Jumlah Kunjungan Minim, Ini Kendala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan

Sekretaris Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Lingga bersama Kabid Perpustakaan (doc)
Sekretaris Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Lingga bersama Kabid Perpustakaan (doc)

Lingga (marwahkepri.com) – Jumlah
kunjungan masyarakat Lingga ke perpustakaan daerah yang beralamat di jalan Istana Robat Daik Lingga minim. Hal ini menyatakan meski angka melek huruf masyarakat tinggi, namun minat baca dan daya baca masih rendah.

Dilihat dari daftar kunjungan dan peminjaman buku bacaan di perpustakaan daerah Kabupaten Lingga kerap tidak mencapai satu halaman, bahakna kosong tidak ada pengunjung.

Menanggapi hal ini, Kepala Bidang Perpustakaan di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Lingga, Baby Susanti mengakui hal tersebut. Namun dia katakan memang perlu adanya terobosan baru oleh pihak Dinas untuk menggali minat baca tersebut. Terobosan itu masih dalam pemikiran pihaknya.

“Peran baca itu dimulai dari keluarga, karena keluarga merupakan wadah awal ank mengenal baca tulis. Kami juga akan berupaya bagaimana buku ini bisa dikonsumsi masyarakat Lingga,” kata dia diruang kerjanya, Jum’at (22/09).

Dia katakan sejauh ini, kendala yang dihadapi mungkin karena fasilitas perpustakaan yang kurang menarik. Terutama mengenai fasilitas internet yang masih minim. Selain itu, kontur dan kebiasaan masyarakat Lingga dinilainya memang lebih memilih hak positif lain diwaktu santai ketimbang membaca.

Sementara kendala lain dinilainya, kepimilikan gadget canggih juga mempengaruhi jumlah kunjungan dan peminjaman buku di perpustakaan. Sebab diakuinya, dizaman serba canggih ini minim sekali, apalagi usia pelajar yang tidak mempunyai gadget canggih.

“Salah satu juga gadget. Memang untuk mencari kata kunci bahan untuk dibaca itu mudah, namun hasil dari membaca itu tidak membekas,” ujar dia.

Jika ingin dimaksimalkan terkait pelayanan dan upaya peningkatan, menurutnya pihak Dinas Perpustakaan dan Kearsipan sangat kurang terutama tenaga yang punya basic Arsiparis dan ilmu perpustakaan.

“Tapi kalau persediaan buku saya rasa cukup lengkap. Beragam bahan bacaan mulai Ekonomi, Agama, Sosial, Sejarah, bahkan yang berbau Novel, Cerpen dan Cerita Rakyat dan lainnya ada. Hanya saja masih minim buku cerita dan sejarah lokal,” lanjut dia.

Lanjutnya, berdasarkan data kunjungan antara perpustakaan induk yang berada di jalan Istana Robat, Daik Lingga dan perpustakaan cabang di Dabosingkep jumlah kunjungan bisa dikatakan sama. Peningkatan pengunjung terlihat di perpustakaan Induk.

“Kalau di Dabosingkep itu makin sedikit, itu karena fasilitas sekolah mereka yang lumayan lengkap. Jadi anak-anak disana memanfaatkan fasilitas sekolah,” papar dia.

Sebagai upaya awal pihaknya saat ini tidak terfokus pada perpustakaan induk. Namun lebih memanfaatkan mobil perpustakaan untuk melayani masyarakat sebagai perpustakaan keliling terutama ke sekolah-sekolah ditingkat dasar. Hal ini juga dapat mengaktifkan peran perpustakaan sekolah karena dapat terbantu dengan kehadiran buku-buku baru dari perpustakaan daerah.

Kalau ditinggatkat desa, dia katakan seharusnya wajib punya Taman Baca Masyarakat (TBM). Tetapi itu juga tergantung kemauan pihak desa.

“Kita gunakan mobil. Adanya mobil ini cukup terbantu. Sejauh ini ada 14 sekolah yang kita layani. Kita pakai sistem pinjam karena waktu istirahat siswa yang tidak memungkinkan untuk mereka baca ditempat ketika mobil berkunjung ke sekolah mereka,” terang dia.

Diketahui jumlah kunjungan di perpustakaan Lingga, daftar kunjungan tidak lebih dari 25 orang. Bahkan kerap kosong dari pengunjung. Dari daftar pengunjung juga terlihat, pengunjung monoton dari anak-anak usia pelajar. Sementara masyarakat umum sangat jarang sekali. (MK/arp)

Print Friendly, PDF & Email