Alamak … Sekian Lama, Retribusi dan Penginapan Juga Dihutang

MUSDA II KNPI Lingga, tanggal 21-22 Oktober 2016 lalu di desa Benan Kecamatan Senayang (Doc.Keprisatu.com)
MUSDA II KNPI Lingga, tanggal 21-22 Oktober 2016 lalu di desa Benan Kecamatan Senayang (Doc.Keprisatu.com)

Lingga (marwahkepri.com) – Dari total Rp 37.727.000 hutang yang ditinggalkan panitia MUSDA II DPD KNPI Lingga kepada warga Benan, ternyata didalamnya menyangkut hutang terhadap daerah. Hal ini dibuktikan dari biaya retribusi masuk dan biaya penginapan kotek yang kini masih menjadi tagihan.

Sahlan, warga Benan selaku koordinator lapangan saat MUSDA digelar memaparkan ketidakjelasan pembayaran. Saat ini, perjuangan yang dia lakukan bukan hanya menagih hutang ibu-ibu warga terkait konsumsi. Namun terlepas dari itu upaya yang dilakukan juga menagih haknya daerah yang wajib dibayarkan panitia.

“Disitu juga menyangkut retribusi, memang jumlah tidak besar tapi secara tidak langsung mereka berhutang kepada daerah,” papar dia, yang sekian tahun berprofesi sebagai pengelola wisata Benan, Kamis (13/07).

Namun mirisnya, beberapa pergerakan yang dia lakukan demi terakomodirnya semua beban yang ditanggungnya. Keluar dari persoalan hutang warga, daerah juga mimim dalam menanggapi.
Bahkan, persoalan hutang tidak hanya kepada yang bersangkutan disampaikan, tetapi apa yang menjadi tanggungjawabnya saat ini juga telah dia sampaikan kepada Bupati Lingga beberapa waktu lalu. Tetapi, sampai saat ini masih tanda tanya.

“Hutang itu juga yang harus saya setor kepada pemkab,” kata dia.

Dia akui sejauh ini pihak pariwisata juga tidak pernah mempertanyakan masalah penghasilan daerah tersebut. Padahal masalah retribusi merupakan pendapatan daerah. Sehingga kecenderungannya, instansi yang terkait terkesan mengabaikan upaya yang dia lakukan untuk daerah. Akhirnya kata dia, timbul pertanyaan ada apakah dibalik semua ini.

“Saya tidak tau, ini siap yang harus bayar. Hutang perorang atau organisasi. Yang jelas itu gawai organisasi besar pemuda. Yang hadir juga orang-orang penting penting pemerintah. Retribusi juga tidak pernah tanya hal ini,” jelas dia.

Terlepas dari pemerintah, dia katakan pihak organisasi kepemudaan ini belum memberikan sinyal yang baik. Sampai saat ini hanya mengobralkan janji namun belum jelas kapan pembayarannya.

“Posisi saya sangat tersudut. Mereka janji akan dibayar tapi tidak tau kapan,” ujar dia.

Sampai berita ini ditulis terkait biaya retribusi dan penginapan yang dihutangkan panitia Musda, bidang destinasi belum memberikan tanggapan. Begitu juga pihak terkait hutang, masih terkesan enggan berkomentar. (mk/arp)

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Your email address will not be published.