Tebang Bakau Sembarang, Nelayan Kepiting Sungai Pinang Mulai Terancam

(net)
(net)

Lingga (marwahkepri.com) – Nelayan kepiting bakau desa Sungai Pinang Kecamatan Lingga Timur kembali terancam terkait maraknya penebang bakau yang tidak bertanggung jawab dengan kelestarian alam. Hal ini meraka keluhkan karena faktanya, banyak alur hulu sungai yang ditutup dengan ranting dan dahan bakau bekas tebangan, sehingga secara otomatis menutup hasil pencarian meraka yakni kepiting bakau.

Diketahui fungsi magrove ini sangat penting menjaga stabilitas ekosistem. Kenyamanan biota dan segala jenis spesies sungai masih bergantung pada asrinya lingkungan. Namun jika dilakukan penebangan mangrove dengan sikap tidak bertanggung jawab terhadap keasrian alam tentunya hal tersebut juga akan menghambat kelangsungan spesies sungai salah satunya kepiting bakau.

Pengusaha mangrove di desa Sungai Pinang dalam hal ini diminta tegas menyikapi permasalahan ekonomi ini. Meski kehadiran dapur arang diwilayah itu turut membantu ekonomi warga setempat, namun dengan perlakuan penebang bakau ini terkesan menghambat ekonomi nelayan kepiting bakau.

“Akibatnya sungai semak, terjadi abrasi dan ikan, ketam sudah mulai hilang. Kami ini peminto (nama nelayan kepiting) merasakan langsung akibat itu,” kata salah satu nelayan kepiting, Jum’at (15/09).

Nelayan kepiting bakau di wilayah itu mengaku marasakan dampak dari prilaku yang tidak bertanggung jawab tersebut.

“Sekarang warga banyak yang berkerja itu. Kalau sungai semak, ketam juga susah. Ini perlu diperbaiki penebang bakau,” kata dia.

Dia katakan dari pengamatannya sebagai nelayan kepiting yang sehari-hari harus berjibaku di sungai, hal tersebut kerap dirasakan. Penebang bakau banyak yang melalaikan pembersihan aliran sungai setelah bakau tumbang ditebang.

“Mareka jangan ambil enaknya. Kita dengan tempat yang sama mencari rezeki. Hanya beda, dia orang menebang dapat satu dua sampan. Kami juga juga berjuang mencari ketam,” lanjut dia.

Dia berharap hal tersebut dapat ditegaskan pihak pengusaha kepada anak buah yang melakukan aktivitas menebang bakau setiap hari. Terlebih Dapur Arang milik pengusaha, Ayong.

“Yang paling parah itu wilayah bakau Ayong. menjadi jadi. Bagaimana hasil pencarian kami kalau sungai semak,” papar dia.

Terkait hal ini, pihak pengusaha belum dapat dihubungi. (MK/arp)

Print Friendly, PDF & Email