Penyelesaian Hutang Musda II KNPI Lingga Masih Tanda Tanya

MUSDA II KNPI Lingga, tanggal 21-22 Oktober 2016 lalu di desa Benan Kecamatan Senayang (Doc.Keprisatu.com)
MUSDA II KNPI Lingga, tanggal 21-22 Oktober 2016 lalu di desa Benan Kecamatan Senayang (Doc.Keprisatu.com)

Lingga (marwahkepri.com) – Syahlan, warga desa Benan Kecamatan Senayang yang juga koordinator lapangan kegiatan MUSDA II KNPI Kabupaten Lingga mengaku sedih dan kecewa terhadap pihak yang bersangkutan terkait masalah hutang yang ditinggal. Sebab sampai hari perihal hutang tersebut belum sama sekali menuju titik penyelesaian.

Dikonfirmasi via seluler, hutang dengan jumlah Rp 37.727.000 belum ditanggapi meski hampir memasuki satu tahun pasca MUSDA II KNPI Lingga. Padahal jumlah itu, merupakan jumlah tagihan yang wajib dibayar. Sebab dianggap sebagai pengeluaran vital yang terpakai. Salah satunya biaya akomodasi kotek, retribusi jumlah pengunjung yang ditargetkan, akomodasi 30 kamar, termasuk biaya konsumsi.

“makan saja Rp 25.000 perbungkus sudah disepakati tanpa pengecualian VIP atau tidak karena sudah disepakati bersama,” ujar dia.

Namun dia sampaikan jumlah hutang itu jika dituruti akan meningkat sebab diluar dari pembiayaan lainnya seperti penyediaan sound sistem, tarian persembahan, joget dangkong, silat, biaya antar jemput rombongan provinsi, dan biaya sagu hati 10 panitia lokal yang diminta menangani masalah ketersediaan air dan listrik saat kegiatan MUSDA digelar selama lima hari. Bahkan jumlah itu juga diluar pesanan seperti gonggong dan cemilan lainnya.

“Jadi awalnya kami tidak memiliki ini itu, yang penting kegiatan berhasil. Yang kami lakukan misal seperti lampu mati seketika, kami tidak mau mikir lagi ada duit ya kami beli pakai duit kami. Seperti roti, diletakkan roti bakar habis, lampam juga habis, itu selagi saya ada duit saya bayar selagi saya mampu,” papar dia, Sabtu (08/07).

Masalah hutang ini sering kali dibicarakan kepada Erwan Bachrani yang pada saat MUSDA sebagai ketua demisioner KNPI Lingga mencakup panitia penyelenggara. Bahkan atas persoalan ini, dia akui juga pernah merasa ditipu yang bersangkutan.

“Bukan berbuih lagi. Saya pernah diakal juga. Saya pernah disuruh datang ke Daik. Katanya, kita sama-sama jumpa pak wakil bupati, saya ada proyek. Lain lagi janji sama-sama jumpa pak Huzrin Hood. Nyatanya sampai sekarang belum ada bergerak kemanapun. Kadang nomor nya ditelpon tidak aktif. Kita paham, kita anggap dia penjabatlah yang sibuk,” lanjut dia.

Selain itu, perihal ini juga sudah dimintainya pendapat kepada Saparuddin, Ketua KNPI Lingga terpilih. Sebab beberapa waktu lalu, terlaksananya MUSDA dikatakan Saparuddin sudah menitip sejumlah biaya kepada Erwan Bachrani untuk mengakomodir kegiatan.

Namun dia katakan pernyataan yang diberikan semakin membuat bingung. Sebab terkait persoalan sejumlah uang yang tidak sampai ke tangannya dari Erwan Bachrani, malah dia yang diminta menagihnya. Seharusnya, menurut dia Saparuddin bisa membantu menegaskan kemana perginya sejumlah uang yang dikatakan, dititipkannya kepada Erwan Bachrani untuk pembiayaan kegiatan. Bahkan membantu menagihnya untuk menyelesaikan persoalan hutang ini.

“Sapar juga menyinggung tentang besarnya biaya kegiatan ini. Malah dia minta bukti konkret tentang kesepakatan pengeluaran anggaran tersebut. Yang merencanakan itu kan ketua lama. Tapi saya jawab, kita di desa ini cukup dengan musyawarah saja. Terus Sapar katakan tidak bisa dipertanggungjawabkan. Jadikan saya semakin bingung,” tuturnya sedih.

Dia sampaikan sejauh ini jumlah uang yang diterimanya hanya berjumlah Rp 5 juta saja itupun saat kontrak kegiatan MUSDA berjalan. Uang itu digunakan sebagai modal menggerakkan serangkaian kegiatan.

“Tapikan mereka bukan 1 hari, melainkan 5 hari. Memang MUSDA nya itu 1 hari selesai, dari jam 8 sampai jam 3,” ucap dia.

Sampai hari ini yang membuat kecil hati dan iba yakni persoalan hutang kepada kelompok ibu-ibu penyedia konsumsi. Sepeserpun belum mereka terima atas jerih payah dan keringat dalam menyediakan makanan untuk rombongan kegiatan MUSDA.

Lebih lanjut dia katakan, sesuai dengan kenyataannya tidak ada hal lain dia tuntut kecuali diselesaikannya sejumlah hutang tersebut. Sebab sampai sekarang masalah hutang ini masih menjadi pembicaraan warga, terlebih kelompok ibu-ibu yang dilibatkan saat itu, sering bertanya kepada dirinya kapan pembayaran yang masih tertunggak tersebut dapat diselesaikan.

Diakuinya persoalan ini bukan hanya menjadi beban bagi dirinya, melainkan akan menimbulkan masalah lain, seperti krisis kepercayaan warga Benan terhadap janji baik itu organisasi maupun pemerintah.

“Dan hari ini jika Bapak Bupati sampai ke Benan. Pasti ditanya masyarakat masalah hutang ini. Sampai ke liang lahat juga saya rasa jika ini tidak terakomodir akan memberikan dampak yang luar biasa,” tutup dia. (mk/arp)

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Your email address will not be published.