanya antara politikus muda dan tua, tapi juga kompetisi antar sesama politisi muda.

“Yang muda tidak lagi harus takut bila ingin perubahan. Sejarah telah bercerita. Jika punya tekad menjunjung kesejahteraan rakyat, maka harus mulai berjuang, bukan mengangkangi senior tapi itulah persaingan, yang pasti secara sehat,” papar dia.

Saat ini, animo masyarakat Lingga terhadap pemimpin muda sangat antusias dan itu harus realistis nantinya. Pemuda tidak lagi harus terbentur pada realitas politik yang didominasi tokoh-tokoh senior. Sebab masyarakat pemilih kalangan muda itu sangat signifikan dan pastinya punya alasan dengan kemajuan daerah.

“Masyarakat saya pikir itu memilih kalangan muda punya alasan. Pemikir muda punya jiwa yang kuat pantang menyerah dan itu harus diikuti oleh munculnya pemimpin muda,” lanjut dia.

Realitas politik kalangan tua harus meregenerasi dengan para calon pemimpin kalangan muda yang memiliki kompetensi dan berani melawan pragmatisme politik. Keberanian dan idealisme harus diwujudkan dari calon pemimpin muda. Sebab yang akan pemuda kembangkan adalah karya nyata berdasarkan kompetensi yang dimiliki.

“Inilah masanya pemuda tidak bisa hanya mengandalkan retorika. Jika berpolitik lakukan alam praktik nyata. Justru harus hadir dihadapan rakyat tidak alpa,” jelas dia.

Dia yakin pemuda Lingga banyak yang kompeten berpolitik dan tahan terhadap ujian. Politisi muda bisa bersaing bukan dengan senjata retorika ataupun hanya berdasarkan semangat juang. Lebih dari itu, para pemimpin muda dituntut mampu menunjukkan integritas, kapasitas, sekaligus rekam jejak dunia politik dan karir. Artinya harus ada prestasi dan kiprah yang menunjukkan bahwa pemuda itu mampu menjadi motor kepentingan dan kesejahteraan rakyat.

Tahun 2019 lah merupakan waktunya para pemuda Lingga harus tampil menjadi pemimpin muda yang memberikan energi positif karena dinilai lebih mampu membawa perubahan bagi daerah.

“Pemuda sebagai agen perubahan sosial. Saatnya menunjukkan figur sebagai jembatan kesejahteraan masyarakat Lingga,” ucap dia. (MK/arp)

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Your email address will not be published.