Pengacara Sebut Ganti Rugi 1 Triliun Kepada Para Jemaah Berasal Dari Aset First Travel

Pasangan Pemilik First Travel, Anissa Hasibuan dan Andika Surachman. (net)
Pasangan Pemilik First Travel, Anissa Hasibuan dan Andika Surachman. (net)

JAKARTA (marwahkepri.com) – Sidang verifikasi tagihan dalam Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) PT First Travel yang digelar Pengadilan Niaga Jakarta Pusat, Rabu (27/8) memutuskan First Travel menyetujui ganti rugi pada korban sebesar Rp 1,002 triliun.

Putra Kurniadi selaku Pengacara First Travel yang turut hadir dalam sidang verifikasi tersebut, mengatakan asal dana ganti rugi tersebut akan berasal dari aset First Travel sendiri. Aset yang disebut Putra itu terdiri dari aset bergerak maupun tidak bergerak.

“Asal dana yang pasti dari aset kita. Aset yang saat ini masih dalam pengawasan Bareskrim. Ya sekitar, ya barang bergerak maupun tidak bergerak, ada rumah ya semua,” ucap Putra seperti dilansir detik.com.

Putra mengatakan bahwa, dana ganti rugi yang berasal dari aset pribadi maupun asset perusahaan tersebut belum tentu bisa menutupi pembayaran utang senilai Rp 1,002 triliun tersebut. Maka, ia mengatakan akan ada kerja sama dengan investor.

“Asetnya juga ada perusahaan dan pribadi. Kalau jumlah kan belum tahu, karena jumlah tidak tahu apakah 1 T apa tidak, karena ini kan mengalami kerugian terus, asetnya mungkin nggak sampai 1 T. Maka gantinya kita kerja sama dengan investor dan lain-lain,” jelas Putra.

Putra mengatakan karena ini bukan merupakan gugatan perdata murni, maka ganti kerugian dengan bentuk proposal yang akan disahkan oleh pihak pengadilan.

“Ini bukan gugatan perdata murni, jadi tidak ganti kerugian, bentuknya proposal, proposal disahkan oleh pengadilan dalam homogensinya. Itulah sebagai kesepakatan para pihak. Nah dua-duanya itu nanti kan ada voting, setelah voting ada putusan. Proposal diajukan kepada kreditur (korban penipuan umrah) seluruhnya melalui pengurus,” ucapnya.

Setelah itu, sebanyak 59.801 kreditur akan memberi tanggapannya. Mereka juga akan dimintai suara untuk setuju atau tidak dengan usulan yang ada di proposal tersebut.

“Setelah dibaca mereka tanggapannya seperti apa, dari total kreditur yang seluruhnya 59 ribu itu ada pemungutan suara apa setuju atau menolak, atau mungkin memberikan waktu kepada Debitur First Travel untuk merevisi memberikan usulan. Kita kan gini di proposal ada semua jawabannya, saat ini belum bisa kita sampaikan secara resmi. Terkait permintaan ganti rugi, jadi kita mengajukan proposal kepada pengurus kepada seluruh kreditur, bagaimana tanggapan mereka terhadap proposal itu,” tuturnya.

Sebelumnya, pihak First Travel juga berjanji akan melaksanakan semua kewajibannya pada kreditur. Pengurus yang menjebatani antara First Travel dan korban, Abdillah, juga meminta pihak First Travel membuat surat pernyatakan untuk kesanggupan pelaksanaan kewajban. (mk/as)

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Your email address will not be published.