Wah ! Hampir Setahun, Panitia MUSDA II KNPI Lingga Belum Tunaikan Hutang Warga Benan

Surat
Surat Permohonan Membantu Menyelesaikan Hutang KNPI Lingga dengan Masyarakat Benan, ttd (Sahlan)

Lingga (marwahkepri.com) – Hampir setahun, terhitung sejak Oktober 2016 lalu Musda DPD KNPI Kabupaten Lingga digelar di desa Benan, Kecamatan Senayang. Namun persoalan hutang yang belum diselesaikan kepada sejumlah warga di Benan, masih menjadi pembicaraan warga setempat.

Sebelumnya memang sukses Musda II DPD KNPI Kabupaten Lingga pada 21-22 Oktober 2016 lalu, diruntut dengan masalah hutang yang belum diselesaikan panitia penyelenggara Musda. Kegiatan Musda yang menelan biaya hingga Rp 100 juta modal kegiatan, sempat diberitakan beberapa waktu lalu. Namun hingga sekarang tak kunjung terakomodir oleh pihak panitia penyelenggara.

Sahlan, salah satu warga Benan yang juga sebagai koordinator lapangan saat Musda II DPD KNPI Kabupaten Lingga digelar, mengatakan hingga hari ini hutang yang dijanjikan akan segera diselesaikan belum sama sekali ada kejelasannya kapan dibayar oleh yang terkait.

Hutang tersebut mencapai angka Rp 37.727.000 yang dianggap sebagai pengeluaran yang wajib dibayar salah satunya biaya penggunaan kotek, retribusi jumlah pengunjung yang ditargetkan, akomodasi 30 kamar, serta biaya konsumsi. Bahkan jumlah itu, diluar angka penggunaan sound sistem, joget dangkong, silat dan tari persembahan.

“Untuk konsumsi itu kita sudah sepakat, makan 25.000 perbungkus baik itu VIP atau tidak karena sudah disepakati bersama. Diluar yang dipesan seperti gonggong lain lagi harganya perporsi,” papar dia via seluler, Sabtu (08/07).

Terkait hutang ini, kerap kali disampaikan kepada pihak yang bersangkutan yakni Erwan Bachrani sebagai ketua demisioner KNPI Kabupaten Lingga pada penyelenggaraan Musda. Kerap kali pula dia hanya diobralkan janji, salah satunya mengajak bersama-sama menemui wakil Bupati Lingga membicarakan masalah ini. Kerap kali juga nomor handphone yang bersangkutan dihubungi sibuk.

Selain itu, perihal ini juga pernah disampaikan kepada Saparuddin, ketua KNPI terpilih saat ini. Namun keluhnya persoalan anggaran yang sudah diberikan Saparudin ketangan Erwan Bachrani saat itu, sampai hari ini dirinya diminta untuk menagih.

“Itu kita tau Erwan merencanakan semua keperluan. Ya saya yang dimandatkan sebagai koordinator lapangan, jadi semua apa yang disuruh saya siapkan. Itu lain lagi biaya jemput ke Batam, tidak termasuk biaya antar seperti minyak, kan luar biasa itu yang buat kita sedih,” ujar dia.

Dia akui sampai sekarang masalah hutang ini masih menjadi pembicaraan warga, terlebih dikalangan ibu-ibu yang terlibat dalam penyediaan konsumsi. Kelompok ibu-ibu yang dilibatkan saat itu, sering bertanya kepada dirinya kapan pembayaran yang masih tertunggak tersebut dapat diselesaikan.

“Dan yang saya sedihkan lagi sekarang ini ibu-ibu. Sampai hari ini ibu-ibu dengan segala perlengkapan masak tadi, masih berhutang dikedai. Nah ibu-ibu sering bertanya kepada saya. Dan hutang hutang dikedai itu masih menumpuk, ibu-ibu yang dikedai belum dapat uang. Keringat mereka yang bercucuran itu belum dapat, itu untuk makan mereka juga,” tuturnya.

Saat ini yang dia harapkan adalah terakomodirnya semua hutang itu. Sebab dia mengakui persoalan ini bukan menjadi beban bagi dirinya melainkan menjadi masalah sendiri, seperti krisis kepercayaan warga Benan terhadap janji baik organisasi maupun pemerintah.

“Saya hari ini nuntut hal itu saja. Saya bukan buat proposal minta bantuan ini itu. Hanya hal itu saja yang merupakan kebutuhan haknya juga orang sini. Sampai ke liang lahat juga saya rasa jika ini tidak terakomodir akan memberikan dampak yang luar biasa,” kata dia. (mk/arp)

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Your email address will not be published.