Akhir Kisah Cinta Terlarang Umi Kalsum dan Darwis

Istimewa
Istimewa

BATAM (Marwahkepri.com) – Persidangan  pembunuhan terhadap Umi Kalsum dengan terdakwa Darwis bin Daeng Mattemu memasuki babak baru. Dua teman terdakwa yaitu Alimudin dan Agustin dihadirkan sebagai saksi

Menurut kesaksian keduanya, terdakwa Darwis sebelum bersama dengan korban, Umi Kalsum sudah terlebih dahulu satu kamar dengan Gina di hotel City View, Batam.

”Sebelum korban, Darwis itu sudah sekamar dengan Gina. Kami juga sudah punya pasangan masing masing,”ucap Alimudin pada Majelis Hakim Pangadilan Negeri Batam. Rabu (4/10).

Kemudian, terdakwa menceritakan pada kami bahwa korban Umi Kalsum datang ke Batam bersama rekannya yang rencananya akan bekerja di Malaysia. Tapi korban enggan berangkat dan rencananya kami akan ke Tanjungpinang tetapi tidak jadi.

Sementara saksi Agustin mengatakan, menurut pengakuan terdakwa, ia sudah kenal sama korban

“Waktu itu bersama terdakwa kami sempat jalan-jalan bersama mengunakan mobil Avanza. Namun, saat korban ditemukan tewas, saya sudah pulang dan tidak mengetahui peristiwa selanjutnya,” ungkap Agustin.

Perkenalan terdakwa dengan korban berawal sejak April 2016 lalu, saat menginap di Hotel Ayani Tanjung Balai Asahan, Sumatera Utara, dimana pada saat itu terdakwa ditolong korban karena sakit dan mengalami pendarahan hidung.

Lalu pada Juni 2016, terdakwa ada pekerjaan di Medan dan menyempatkan bertemu dengan Korban Umi Kalsum di Tanjung Morawa.

“Keduanya menginap di Hotel dan melakukan layaknya hubungan suami istri. Dan dilanjutkan terdakwa menginap di rumah ibu korban Umi Kalsum, selama hari lagi,’ ujar kedua saksi.

Asmara terdakwa terus mengebu-ngebu, hingga pada bulan November 2016, terdakwa mengajak Korban Umi Kalsum menginap di Hotel City View sebelum korban berangkat ke Malaysia. Lalu pada bulan yang sama, Korban Umi Kalsum kembali dari Malaysia dan hendak ke Medan melalui Batam, lagi-lagi terdakwa mengajak Korban Umi Kalsum menginap selama dua hari di Hotel City View.

Awal petualangan cinta terlarang terdakwa mulai terbongkar Pada Februari 2017, terdakwa bercerita kepada saksi Ilyas tentang permasalahan keluarga korban Umi Kalsum dan kondisi korban Umi Kalsum yang sering menghubungi anak terdakwa yaitu Darman.

Lalu pada tanggal 15 Februari 2017, korban Umi Kalsum menelepon terdakwa untuk meminta membelikan tiket dan menjemput di Bandara Hang Nadim. Namun nasnya saat korban menelepon terdakwa berkali-kali yang mengangkat telepon adalah Istri terdakwa, yaitu saksi Norlizah.

Selanjutnya, Umi Kalsum terbang dari Medan pukul 11.30 WIB menggunakan maskapai Lion Air JT 959 dan tiba di Batam pada pukul 12.50 WIB, bersama temannya Eva. Kemudian sekitar pukul 13.20 WIB, Korban dan saksi Anita alias Eva dijemput oleh terdakwa Darwis untuk diantar ke Pelabuhan Internasional Batam Center menuju Malaysia untuk bekerja.

Dalam perjalanan menuju pelabuhan Internasional Batam Center, saksi Eva melihat dan mendengar pertengkaran antara korban dengan terdakwa. Korban Umi Kalsum akhirnya tidak mau berangkat ke Malaysia. Namun terdakwa tetap menyuruh korban berangkat karena Istrinya sudah mengetahui hubungan mereka.

Pertengkaran korban Umi Kalsum dengan terdakwa yaitu, membahas soal uang korban yang sudah habis diambil terdakwa namun terdakwa membantah dengan suara keras hingga membuat Umi Kalsum menangis.

Kemudian saksi Eva menanyakan kepada terdakwa dan dijawabnya, bahwa tanggal 15 Februari 2017 Umi Kalsum meneleponnya berkali-kali dan yang mengangkat telepon adalah istri terdakwa. Akibat telepon tersebut, istrinya marah hingga terdakwa emosi dan meluapkan emosinya pada korban.

Kemudian terdakwa bersama korban Umi Kalsum pergi untuk mencari penginapan, awalnya terdakwa mengajak Korban Umi Kalsum ke Hotel Standar namun Korban tidak mau. Terdakwa kemudian membawa Korban menuju ke Hotel City View dan tiba pada pukul 16.00 WIB.

Hubungan antara terdakwa dan korban mulai tidak harmonis, terdakwa merasa terancam dengan korban Umi Kalsum yang menuntut perhatian lebih. Sementara Istri terdakwa sudah curiga dan mengetahui hubungan terlarangnya dengan Umi Kalsum, sehingga terdakwa mempunyai dorongan yang kuat untuk menghilangkan nyawa korban.

Terdakwa menyiapkan tas ransel warna coklat dan memasukkan beberapa barang pribadi milik terdakwa antara lain sarung bermotif kotak-kotak warna coklat, untuk membantu menghilangkan nyawa korban.

Kemudian pada tanggal 17 Februari 2017 sekira pukul 22.28 WIB, terdakwa mengajak Umi Kalsum keluar jalan-jalan dengan mobil Avanza warna Abu-abu dengan Nopol BP 1849 ED menuju Hutan Baloi Kolam, dan pada saat dalam mobil, terdakwa mengambil tas warna coklat yang telah dipersiapkan terdakwa.

Dengan menggunakan bagian tali dari tas tersebut, terdakwa menjerat leher Korban Umi Kalsum dengan kuat, sehingga menyebabkan tulang belakang leher Korban Umi Kalsum patah. Untuk memastikan keadaan Korban Umi Kalsum telah meninggal dunia, terdakwa menyundutkan rokok ke lengan sebelah kiri korban.

Selanjutnya terdakwa membawa Korban Umi Kalsum dan menggantungnya dengan menggunakan sarung yang telah disiapkan milik terdakwa di pohon hutan Baloi Kolam RT.009 RW 016 Kec. Batam Kota

Terdakwa lalu kembali ke hotel, pada tanggal 18 Februari 2017 sekira pukul 00.05 WIB, dan saksi Slamet Khoirul melihat terdakwa tidak bersama korban lagi.

Penemuan mayat pun terkuak, saksi Rofinus Renggu melihat kain atau baju warna merah tergantung di dahan pohon, kemudian saksi mengajak  Florentinus untuk melihat lebih dekat dan kurang lebih jarak 20 meter terlihat sosok perempuan berbaju kaos warna merah bercelana panjang jenis jeans dan melaporkan pada ketua RT 09 yaitu saksi Timatius.

Atas kasus ini, terdakwa diancam pidana berdasarkan pasal 340 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).(mk/mk)

 

 

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Your email address will not be published.