Survei DPUPR-PKP Lingga Terkait IPAL, Terkesan Dikelabui Kontraktor

Pipa yang sengaja dipotong warga penerima bantuan sanitasi IPAL (Doc)
Pipa yang sengaja dipotong warga penerima bantuan sanitasi IPAL (Doc)

Lingga (marwahkepri.com) – Warga bantuan sanitasi IPAL di Kelurahan Dabo Lama, Kecamatan Singkep menilai kedatangan Tim DPUPR-PKP Kabupaten Lingga dalam rangka meninjau lokasi biang masalah terkait IPAL terkesan dikelabui pihak kontraktor. Hal ini dibuktikan, dari tinjauan kerusakan yang diajak oleh pihak kontraktor kepada DPUPR-PKP untuk dilakukan peninjauan tidak pada titik kerusakan kronis.

“Masalahnya PU hanya diajak survei ke lokasi yang masalahnya tidak seberapa, sementara lokasi bantuan yang benar-benar bermasalah tidak dikunjungi sama sekali,” ujar PK, salah satu warga penerima bantuan tersebut, Jum’at (14/07).

Dia katakan, wilayah titik-titik kerusakan kronis bantuan ini ada di RT 002 dan wilayah D RT 001. Anehnya menurut dia, pihak DPUPR-PKP yang meninjau tidak berkomunikasi lagi dengan masyarakat terkait titik kerusakan yang selama ini jadi masalah yang dikeluhkan. Sehingga kedatangan ini hanya terkesan sebuah acara kunjungan.

“Ya, supaya kelihatan di mata masyarakat umum peduli dengan permasalahan yang ada,” kata dia.

Seharusnya lanjut dia, pihak DPUPR-PKP sebagai penyedia pembangunan terlebih dulu mempertanyakan kepada masyarakat setempat terkait biang masalah. Sehingga kunjungan dan perhitungan untuk perbaikan ulang tidak lagi sia-sia.

Dia tegaskan, sebelum kunjungan bersama ini selaku warga dia yang turut memahami wilayah tersebut, juga telah menyampaikan dan memberikan solusi perbaikan. Namun pihak kontraktor menurutnya masih memandang sebelah mata.

“Wajar saja setiap kali pemasangan pipa pembuangan oleh kontraktor, masyarakat banyak memotong dengan alasan menimbulkan bau, malah sampai tercemar kerumah tetangga nya sehingga sempat juga terjadi pertengkaran suami istri gara-gara bau yang menyengat,” terang dia.

Hal ini turut dibenarkan RT 001 setempat yabh juga penerima bantuan. Menurutnya saat ini pipa atau menhol yang terpasang kurang lebih hanya 60% saja. Sementara selebihnya kesengajaan warga mencopot dikarena tidak tahan dengan dampak bau tinja.

“Malah ada beberapa buah rumah warga dari awal memang tidak di pasang oleh kontraktor tanpa tau alasan yang jelas,” ujar Wati, Ketua RT 001, Kelurahan Dabo Lama.

Sampai berita ini ditulis terkait pembenaran, pihak kontraktor belum bisa dihubungi. (mk/zul)

Print Friendly, PDF & Email