Para Sineas Batam Siap Bangkitkan Perfilman di Batam

Saat proses tanya jawab antara penonton dengan pemilik film
Saat proses tanya jawab antara penonton dengan pemilik film

BATAM (Marwahkepri.com) – Ratusan pecinta, penikmat dan pemerhati film dengan antusias menonton film yang disuguhkan oleh Kenduri Cinema Raya (KCR) di Blitz Kepri Mall, Minggu (15/10/2017).

Kenduri Cinema Raya merupakan pestanya para sineas Batam, acara ini merupakan acara ketiga kalinya mereka adakan.

Ketua panitia KCR Je Yatmoko mengatakan sebelumnya mereka telah mengadakan acara yang sama dengan nama dan genre yang berbeda seperti Cinema Raya, kemudian Kenduri Film Kepri dan yang ketiga kalinya ini Kenduri Cinema Raya.

Menurutnya, antusias masyarakat inilah yang membuat mereka ingin kembali menggelar acara pestanya para sineas.

“Ini merupakan salah satu wadah juga untuk para sineas agar bisa unjuk gigi untuk menayangkan filmnya,”ujarnya.

Dia berharap kedepannya mereka masih tetap bisa menggelar acara ini, agar para sineas yang memiliki bakat dibidang film memiliki wadah untuk disalurkan.

ngfFebrialin Kepala Dinas Pariwisata yang ikut menyaksikan film karya anak Batam ini mengatakan sangat menikmati film yang disuguhkan para sineas.

“Ini adalah awal kebangkitan Batam dalam dunia perfilman, buktinya salah satu film karya anak Batam sudah menembus pasar nasional,”ungkapnya.

Untuk itu, Febrialin mengatakan siap menjembatani para sineas untuk berkarya. Sebelumnya dia mengatakan sudah pernah mengadakan lomba film pendek dan workshop, dan dia mengakui bahwa animo pecinta film di Batam sangat tinggi.

“Kita berusaha agar tahun depan tetap menggelar acara seperti festival film pendek kemarin, dan kita juga memikirkan wadah untuk para sineas,”jelasnya.

Ada 5 film yang diputar dengan genre yang berbeda – beda dalam KCR ini, Radio Pacik Mahmud, Balung Ayam, Skizo, Sara, Undo, dan Tauladan. Film Tauladan sendiri merupakan Guest Star dalam festival “Untung Ada Polisi” yang diadakan oleh Polda Kepri.

Pajri Andika Sutradara film Radio Pacik Mahmud mengatakan awal ingin membuat film itu berawal dari kegelisahannya. Dia melihat sekarang ini Budaya Melayu di Batam sudah mulai tergerus oleh zaman, hal – hal berbau budaya mulai dilupakan dan dia juga tidak bisa memungkiri bahwa filmnya ini memang terjadi dikehidupan nyata.

Radio Pacik Mahmud bercerita tentang seorang penyiar radio berbahasa melayu yang pendengarnya merupakan bayaran dari anak penyiar tersebut agar bisa menyenangkan hati ayahnya, padahal pendengarnya memang sudah tidak ada.

“Ini merupakan cerita fiksi, namun saya saya berpendapat bahwa budaya tidak hanya disuarakan, tapi diperjuangkan,”tegasnya.

Para crew dan pemain film "Balung Ayam"
Para crew dan pemain film “Balung Ayam”

Sementara itu, film  Evy Ratnawati Syamsir berjudul Bayung Ayam juga mendapat apresiasi yang sangat tinggi dari penonton.

Evy yang biasa dipanggil bunda mengatakan film klasik melayu ini merupakan film “Trilogi”.

“Film Balung Ayam adalah film melayu klasik yang mengenalkan fashion, nanti masih ada sekuelnya, yaitu kuliner dan wisata,”ujarnya.

Menurut Bunda, kata – kata dalam film itu sangat diperhatikan agar penonton mengerti tentang film tersebut, seperti “Apa itu Tanjak”.

Untuk penggarapan film Trilogi tersebut bunda belum bisa memastikan kapan pembuatannya.(mk/mun)

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Your email address will not be published.