Pak Bupati !!! Siswa di Benan Butuh Kapal Transportasi Antar Jemput

Kapal pompong transportasi antar jemput siswa didesa Benan tidak lagi dapat dimanfaatkan (doc)
Kapal pompong transportasi antar jemput siswa didesa Benan tidak lagi dapat dimanfaatkan (doc)

Lingga (marwahkepri.com) – Pemerintah Kabupaten Lingga, diharapkan menambah atau menggantikan kapal pompong transportasi angkut anak sekolah di desa Benan. Kebutuhan ini dianggap perlu karena sudah hampir tiga bulan kapal bantuan transportasi angkut anak sekitar pulau Benan tahun 2012 lalu tidak bisa lagi dimanfaatkan.

Ayit, warga Benan yang juga sebagai tekong kapal mengakui hal tersebut. Dia sampaikan sudah terhitung tiga bulan kapal bantuan yang selama ini digunakan dia untuk menjemput anak-anak di pulau-pulau sekitar Benan seperti pulau Bukit, pulau Baru, pulau Nopong, Air Kuliah dan sebagainya, tidak bisa lagi dimanfaatkannya.

Bahkan dia sendiri tidak lagi menjadi tekong sejak kapal tersebut tidak berat.

“Dah cukup lama sekitar tiga bulan bersandar. Kalau air pasang tenggelam kalau air surut nampak lah. Tak dapat langsung diperbaiki. Dah empuk semua papan papan itu. Kalaupun nak di perbaiki butuh biaya banyak,” kata dia, Jum’at (29/09).

Pak Cik Atut, Tekong Kapal pompong transportasi siswa (doc)
Pak Cik Ayit, Tekong Kapal pompong transportasi siswa (doc)

Bukan hanya itu, menurut pemaparannya pernah hampir terjadi kecelakaan laut karena memaksakan kapal pompong tersebut berlayar mengantar siswa. Pasca insiden itu dia tidak mau mengambil resiko dan memilih berhenti melayani antar jemput siswa.

Perihal ini juga telah dia sampaikan kepada pihak sekolah baik SMA Benan maupun SMP namun hingga sekarang belum ditanggapi.

Saat ini kata dia masih untung ada kapal pompong milik desa Pulau Bukit yang digunakan melayani antar jemput siswa.

Sebelumnya, dia menjelaskan dirinya sudah setahun tidak mendapat gaji dalam melakukan aktivitas tersebut. Untuk operasional saja dana yang didapatkan dari bantuan siswa, Rp 5.000 persiswa. Terkadang dia harus mengeluarkan ongkos sendiri untuk perbaikan kecil. Namun rusak berat kali ini dia mengaku tidak mampu, hingga sekarang kapal pompong tersebut terbengkalai.

“Ini dah setahun tak bergaji. Kalau dulu dapat lah dari Kabupaten Rp 300.000 perbulan. Ini tidak ada. Untuk solar itu dari siswalah, Rp 5.000 satu orang. Kalau lebih dapat lah beli rokok. Untuk rokok saja,” lanjut dia.

Dengan hal ini dia berharap pemerintah cepat tanggap. Kebutuhan kapal pompong sebagai transportasi khusus pelajar di pulau-pulau sangat diperlukan.

“Saya kalau dapat ditambah lagi. Atau diperbaiki atau diganti. Karena kesian anak-anak sekolah. Apalagi anak saya sekarang baru masuk sekolah. Rasa hati terpanggil melakukan kegiatan ini lagi walau upah tidak ada. Tapi ini kerja amal. Bagus lagi kalau di gaji macam kemarin,” harap dia.

Pantauan lapangan saat ini masih kapal pompong tersebut sudah dilepaskan dari pompong dan disimpan di rumah Ayit. Begitu juga kapal sudah tidak layak digunakan, kini tersandar dipantai. Ketika pasang kapal pompong tenggelam dan ketika surut baru kelihatan. (MK/arp)